logo blog

Kamis, 31 Januari 2013

Albani Bukan Ahli Hadis


Syaikh Albani;
'Bukan Ahli Hadis dan Penuh Kontradiksi'

Moh. Ma'ruf Khozin
Ketua LBM NU Surabaya

Kitab-kitab modern saat ini, atau kitab klasik yang ditakhrij, karya-karya tulis ilmiah, artikel-artikel dan sebagainya, serentak semuanya menggunakan hasil takhrij hadis yang dilakukan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani. Ada apa di balik gerakan ini? Sosok yang satu ini tiba-tiba melejit menjadi 'ahli hadis' tanpa tandingan bagi kalangan Wahhabi, tanpa diketahui perjalanan menuntut ilmu hadisnya dan guru-guru yang membimbingnya.

Sementara tahapan teoritik dan faktual untuk menjadi 'Ahli Hadis' amatlah rumit dan tak semudah menjadi ahli hadis gadungan. Disini saya rangkai secara sistematis pembahasan tentang tema diatas dengan didahului perihal ilmu hadis, kriteria seorang ahli hadis, ahli hadis gadungan yang menempuh jalan otodidak, dan bukti-bukti nyata kesalahan fatal ahli hadis palsu, baik dari pengikut Albani maupun dari para kritikusnya. Selamat Membaca, semoga Allah memberi manfaat dan meningkatkan kewaspadaan dalam masalah ini. Amin

Ilmu Hadis
Hadis terdiri dari dua disiplin ilmu, yaitu Ilmu Dirayat dan Ilmu Riwayat. Ilmu Dirayat lebih dikenal dengan ilmu Mushtalah Hadis yang membahas status hadis terkait sahih, hasan, dlaif atau maudlu'nya. Sementara ilmu Riwayat berkaitan dengan sanad hadis sampai kepada Rasulullah Saw. Kedua disiplin ilmu ini tidak dapat dipilih salah satunya saja bagi ahli hadis, keduanya harus sama-sama mampu dikuasai. Sebagaimana yang dikutip beberapa kitab Musthalah Hadis terkait pengakuan Imam Bukhari bahwa beliau hafal 300.000 hadis, yang 100.000 adalah sahih dan yang 200.000 adalah dlaif, maka Imam Bukhari juga hafal dengan kesemua sanadnya tersebut. (Syarah Taqrib an-Nawawi I/13).

Ilmu hadis memiliki kesamaan dengan ilmu Qira'ah al-Quran, yaitu tidak cukup dengan ilmu secara teori dari teks kitab dan tidak cukup secara otodidak, tetapi harus melalui metode 'Talaqqi' atau transfer ilmu secara langsung dari guru kepada murid dalam majlis ilmu.

Kriteria 'Ahli Hadis' Dan 'al-Hafidz'
al-Hafidz as-Suyuthi mengutip dari para ulama tentang 'ahli hadis' dan 'al-hafidz':

قَالَ الشَّيْخُ فَتْحُ الدِّينِ بْنِ سَيِّدِ النَّاسِ وَأَمَّا الْمُحَدِّثُ فِي عَصْرِنَا فَهُوَ مَنِ اشْتَغَلَ بِالْحَدِيْثِ رِوَايَةً وَدِرَايَةً  وَاطَّلَعَ عَلَى كَثِيْرٍ مِنَ الرُّوَاةِ وَالرِّوَايَاتِ فِي عَصْرِهِ, وَتَمَيَّزَ فِي ذَلِكَ حَتَّى عُرِفَ فِيْهِ حِفْظُهُ وَاشْتَهَرَ فِيْهِ ضَبْطُهُ. فَإِنْ تَوَسَّعَ فِي ذَلِكَ حَتَّى عَرَفَ شُيُوْخَهُ وَشُيُوْخَ شُيُوْخِهِ طَبْقَةً بَعْدَ طَبْقَةٍ، بِحَيْثُ يَكُوْنَ مَا يَعْرِفُهُ مِنْ كُلِّ طَبْقَةٍ أَكْثَرَ مِمَّا يَجْهَلُهُ مِنْهَا، فَهَذَا هُوَ الْحَافِظُ (تدريب الرّاوي في شرح تقريب النّواوي 1 / 11)
"Syaikh Ibnu Sayyidinnas berkata: Ahli hadis (al-Muhaddits) di masa kami adalah orang yang dihabiskan waktunya dengan hadis baik secara riwayat atau ilmu mushthalah, dan orang tersebut mengetahui beberapa perawi hadis dan riwayat di masanya, serta menonjol sehingga dikenal daya hafalannya dan daya akurasinya. Jika ia memiliki pengetahuan yang lebih luas sebingga mengetahui para guru, dan para maha guru dari berbagai tingkatan, sekira yang ia ketahui dari setiap jenjang tingkatan lebih banyak daripada yang tidak diketahui, maka orang tersebut adalah al-Hafidz" (Al-Hafidz as-Suyuthi, Syarah Taqrib I/11).

وَقَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِي إِنَّهُ سَأَلَ الْحَافِظَ جَمَالَ الدِّيْنِ الْمِزِّي عَنْ حَدِّ الْحِفْظِ الَّذِي إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ الرَّجُلُ جَازَ أَنْ يُطْلَقَ عَلَيْهِ الْحَافِظُ ؟ قَالَ يُرْجَعُ إِلَى أَهْلِ الْعُرْفِ, فَقُلْتُ وَأَيْنَ أَهْلُ الْعُرْفِ ؟ قَلِيْلٌ جِدًّا, قَالَ أَقَلُّ مَا يَكُوْنُ أَنْ يَكُوْنَ الرِّجَالُ الَّذِيْنَ يَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُ تَرَاجُمَهُمْ وَأَحْوَالَهُمْ وَبُلْدَانَهُمْ أَكْثَرَ مِنَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْرِفُهُمْ, لِيَكُوْنَ الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ, فَقُلْتُ لَهُ هَذَا عَزِيْزٌ فِي هَذَا الزَّمَانِ (تدريب الرّاوي في شرح تقريب النّواوي 1 / 11)
"Syaikh Taqiyuddin as-Subki berkata bahwa ia bertanya kepada al-Hafidz Jamaluddin al-Mizzi tentang kriteria gelar al-Hafidz. Syaikh al-Mizzi menjawab: Dikembalikan pada 'kesepakatan' para pakar. Syaikh as-Subki bertanya: Siapa para pakarnya? Syaikh al-Mizzi menjawab: Sangat sedikit. Minimal orang yang bergelar al-Hafidz mengetahui para perawi hadis, baik biografinya, perilakunya dan asal negaranya, yang ia ketahui lebih banyak daripada yang tidak diketahui. Agar mengena kepada yang lebih banyak. Saya (as-Subki) berkata kepada beliau: Orang semacam ini sangat langka di masa sekarang (Abad ke 8 Hijriyah)" (Al-Hafidz as-Suyuthi, Syarah Taqrib I/11)

Otodidak Bukan Ahli Hadis
Pengertian otodidak adalah sebagai berikut:

(الصَّحَفِيّ) مَنْ يَأْخُذُ الْعِلْمَ مِنَ الصَّحِيْفَةِ لاَ عَنْ أُسْتَاذٍ (المعجم الوسيط 1/ 508 تأليف إبراهيم مصطفى وأحمد الزيات وحامد عبد القادر ومحمد النجار)
"Shahafi (otodidak) adalah orang yang mengambil ilmu dari kitab (buku), bukan dari guru" (Mu'jam al-Wasith I/508)

يَقُوْلُ الدَّارِمِي مَا كَتَبْتُ حَدِيْثًا وَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ لاَ يُؤْخَذُ الْعِلْمُ مِنْ صَحَفِيٍّ (سير أعلام النبلاء للذهبي بتحقيق الارناؤط 8/ 34)
"Ad-Darimi (ahli hadis) berkata: Saya tidak menulis hadis (tapi menghafalnya). Ia juga berkata: Jangan mempelajari ilmu dari orang yang otodidak." (Siyar A'lam an-Nubala', karya adz-Dzahabi ditahqiq oleh Syuaib al-Arnauth, 8/34).

Syuaib al-Arnauth memberi catatan kaki tentang 'shahafi' tersebut:

الصَّحَفِيُّ مَنْ يَأْخُذُ الْعِلْمَ مِنَ الصَّحِيْفَةِ لاَ عَنْ أُسْتَاذٍ وَمِثْلُ هَذَا لاَ يُعْتَدُّ بِعِلْمِهِ لِمَا يَقَعُ لَهُ مِنَ الْخَطَأِ
"Shahafi adalah orang yang mengambil ilmu dari kitab, bukan dari guru. Orang seperti ini tidak diperhitungkan ilmunya, sebab akan mengalami kesalahan."

Al-Hafidz adz-Dzahabi berkata:

قَالَ الْوَلِيْدُ كَانَ اْلاَوْزَاعِي يَقُوْلُ كَانَ هَذَا الْعِلْمُ كَرِيْمًا يَتَلاَقَاهُ الرِّجَالُ بَيْنَهُمْ فَلَمَّا دَخَلَ فِي الْكُتُبِ دَخَلَ فِيْهِ غَيْرُ أَهْلِهِ وَرَوَى مِثْلَهَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنِ اْلاَوْزَاعِي. وَلاَ رَيْبَ أَنَّ اْلاَخْذَ مِنَ الصُّحُفِ وَبِاْلاِجَازَةِ يَقَعُ فِيْهِ خَلَلٌ وَلاَسِيَّمَا فِي ذَلِكَ الْعَصْرِ حَيْثُ لَمْ يَكُنْ بَعْدُ نَقْطٌ وَلاَ شَكْلٌ فَتَتَصَحَّفُ الْكَلِمَةُ بِمَا يُحِيْلُ الْمَعْنَى وَلاَ يَقَعُ مِثْلُ ذَلِكَ فِي اْلاَخْذِ مِنْ أَفْوَاهِ الرِّجَالِ (سير أعلام النبلاء للذهبي 7/ 114)
"Al-Walid mengutip perkataan al-Auza'i: "Ilmu ini adalah sesuatu yang mulia, yang saling dipelajari oleh para ulama. Ketika ilmu ini ditulis dalam kitab, maka akan dimasuki oleh orang yang bukan ahlinya." Riwayat ini juga dikutip oleh Ibnu Mubarak dari al-Auza'i. Tidak diragukan lagi bahwa mencari ilmu melalui kitab akan terjadi kesalahan, apalagi dimasa itu belum ada tanda baca titik dan harakat. Maka kalimat-kalimat menjadi rancu beserta maknanya. Dan hal ini tidak akan terjadi jika mempelajari ilmu dari para guru." (Siyar A'lam an-Nubala', karya adz-Dzahabi, 7/114).

Syuaib al-Arnauth juga memberi catatan kaki tentang hal tersebut:

وَلِهَذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ لاَ يَعْتَدُّوْنَ بِعِلْمِ الرَّجُلِ إِذَا كَانَ مَأْخُوْذًا عَنِ الصُّحُفِ وَلَمْ يَتَلَقَّ مِنْ طَرِيْقِ الرِّوَايَةِ وَالْمُذَاكَرَةِ وَالدَّرْسِ وَالْبَحْثِ
"Oleh karena itu, para ulama tidak memeperhitungkan ilmu seseorang yang diambil dari buku, yang tidak melalui jalur riwayat, pembelajaran dan pembahasan."

Apakah orang yang otodidak dari kitab-kitab hadis layak disebut ahli hadis? Syaikh Nashir al-Asad menjawab pertanyaan ini:

أَمَّا مَنْ كَانَ يَكْتَفِي بِاْلأَخْذِ مِنَ الْكِتَابِ وَحْدَهُ دُوْنَ أَنْ يُعَرِّضَهُ عَلَى الْعُلَمَاءِ وَدُوْنَ أَنْ يَتَلَقَّى عِلْمُهُ فِي مَجَالِسِهِمْ فَقَدْ كَانَ عَرَضَةً لِلتَّصْحِيْفِ وَالتَّحْرِيْفِ، وَبِذَلِكَ لَمْ يَعُدُّوْا عِلْمَهُ عِلْمًا وَسَمُّوْهُ صَحَفِيًّا لاَ عَالِمًا .... فَقَدْ كَانَ الْعُلَمَاءُ يُضَعِّفُوْنَ مَنْ يَقْتَصِرُ فِي عِلْمِهِ عَلَى اْلأَخْذِ مِنَ الصُّحُفِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَلْقَى الْعُلَمَاءَ وَيَأْخُذَ عَنْهُمْ فِي مَجَالِسِ عِلْمِهِمْ، وَيَسُمُّوْنَهُ صَحَفِيًّا، وَمِنْ هُنَا اشْتَقُّوْا "التَّصْحِيْفَ" وَأَصْلُهُ "أَنْ يَأْخُذَ الرَّجُلُ اللَّفْظَ مِنْ قِرَاءَتِهِ فِي صَحِيْفَةٍ وَلَمْ يَكُنْ سَمِعَهُ مِنَ الرِّجَالِ فَيُغَيِّرُهُ عَنِ الصَّوَابِ". فَاْلإِسْنَادُ فِي الرِّوَايَةِ اْلأَدَبِيَّةِ لَمْ يَكُنْ، فِيْمَا نَرَى، إِلاَّ دَفْعًا لِهَذِهِ التُّهْمَةِ (مصادر الشعر الجاهلي للشيخ ناصر الاسد ص 10 من مكتبة الشاملة)
"Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim… Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini." (Mashadir asy-Syi'ri al-Jahili 10)

Masalah otodidak ini sudah ada sejak lama dalam ilmu hadis. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari seseorang yang otodidak berikut ini:

فَإِنَّهُ (اَيْ أَبَا سَعِيْدِ بْنِ يُوْنُسَ) كَانَ صَحَفِيًّا لاَ يَدْرِي مَا الْحَدِيْثُ (تهذيب التهذيب للحافظ ابن حجر 6/ 347)
"Abu Said bin Yunus adalah orang otodidak yang tidak mengerti apa itu hadis." (Tahdzib al-Tahdzib VI/347)

Al-Hafidz Ibnu Hajar dan adz-Dzahabi memberi contoh nama lain tentang shahafi:

174 - عَبْدُ الْمَلِكِ بْنِ حَبِيْبِ الْقُرْطُبِي أَحَدُ اْلأَئِمَّةِ وَمُصَنِّفُ الْوَاضِحَةِ كَثِيْرُ الْوَهْمِ صَحَفِيٌّ وَكَانَ بْنُ حَزْمٍ يَقُوْلُ لَيْسَ بِثِقَةٍ وَقَالَ الْحَافِظُ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ سَيِّدِ النَّاسِ فِي تَارِيْخِ اَحْمَدَ بْنِ سَعِيْدِ الصَّدَفِي تَوَهَّنَهُ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنِ حَبِيْبٍ وَاِنَّهُ صَحَفِيٌّ لاَ يَدْرِي الْحَدِيْثَ (لسان الميزان للحافظ ابن حجر 4/ 59 وميزان الاعتدال للذهبي 2/ 652)
"Abdul Malik bin Habib al-Qurthubi, salah satu imam dan pengarang kitab yang banyak prasangka, adalah seorang otodidak. Ibnu Hazm berkata: Dia bukan orang terpercaya. al-Hafidz Ibnu Sayyidinnas berkata bahwa Abdul Malik bin Habib adalah otodidak yang tak mengerti hadis." (Lisan al-Mizan 4/59 dan Mizan al-I'tidal 2/652)

Begitu pula al-Hafidz Ibnu an-Najjar berkata:

عُثْمَانُ بْنُ مُقْبِلِ بْنِ قَاسِمِ بْنِ عَلِيٍّ أَبُوْ عَمْرٍو الْوَاعِظُ الْحَنْبَلِيُّ .... وَجَمَعَ لِنَفْسِهِ مُعْجَمًا فِي مُجَلَّدَةٍ وَحَدَّثَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَعْرِفَةٌ بِالْحَدِيْثِ وَاْلاِسْنَادِ وَقَدْ صَنَّفَ كُتُبًا فِي التَّفْسِيْرِ وَالْوَعْظِ وَالْفِقْهِ وَالتَّوَارِيْخِ وَفِيْهَا غَلَطٌ كَثِيْرٌ لِقِلَّةِ مَعْرِفَتِهِ بِالنَّقْلِ لاَنَّهُ كَانَ صَحَفِيًّا يَنْقُلُ مِنَ الْكُتُبِ وَلَمْ يَأْخُذْهُ مِنَ الشُّيُوْخِ (ذيل تاريخ بغداد لابن نجار 2/ 166)
"Utsman bin Muqbil bin Qasim bin Ali al-Hanbali… Ia telah menghimpun kitab Mu'jam dalam beberapa jilid dan mengutip hadis, padahal ia tidak mengetahui tentang hadis dan sanad. Ia juga mengarang kitab-kitab tafsir, mauidzah, fikih dan sejarah. Di dalamnya banyak kesalahan, karena minimnya pengetahuan tentang riwayat. Sebab dia adalah otodidak yang mengutip dari beberapa kitab, bukan dari para guru." (Dzailu Tarikhi Baghdad II/166)

Ibnu al-Jauzi dan adz-Dzahabi juga berkomentar tentang shahafi:

114 خَلاَسُ بْنُ عَمْرٍو الْهِجْرِي : يُرْوَي عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّارٍ وَأَبِي رَافِعٍ كَانَ مُغِيْرَةُ لاَ يَعْبَأُ بِحَدِيْثِهِ وَقَالَ أَيُّوْبُ لاَ يُرْوَ عَنْهُ فَإِنَّهُ صَحَفِيٌّ (الضعفاء والمتروكين لابن الجوزي 1/ 255 والمغني في الضعفاء للذهبي 1/ 210)
"Khalas bin Amr al-Hijri. Diriwayatkan dari Ali, Ammar dan Abi Rafi' bahwa Mughirah tidak memperhatikan hadisnya. Ayyu berkata: Janganlan meriwayatkan hadis dari Khalas bin Amr, karena ia otodidak." (adh-Dhu'afa wa al-Matrukin 1/255 dan al-Mughni fi Dhu'afa' 1/210)

Imam ar-Razi dan Ibnu 'Adi juga melarang mempelajari hadis dari shahafi:

بَابُ بَيَانِ صِفَةِ مَنْ لاَ يُحْتَمَلُ الرِّوَايَةُ فِي اْلاَحْكَامِ وَالسُّنَنِ عَنْهُ ... عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوْسَى اِنَّهُ قَالَ لاَ تَأْخُذُوْا الْحَدِيْثَ عَنِ الصَّحَفِيِّيْنَ وَلاَ تَقْرَأُوْا الْقُرْآنَ عَلَى الْمُصْحَفِيِّيْنَ (الجرح والتعديل للرازي 2/ 31 والكامل في ضعفاء الرجال لابن عدي 1/ 156)
"Bab tentang sifat orang-orang yang tidak boleh meriwayatkan hukum dan sunah darinya… Dari Sulaiman bin Musa, ia berkata: Janganlah mengambil hadis dari orang otodidak dan janganlah belajar al-Quran dari orang yang otodidak." (al-Razi dalam al-Jarhu wa at-Ta'dil 2/31 dan Ibnu 'Adi dalam al-Kamil 1/156)

Dengan demikian, orang yang otodidak dalam hadis yang tidak memiliki guru bukanlah ahli hadis, karya kitab-kitabnya banyak ditemukan kesalahan-kesalahan dan para ulama melarang mengutip riwayat darinya.

Syaikh Nashiruddin al-Albani yang Otodidak
Syaikh Albani awalnya adalah tukang service jam, namun ia punya semangat mempelajari hadis di Perpustakaan adh-Dhahiriyah di Damaskus. Konon setiap harinya mencapai 12 jam di Perpustakaan. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu shalat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan. Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuknya. Bahkan kemudian ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, Al-Albani makin leluasa mempelajari banyak sumber.

Sekilas biografi diatas sesuai dengan kisah berikut ini. Diceritakan bahwa ada seseorang dari Mahami yang bertanya kepada Syaikh Albani: "Apakah anda ahli hadis (Muhaddis)?" Syaikh Albani menjawab: "Ya!" Ia bertanya: "Tolong riwayatkan 10 hadis kepada saya beserta sanadnya!" Syaikh Albani menjawab: "Saya bukan ahli hadis penghafal, saya ahli hadis kitab." Orang tadi berkata: "Saya juga bisa kalau menyampaikan hadis ada kitabnya." Lalu Syaikh Albani terdiam (Baca Syaikh Abdullah al-Harari dalam Tabyin Dlalalat Albani 6).

Ini menunjukkan bahwa Syaikh Albani adalah Shahafi atau otodidak ketika mendalami hadis dan ia sendiri mengaku bukan penghafal hadis. Dalam ilmu Musthalah Hadis jika ada perawi yang kualitas hafalannya buruk (sayyi' al-hifdzi) maka status hadisnya adalah dlaif, bukan perawi sahih. Demikian juga hasil takhrij yang dilakukan oleh Syaikh Albani yang tidak didasari dengan 'Dlabit' (akurasi hafalan seperti yang dimiliki oleh para al-Hafidz dalam ilmu hadis) juga sudah pasti lemah dan banyak kesalahan.

Bahwa Albani tidak mempelajari hadis dari para ahlinya ini dibuktikan dalam kitab-kitab biografi tentang Albani yang ditulis oleh para pengikutnya seperti 'Hayatu al-Albani' karya asy-Syaibani, 'Tsabat Muallafat al-Albani' karya Abdullah bin Muhammad asy-Syamrani dan sebagainya. Pada umumnya tatkala kita membuka kitab-kitab biografi para ulama, di depan mukaddimah terdapat sejarah tentang perjalanan menuntut ilmu dan para gurunya. Namun hal ini tidak terjadi dalam buku-buku biografi Albani, justru yang disebutkan oleh pengikutnya adalah untaian kalimat miris berikut ini:

 عُرِفَ الشَّيْخُ اْلأَلْبَانِي رَحِمَهُ اللهُ بِقِلَّةِ شُيُوْخِهِ وَبِقِلَّةِ إِجَازَاتِهِ . فَكَيْفَ اسْتَطَاعَ أَنْ يُلِّمَّ بِالْعُلُوْمِ وَلاَ سِيَّمَا عِلْمِ الْحَدِيْثِ وَعِلْمِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيْلِ عَلَى صُعُوْبَتِهِ ؟ (ثبت مؤلفات الألباني لعبد الله بن محمد الشمراني 7)
"Syaikh Albani dikenal dengan sedikitnya guru dan minimnya ijazah dalam hadis. Maka bagaimana ia mampu memperdalam ilmu-ilmu, apalagi ilmu hadis dan ilmu tentang metode memberi penialaian cacat dan adil yang sangat sulit?" (Tsabat Muallafat al-Albani' karya Abdullah bin Muhammad asy-Syamrani, 7).

Ini adalah sebuah pengakuan dan pertanyaan yang tak pernah dijawab oleh muridnya sendiri?!

Kesalahan Albani Dikoreksi Para Pengikutnya
Penilaian yang bersifat obyektif adalah koreksi yang secara sadar disampaikan sendiri oleh para pengikut Albani. Abdullah ad-Dawisy yang merupakan pengikut Wahhabi memberi otokritik kepada Albani yang dinilainya sering 'tanaqudh' (kontradiksi) dan memberi 'warning' (peringatan) kepada para penelaah kitab Albani agar tidak 'tertipu' dengan penilaian Albani tentang kedhaifan hadis. Berikut pembuka komentarnya:

أَمَّا بَعْدُ : فَهَذِهِ أَحَادِيْثُ وَآثَارٌ وَقَفْتُ عَلَيْهَا فِي مُؤَلَّفَاتِ الشَّيْخِ مُحَمَّدٍ نَاصِرِ الدِّيْنِ اْلأَلْبَانِي تَحْتَاجُ إِلَى تَنْبِيْهٍ مِنْهَا مَا ضَعَّفَهُ وَلَمْ يَتَعَقَّبْهُ وَمِنْهَا مَا ضَعَّفَهُ فِي مَوْضِعٍ وَقَوَّاهُ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ وَمِنْهَا مَا قَالَ فِيْهِ لَمْ أَجِدْهُ أَوْ لَمْ أَقِفْ عَلَيْهِ أَوْ نَحْوَهُمَا ، وَلَمَّا رَأَيْتُ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ يَأْخُذُوْنَ بِقَوْلِهِ بِدُوْنِ بَحْثٍ نَبَّهْتُ عَلَى مَا يَسَّرَنِيَ اللهُ تَعَالَى . فَمَا ضَعَّفَهُ وَهُوَ صَحِيْحٌ أَوْ حَسَنٌ وَلَمْ يَتَعَقَّبْهُ بَيَّنْتُهُ وَمَا ضَعَّفَهُ فِي مَوْضِعٍ ثُمَّ تَعَقَّبَهُ ذَكَرْتُ تَضْعِيْفَهُ ثُمَّ ذَكَرْتُ تَعْقِيْبَهُ لِئَلاَّ يَقْرَأَهُ مَنْ لاَ اطِّلاَعَ لَهُ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي ضَعَّفَهُ فِيْهِ فَيَظُنُّهُ ضَعِيْفًا مُطْلَقًا وَلَيْسَ اْلأَمْرُ عَلَى مَا ظَنَّهُ (تنبيه القارئ على تقوية ما ضعفه الألباني عبدالله بن محمد الدويش 5)
"Kitab ini terdiri dari hadis dan atsar yang saya temukan dalam kitab-kitab Syaikh Albani yang memerlukan peringatan, diantaranya hadis yang ia nilai dhaif tapi tidak ia ralat, diantaranya juga hadis yang ia nilai dhaif di satu kitab tetapi ia sahihkan di kitab yang lain, juga yang ia katakan 'saya tidak menemukannya' (padahal dapat ditemukan dalam kitab-kitab hadis), dan sebagainya. Ketika saya melihat banyak orang yang mengambil keterangan dari Albani tanpa meneliti maka saya ingatkan, sesuai yang dimudahkan oleh Allah kepada saya. Maka, apa yang didhaifkan oleh Albani padahal hadis itu sahih atau hasan, maka saya jelaskan. Juga hadis yang didhaifkan Albani di satu kitab tapi ia ralat, maka saya sebutkan penilaian dhaifnya dan ralatannya tersebut. Supaya tidak dibaca oleh orang yang tidak mengerti di bagian kitab yang dinilai dhaif oleh Albani sehingga ia menyangka bahwa hadis itu dhaif secara mutlak, padahal hakikatnya tidak seperti itu." (Tanbih al-Qari', 5)

Kritik ad-Dawisy ini dipuji oleh penulis biografi Albani, asy-Syamrani, yang dinilainya memuliakan dan memiliki sopan santun kepada Syaikh Albani (Baca kitab Asy-Syamrani, Tsabat Muallafat Albani, 98).

Contoh kongkrit adalah hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud di bawah ini yang dinilai dhaif oleh Albani dalam kitab Takhrij Ahadits al-Misykat 1/660:

عن معاذ الجهني قال قال رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم  مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا ، لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا » . رواه أحمد وأبو داود . قال في تخريج أحاديث المشكاة : إسناده ضعيف ( جـ 1 ص 660) . انتهى . أقول : ليس الأمر كما قال : بل حسن أو صحيح . ولعله لم يطلع على ما يشهد له وقد ورد ما يشهد له ويقويه من حديث بريدة ... وهذا الإسناد على شرط مسلم فقد خرج لبشير بن مهاجر في صحيحه ، ورواه الحاكم وصححه . ووافقه الذهبي ، وقال الهيثمي في مجمع الزوائد (جـ 7 ص 159) : رواه أحمد ورجاله رجال الصحيح وذكر له شواهد من حديث أبي أمامة وأبي هريرة ومعاذ بن جبل . وبالجملة فالحديث أقل أحواله أن يكون حسنًا والقول بصحته ليس ببعيد والله أعلم (تنبيه القارئ على تقوية ما ضعفه الألباني 7)
Ad-Dawisy berkata: "Yang benar tidak seperti yang dikatakan Albani. Bahkan hadis ini adalah hasan atau sahih! Bisa jadi Albani tidak mengetahui hadis penguat lain (syahid) dari riwayat Buraidah yang sanadnya sesuai kriteria sahih Muslim yang disahihkan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Alhaitsami berkata dalam Majma' az-Zawaid (7/159): HR Ahmad, perawinya adalah perawi hadis sahih. Secara umum, hadis ini minimal adalah hasan, dan pendapat yang menyatakan sahih dapat diterima." (Tanbih al-Qari', 7)

Jika ad-Dawisy mampu mematahkan keilmuan Albani di bidang hadis, lalu mengapa Wahhabi masih taklid buta kepada Albani?

Abdullah bin Muhammad ad-Dawisy menilai kontradiksi Albani yang dinilainya dlaif di satu kitab tetapi ia sahihkan di kitab lain berjumlah 294 hadis. Sementara yang sebaliknya (dari sahih ke dhaif) berjumlah 13 hadis (Baca keseluruhan kitab Tanbih al-Qari'). Sebuah kesalahan fatal bagi ahli hadis yang tak pernah terjadi sebelumnya dan Albani adalah pemecah rekornya!

Dalam Shoftware kitab Maktabah asy-Syamilah yang sudah popular, terdapat sebuah kitab yang memuat ralatan atas kesalahah penilaian Albani dalam masalah hadis, anehnya kitab ini tidak disebutkan pengarangnya tetapi masuk ke dalam folder kitab-kitab Albani. Kitab tersebut bernama 'Taraju'at Syaikh Albani'. Dalam kitab tersebut memuat beberapa kesalahan Albani dengan rincian sebagai berikut: Dhaif ke sahih atau hasan sebanyak 114 hadis, sahih atau hasan ke dlaif sebanyak 71 hadis, Hasan ke sahih atau sebaliknya sebanyak 9 hadis, dlaif ke maudlu' sebanyak 6 hadis. Dengan demikian kesemuanya berjumlah 200 hadis

34 komentar

maaf kalau boleh saya tau ulama mana yg mengatakan Syaikh Nashiruddin al-Albani bukan ahli hadist?

trs yg buat artikel ini siapa? apa dia jg ahli hadist?
apa ulama2 di dunia kenal anda sbgi ulama?
artikel yg aneh..riwayat yg aneh jg

Benarkah ?

Sekarang kita lihat saja pengakuan para Ulama terhadap Syaikh Al-albani ,yang sebagian di antara Ulama itu adalah para Muhaddist ,bahkan yang berseberangan faham dengan beliau,tapi semuanya mengakui bahwa beliau seorang Muhaddist besar :

1) Doktor Yusuf Al-Qordhowi seorang Tokoh besar Jama’ah Ikhwanul Muslimin Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Muhaddits (Ahli hadits) dari negeri Syam.

2) Doktor Yusuf Al-Qordhowi Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits yang masyhur (terkenal) dari zaman dulu dengan ilmu takhrij haditsnya dan menurutku Syaikh Albaniy adalah Ulama hadits yang paling masyhur pada zaman sekarang ini dan Ulama yang spesifik dalam ilmu takhrij hadits baik dalam menshohihkan dan melemahkan hadits.


3) Syaikh Abu Faidh Ahmad bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari seorang Ahli hadits Sufi Thoriqoh Asy-Syadziliyyah Berkata: Syaikh Nashiruddin Al-Albaniy ketika hijroh ke Dimasyq Syiria dan Beliau belajar bahasa arab maka Saya menerima atas ilmu haditsnya dan sangat mengokohkannya sekali.

4) Syaikh Abu Fadhl Abdulloh bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari seorang Ahli hadits Sufi Thoriqoh Asy-Syadziliyyah Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang mengetahui ilmu hadits dengan baik sekali.


5) Doktor Syaikh Muhammad Ghozali seorang Guru besar Universitas Al-Azhar Kairo Mesir Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits dan bagi seorang yang mendalami hadits maka sesuatu yang diberikannya haq (benar).

6) Syaikh Mushthofa Az-Zarqo seorang Ahli Fiqh dan Pakar ekonomi Suriah Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits yang terkenal di Suriah.

7) Syaikh Ali-Thonthowi seorang Adib Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang lebih tahu ilmu hadits dari pada Saya, dan Saya menghormatinya karena kesungguhannya, kerajinannya serta banyak karangannya. Dan untuk masalah hadits Saya meruju kepadanya.

8) Doktor Abdul Karim Zaidan seorang Ahli Fiqh dari Suriah Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ahli hadits pada zaman sekarang ini.

9) Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Adam seorang Ulama Ahli fiqh, Ushul fiqh, dan Ahli Hadits dari Ethopia Berkata: Bahwa karya-karya Syaikh Albaniy sangat menyenangkan karena Beliau memiliki andil besar dalam pengenalan hadits-hadits shohih dan lemah, dan karya-karya yang sangat bermutu itu menjadi saksi atas apa yang Kami kemukakan. Maka, pada zaman yang telah dikuasai oleh kejahilan seperti yang kita alami sekarang ini, sedikit sekali orang yang mampu menandinginya.

10) Syaikh Abdush Shomad Syarafuddin seorang Ulama Besar hadits India Berkata: Saya pernah bersurat kepada Syaikh Albaniy yang isi suratnya adalah telah sampai kepada Syaikh ‘Ubaidillah Ar-Rohmani Rektor Universitas Salafiyyah di Benares India sebuah surat dari Majlis Fatwa di Riyadh Arab Saudi meminta penjelasan Syaikh ‘Ubaidillah tentang sebuah hadits yang redaksinya terasa aneh dan maknanya menajubkan karena berhubungan erat dengan kondisi zaman kita ini, maka semua Ulama hadits yang hadir dimajlis ini telah bersepakat untuk merujuk dan mengembalikan masalah ini kepada seorang Alim terbesar dalam ilmu hadits dizaman ini yaitu Syaikh Albaniy seorang Ulama Robbani.

11) Syaikh Abdush Shomad Syarafuddin Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ulama besar dalam ilmu hadits pada abad ini.

12) Syaikh Kamil Asy-Syarif Mantan Menteri Perwakafan dan Sekertaris Umum Majlis Islam Dunia Urusan Dakwah dan Bantuan Berkata: Syaikh Albaniy adalah sosok kepribadian seorang yang produktif, teguh, sangat berpengaruh dan menjadi suri tauladan, serta ditambah lagi dengan keikhlasannya dalam menekuni suatu ilmu. Aku selalu mengikuti karya-karyanya, semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dan menempatkannya disurga yang luas serta membalas atas ilmunya.

13) Doktor Sholih Al-‘Ubaid Sekertaris Robithoh Alam Islami Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang dihargai dan dihormati oleh kaum muslimin baik perorangan, kelembagaan, kelompok-kelompok maupun Negri-negri Islam, bahkan pernah dianugrahi hadiah dan penghargaan oleh Raja Faishol Arab Saudi atas khidmahnya yang besar dalam mempelajari hadits-hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

14) Doktor Habib Balkhujah Sekertaris Jendral Lembaga Fiqh Islam Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang sangat giat dalam berkhidmah kepada ilmu-ilmu islam, dan referensi bagi para Dosen dan para Syaikh.

15) Doktor Hamid Ahmad Ar-Rifa’i Sekertaris Umum Organisasi Konferensi Islam Berkata: Syaikh Albaniy perannya sangat besar dalam berkhidmah kepada hadits dan sunnah Rosululloh yang suci, dan Syaikh Albaniy seorang Imam Mujaddid (Reformis) dan Saya telah mendengar Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata tentang Syaikh Albaniy, bahwasanya Syaikh Albaniy adalah seorang Mujaddid abad ini dalam ilmu hadits.

16) Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi seorang Muhaqqiq Besar dan Pemimpin Jama’ah Anshor Sunnah Muhammadiyyah Mesir Berkata: Syaikh Albaniy adalah Saudara kami yang bermanhaj salaf, seorang Pembahas dan Peneliti yang cermat.

17) Syaikh Muhammad Shoffut Nuruddin Ketua Jama’ah Anshor Sunnah Muhammadiyyah Mesir Berkata: Syaikh Albaniy adalah salah seorang tokoh terdepan yang memiliki karya tulis dalam jumlah besar dan telah banyak berbuat kebaikan, kesalahan-kesalahannya tenggelam dilautan kebaikannya, ucapan-ucapan para pencela tergilas oleh ungkapan-ungkapan mereka yang dengan ikhlas dan jujur memuji keberhasilannya.

18) Lajnah Daaimah Urusan Fatwa dan Irsyad Kerajaan Arab Saudi Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang berpengetahuan luas dalam ilmu hadits dan kritikannya terhadap hadits-hadits sangat kokoh dan kuat, demikian pula dalam menghukumi keshohihan dan kelemahannya.

19) Al-‘Allaamah Sayyid Muhibbudin Al-Khotib seorang Muhaqqiq Besar Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Da’i yang mengajak manusia kepada sunnah Rosululloh dan telah mewaqofkan seluruh kehidupannya dalam upaya menghidupkan sunnah. Syaikh Albaniy adalah saudara kami yang berada ditempat yang jauh, Asy-Syaikh Abu Abdirrohman Muhammad Nashiruddin Nuh Najati Al-Albaniy.

20) Syaikh Hammad bin Muhammad Anshori seorang Ulama hadits Arab Saudi Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang berpengetahuan luas dalam ilmu hadits.

21) Syaikh Humud Tuwaijiri seorang Ahli Fiqh Berkata: Syaikh Albaniy dizaman ini adalah seorang Imam pembawa bendera sunnah dan Siapa yang mencelanya maka sama saja dengan mencela sunnah.

22) Doktor Muhammad bin Luthfi Ash-Shobbagh Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ulama besar hadits dan Ahli hadits yang paling utama pada abad ini serta hidupnya dihabiskan dalam menegakkan sunnah yang suci baik berupa Ta’lim (mengajar/khutbah), Ta’lif (menulis/mengarang), Takhrij (mengeluarkan hadits) dan Tahkik (meneliti hadits dan manuskrip). Dan Beliau seorang yang mempunyai otak yang sangat cerdas sekali dan Hafalan yang baik serta kepribadian yang kuat.

23) Syaikh Abdul Aziz Sadhan Berkata: Syaikh Nashiruddin Albaniy telah menghabiskan usianya dalam membela sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dari pemalsuan dan kedustaan. Maka, cukup baginya keselamatan aqidah yang dimiliki dan panutannya terhadap aqidah Salafush Sholih.

24) Syaikh Abdulloh Ubailan seorang Ulama hadits Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang peneliti besar yang hidup penuh dengan kezuhudan. Pada hakikatnya rangkaian kalimat-kalimat ini tidak mampu menceritakan tentang tokoh ini, seandainya Syaikh Albaniy tidak memiliki keutamaan selain sebagai seorang da’i besar yang mengajak umat kepada dakwah salafiyyah, pengamalan sunnah Rosul dan memperingati mereka dari bahaya bid’ah, maka hal itu telah cukup sebagai suatu kemuliaan baginya. Hal mana disebabkan karena Beliau hidup dan tumbuh besar bukan disebuah lingkungan yang dianggap Salafi.

25) Syaikh Abdulloh Ad-Duwaisy Berkata: sejak beberapa abad, kita tidak menemukan seorang yang menyamai Syaikh Nashiruddin Albaniy dalam menghasilkan karya tulis dalam jumlah besar dan berkualitas. Demikian pula sejak wafatnya Imam Suyuthi hingga zaman ini, belum ada seorang pun yang mengadakan pendalaman ilmu hadits sebanyak dan secermat Syaikh Nashiruddin Al-Albaniy.

26) Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Bassam seorang Ahli Fiqh, Guru besar di Masjid Al-Harom Mekkah dan Anggota Majlis Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi Berkata: Syaikh Albaniy adalah salah seorang Imam di zaman ini yang telah mengorbankan diri, jerih payah dan harta bendanya untuk berkhidmah kepada sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

27) Doktor Sholeh Fauzan seorang Ahli Fiqh dan Pakar Aqidah Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang pembela sunnah pada abad sekarang ini.

28) Syaikh Muhammad Ibrohim Alu Syaikh seorang Ahli fiqh, ushul fiqh dan Mufti Kerajaan Arab Saudi Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang memegang teguh sunnah Rosululloh dan pembela kebenaran serta penentang kebatilan.

29) Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad Al-‘Abbad Al-Badr seorang Ahli hadits, Mantan Rektor Universitas Islam Madinah dan seorang Guru besar di Masjid Nabawi Madinah Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Ulama besar yang telah berkhidmah kepada sunnah Rosululloh, aqidahnya baik, dan tidak boleh menikamnya dengan tuduhan-tuduhan yang batil.

30) Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh Alu Syaikh seorang Ahli fiqh dan Mufti Kerajaan Arab Saudi Berkata: Syaikh Albaniy adalah pembela sunnah Rosululloh di zaman ini dan salah seorang Ulama besar di abad ini yang terkenal dengan karya-karya yang banyak yang berkaitan dengan sunnah Rosul dan pengajarannya tentang sunnah. Diantara karyanya adalah Kitab ‘Irwaa’ul Gholil, Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shohihah dan Adh-Dho’ifah, serta kitab-kitab lainnya. Kami mohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar merahmatinya, mengampuninya dan menempatkannya di surganya yang luas.

31) Syaikh Ahmad bin Yahya Najmi seorang Ulama hadits dan Mufti Kerajaan Arab Saudi Berkata: Syaikh Muhammad Nashiruddin Albaniy adalah seorang Ahli hadits besar, Ulama yang terkenal, penulis karya-karya yang bermanfaat, peneliti hadits-hadits Rosululloh, bermukim di negara Suriah tepatnya di Syam, beraqidah salaf dan tidak ada seorang pun yang menandinginya dalam bidang hadits, semoga Alloh Azza wa Jalla membalas amal kebaikannya.

32) Doktor Mutafannin Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Syaikh seorang menteri urusan agama kerajaan Arab Saudi Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang mempunyai jasa besar dalam membela aqidah Salaf dan manhaj ahli hadits, memiliki karya tulis dalam jumlah besar yang berhubungan dengan khidmahnya terhadap hadits-hadits Rosululloh yang dimana Beliau telah memisahkan hadits-hadits yang shohih dari yang lemah. Pengaruhnya di dunia islam amat besar dan Beliau salah seorang Ulama umat ini yang memiliki jasa yang mulia dan sangat besar sekali. Syaikh Albaniy adalah seorang tokoh dan Ahli hadits umat ini, dengan perantaraan beliau Alloh yang maha besar dan maha tinggi memelihara agama ini serta menyebarkan sunnah Rosululloh.

33) Mutafannin Syaikh Muhammad bin Sholeh ‘Utsaimin seorang Ahli fiqh dan Ushul fiqh Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang yang sangat giat melaksanakan sunnah Rosul dan memerangi bid’ah baik dalam aqidah maupun amal ibadah. Aku mengetahui itu dari karya-karya tulisnya, Beliau memiliki banyak ilmu dalam hadits baik Riwayah (periwayatan) maupun Diroyah (mushtholahul hadits). Dan bahwasanya Alloh telah memberi manfaat kepada banyak orang dari hasil karyanya, baik berupa ilmu, manhaj serta pengarahan kepada ilmu hadits dan ini merupakan keuntungan yang besar bagi kaum muslimin. Dan sungguh Syaikh Albaniy telah menghidupkan sunnah Rosul ketika hidup dan sesudah wafatnya. Walhamdulillah.

Dan pada kesempatan yang lain Syaikh ibnu Utsaimin Berkata tentang Syaikh Albaniy sebagai seorang yang berpotensi, berpengetahuan luas serta sangat memuaskan dalam menyampaikan hujjah. Bahkan Syaikh Ibnu Utsaimin pernah melihat sebuah kaset yang termaktub di atasnya: Ahli hadits negeri syam, Muhammad Nashiruddin Albaniy, maka secara spontan Syaikh Ibnu Utsaimin Berkata: bahkan Ahli hadits pada abad ini.

34) Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i seorang Ahli hadits Yaman Berkata: yang Aku yakini dan dengannya Aku beragama kepada Alloh bahwa Syaikh Albaniy termasuk para Mujaddid (reformis) dalam agama ini yang sangat tepat baginya sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits shohih riwayat Abu Daud bahwasanya Rosululloh bersabda: ‘’Sesungguhnya Alloh mengutus kepada umat ini pada setiap seratus tahun seorang mujaddid yang memperbaharui urusan agamanya ‘’.

Dan Syaikh Albaniy Berkata: Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal telah mengisyaratkan keshohihan hadits ini sebagaimana yang dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya ‘’Siyar A’lam An-Nubala’’, jilid 10 halaman 46. dan Imam Ahmad Berkata: sesungguhnya Alloh menentukan bagi umat pada setiap seratus tahun seorang yang mengajari mereka sunnah-sunnah Rosul, membersihkan kedustaan dari apa yang disandarkan kepada Rosululloh. Maka kami melihat bahwa pada seratus tahun pertama (Mujaddid pada abad pertama) adalah Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun kedua (mujaddid pada abad kedua) adalah Asy-Syafi’i.

35) Doktor Robi’ bin Hadi Umair Al-Madkholi seorang Ahli hadits, Aqidah dan Manhaj Berkata: Syaikh Albaniy adalah seorang Imam pembawa bendera sunnah dizaman ini, Beliau telah berkhidmah kepadanya dengan menshohihkan, mendho’ifkan (melemahkan) dan meneliti para rowinya. Beliau menentang bid’ah-bid’ah dalam banyak karyanya seperti dalam Kitab: Sifat sholat nabi, Sifat haji nabi, Hukum-hukum yang berkaitan dengan jenazah dan lainnya. Pada setiap kesempatan, Beliau selalu menyinggung tentang bid’ah dan mengingatkan agar mewaspadainya, serta menjelaskan tentang sunnah-sunnah Rosululloh. Beliau berjalan di atas prinsip yang telah ditetapannya yaitu Tashfiyyah (pemurnian islam dari segala hal yang tidak islami) dan Tarbiyyah (pembinaan umat di atas islam yang murni), maksudnya tashfiyyah dan tarbiyyah adalah pemurnian sunnah dari aqidah yang bathil, bid’ah-bid’ah serta dari hadits-hadits yang lemah dan palsu, dan kemudian membina umat di atas aqidah yang murni dan hadits-hadits yang shohih.

Syaikh Albaniy adalah seorang Imam di abad ini. Karya-karyanya sangat bermanfaat bagi umat dan menjadi salah satu sumber ilmu yang paling utama dan mudah yang menghubungkan pemahaman dengan para Salafush Sholih. Jerih payahnya yang telah disumbangkan kepada islam sebagai bukti bahwa Beliau adalah seorang Imam. Beliau telah memberi andil dalam jumlah besar dalam bentuk khidmah terhadap sunnah Rosululloh. Jilidan-jilidan besar dalam jumlah yang banyak telah diwariskannya untuk umat ini dan sesuatu yang sulit bagi seseorang di zaman ini untuk menyamainya kecuali para Salafush Sholih.

Saya jadi ingin tanya ama yg nulis artikel ini? Apakah yg sudah antum lakukan untuk ilmu hadits secara keseluruhan? Taruhlah tuduhan antum itu shahih bahwa Syaikh Al-Albani belajar otodidak, namun beliau melakukan sesuatu untuk ilmu hadits, beliau menulis, beliau mengajar, dan keilmuwan beliau pun diakui oleh ulama2 besar, bukan hanya dari yang pro beliau namun jg dari yang kontra.

Nah kalo yg nulis artikel ini merasa sudah lebih besar (dan lebih pandai) dari Syaikh Al-Albani, maka buktikan dong omongan antum itu, tulislah beberapa kitab dan sebarkan ke masyarakat, nama antum aja saya ga kenal kok, boro-boro mau dikenal ama dunia. Atau jangan-jangan yg nulis artikel ini bisanya hanya copas saja ya dari situs-situs pembenci syaikh Albani tanpa mau inshaf membaca kitab-kitab beliau. Percuma pak, antum punya jabatan di NU kalo ga bisa inshof, masih mending guru ngaji saya, walau org kecil (dan dia juga asy'ari), dia bisa menghargai para ulama...

Malu pak...

komentarnya unyu unyu,,,

wah, yang komentar rame dan lucu-lucu.

Kasian Kyai Albani di sembur hingga basah muka oleh kyai utsaimin

Dia adalah Muhammad bin Sholih Al Utsamin, murid abdul Aziz bin Baz..
Dalam kitabnya, Syarh al-’Aqidah al- Wasîthiyyah (Cet. Riyadl: Dar al-Tsurayya, 2003) hal. 638 Utsaimin sangat marah kepada al-bani, sehingga Utsaimin menilai Albani tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali:
“ثم يأتي رجل في هذا العصر، ليس عنده من العلم شيء، ويقول: أذان الجمعة الأول بدعة، لأنه ليس معروفاً على عهد الرسول صلي الله عليه وسلم، ويجب أن نقتصر على الأذان الثاني فقط ! فنقول له: إن سنة عثمان رضي الله عنه سنة متبعة إذا لم تخالف سنة رسول الله صلي الله عليه وسلم، ولم يقم أحد من الصحابة الذين هم أعلم منك وأغير على دين الله بمعارضته، وهو من الخلفاء الراشدين المهديين، الذين أمر رسول الله صلي الله عليه وسلم باتباعهم.”
Terjemahnya:
“Ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid’ah, karena tidak dikenal pada masa Rasul, dan kita harus membatasi pada azan kedua saja! Kita katakan pada laki-laki tersebut: sesungguhnya sunahnya Utsman R.A adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul SAW dan tidak ditentang oleh seorang pun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (ALBANI).

Wahabi sangat ulung memutar balikkan fakta, terbukti dari komen yg lucu2 dan skenario yg di edit,,, ARTIKEL DIATAS MEMANG TEPAT MENJELASKAN SIAPA SEBETULNYA ALBANI.

Memang beda, komentar yg ilmiah adil dibandingkan dgn komentar berdasar hawa nafsu.
Wahai yg mengaku aswaja, berkomentarlah dgn akhlaq karimah, bahasa yg santun, tabayun dulu sebelum berbicara.....
Wahai yg membuat artikel, Allah menyuruh kita berbuat adil dan huznudzan,.....apakah ente sudah ketemu sama syaikh albani dan muridnya untuk crosscheck artikelmu. Bertaqwalah kepada Allah

Komen ghodul bashor penuh hawa nafsu. Komen yg berkwalitas itu komenya abu abdillah dan m rofie zein krn menyertakan data. Mhon maaf klo sy salah

Gw melihat justru dari pengikut albani.
Sepertinya ada kecenderungan enggan pake hadits tanpa ada cap "dishahihkan" albani.

Dulu Sampai terfikir ini (albani) orang ato lembaga?

Menshahihkan hadits bukan perkara sepele.

Ahirnya ketemu artikel
yg mengulas albani Albani lahir: 1333 Hijrah wafat tahun 1420 hijrah atau 1999 Masehi.

Pertanyaan baru muncul
bagaimana metode beliau menshahihkan hadits (krn rentang waktu amat jauh). Diartikel diatas menjawab pertanyaan saya.


Saran wt pengikut albani. Tolong ditelusuri pernah ga dia mengkafirkan ulama/orang lain.
Klo pernah, tinggalkan.

Sangat MERAGUKAN jika ahli hadits berlaku demikian (mudah mengkafirkan).
Landasannya apa???

yang jelas semua ulama non wahabi. untuk membuktikan kebenaran atau tidak pernyatan diatas harus menilai dengan membca kitab2 yang disebut diatas

silahkan baca https://ahlulhadist.wordpress.com/, ada historikal data dari sahabat nabi hingga ulama abad 20

Terima kasih atas penjelasannya, tolong untuk yang beda pendapat agar tidak emosi dahulu, tapi silahkan lihat karya2 beliau dan bandingkan dengan karya ulama' lain yg terpercaya, kita tdk boleh menilai atas dasar suka atau tidak suka, terima lah kenyataan yang ada, jika tidak suka atau tidak percaya tinggal ditinggal saja, jangan berkata kasar dan memaki-maki karena itu bukan akhlak yg diajarkan dalam agama Islam

Kebenaran Dari Allah. Sedangkan kesalahan dari mamusia.

Ya ,yang benci ulama
Albani dan ulama Wahabi pastilah ulama yang suka kekuburan tua,yang kepentingan bisnisnya dan eksistensinya sbg ulama sangat terganggu,padahal Isi kuburan tua itu sedang menunggu-nunggu kapan hari kiamat disegerakan?

Maaf nih para uluma dari orgsnisasi NU, jangankan lawan ulama Syekh Albani,lawan orgsnisasi Muhammadyah saja kalah telak,baik intelektualitas maupun strata ekonomi jamaahnya,kalah jauh....

1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-‘Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-‘Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;

6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;

8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.

Yang pasti albani bukan ahli hadits seperti imam bukhari dan muslim (dia bukan penghafal ) di tambah dengan ilmu otodidaknya (rentan kesalahan ). sebuah ilmu yang berasal dari otodidak masih dipertanyakan kesahikan penjelasanya.

SARAN SAYA, KITA HIDUPKAN SUNAH SAJA, JANGAN DEBAT, WAKTUNYA SHOLAT KITA SHOLAT, KALAU ADA TEMAN TETANGGA KITA TIDAK SHOLAT KITA AJAK MEREKA SHOLAT BERJAMAAH...JADI DI MASJID JANGAN DI KASIH LOGO MACAM" KASI LOGO MUHAMMAD DAN ALLOH SAJA.

apa benar antara ulama ulama wahabi mereka saling bid'ah membid'ahkan, caci mencaci, salah menyalahkan.?

Dan apa yang sudah anda lakukan terhadap umat ini selain menjadi tameng bid'ah dan mencela para ahlussunnah? Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari orang-orang seperti anda.

Hebat,cerdas dan menginspirasi.
Tapi itulah dinamika ilmu mengandung kebenaran relatif serta perubahan seiring waktu.
Menarik untuk dikaji dan dipedomani.$

Kalau yang buat artikel orang NU mah wajar aja isinya seperti ini,, semua juga tau sepak terjangnya NU yang begitu bencinya dengan manhaj salaf yang mereka gelari wahabi...... sampai kapan nih aswaja NU berhenti dari kejahilannya,, jangan sampai gelar aswaja berganti dengan ASli WArisan JAhiliyah.

setiap penilaian yg dilakukan oleh para ahli bid'ah nilai kebenarannya adalah 0 (nol).

setiap penilaian yg dilakukan oleh para ahli bid'ah nilai kebenarannya adalah 0 (nol)

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon