logo blog

Kamis, 31 Januari 2013

Benarkah Isbal Haram? (Wajib Cingkrang)


Benarkah Isbal Haram?
Benarkah Isbal Haram? Dan benarkah pula ancamannya adalah neraka?
- Amir Hamdi, Sby

Jawaban:
Berdasarkan pengertian dari Hadis, Isbal adalah memanjangkan pakaian (sarung/celana) di bawah mata kaki hingga menyentuh tanah. Hadis-hadisnya sangat banyak sekali, di antaranya:

ثلاث لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل إزاره والمنان الذى لا يعطى شيئًا إلا منة والمنفق سلعته بالحلف الكاذب (رواه مسلم رقم 106)

Ada 3 orang yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari kiamat dan tidak dibersihkan oleh Allah, serta mereka mendapat adzab yang pedih yaitu orang yang melakukan Isbal (memanjangkan pakaiannya), orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya dan orang yang bersumpah palsu atas dagangannya” (HR Muslim No 106). Dan hadis:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ (رواه البخاري رقم 5787)
“Pakaian yang dibawah mata kaki maka ada di neraka” (HR Bukhari No 5787)

Namun hadis-hadis di atas masih umum, dan terdapat sekian banyak hadis yang mentakhsis (membatasi) keumumannya. Diantaranya:

لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطرا (رواه البخاري رقم 5451 )
لا ينظر الله إلى من جر ثوبه خيلاء (رواه مسلم رقم 2085)
Allah tidak akan melihat seseorang di hari kiamat yang memanjangkan pakaiannya (Isbal) secara sombong” (HR Bukhari No 5451 dan Muslim No 2085).

Ketika Rasulullah bersabda demikian, kemudian Abu Bakar bertanya:

فقال أبو بكر إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنك لن تصنع ذلك خيلاء (رواه البخاري رقم 3465)
 Sesungguhnya salah satu sisi pakaian saya memanjang ke bawah kecuali kalau saya menjaganya? Rasulullah saw menjawab: “Kamu melakukan itu tidak karena sombong” (HR Bukhari No 3465).

Artinya Rasulullah memberi keringanan bahwa jika Isbal dilakukan tidak bertujuan sombong adalah diperbolehkan. Dengan demikian hukumnya Isbal tidak haram dan faktor keharamannya adalah “Sombong”. Maka mengangkat pakaian diatas mata kaki adalah sunah, bukan wajib. Penjelasan ini diulas oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim 1/128.

10 komentar

Bismillah...afwan ana ingin bertanya...
bila sahabat Abu Bakar khawatir jatuh kedalam sifat sombong(Sesungguhnya salah satu sisi pakaian saya memanjang ke bawah kecuali kalau saya menjaganya) namun mendapat tazkiyah langsung dari Rasululloh bahwa beliau bukan termasuk orang2 yang sombong...apakah kita berani mentazkiyah diri sendiri bahwa kita tidak sombong tatkala ISBAL...

berarti kalo hukumnya sunah orang yg pakai celana cingkrang dapat pahala dong,,dan yg bercelana cingkrang masih lebih baik dari yg isbal tapi kok kebanyakan orang malah mencibir dg sunah yg satu ini kenapa ya??

Orang mencibir karena orang yg cingkrang melakukan cingkrang dengan alasan WAJIB. Jarang/langka ada orang yg cingkrang alasannya sunah. Hampir pasti jawabannya WAJIB.
Beberapa hal yg terjadi di jaman rasulullah adalah adat orang arab. Salah satunya adalah isbal. Dulu di arab memang isbal adalah anggapan untuk orang sombong. Tapi di indonesia tidak ada adat yg menyebutkan isbal itu sombong. Jadi orang indonesia yg memanjangkannya tidak ada yg beralasan sombong

ini pendapat pribadi saya...,

di jaman buyut kita, selembar kain bisa ditukar degan pekaragan. karea pada saat itu pakaian memang sangat mahal. itu baru 100 tahunan yang lalu.
apa lagi jika itu teradi di abad ke 6. betapa berharganya pada saat itu, wajar kalo memanjangkan pakaian dianggap sombong.

kalo sekarang kan beda, pakaian melimpah dan murah...

Alhamdulillah antum setuju itu Sunnah, sehingga mari kita amalkan. Dan, ane setuju bahwa yang masuk neraka Isbal disertai sombong.

tapi biasanya yang cingkrang itu merasa wajib....bhkan sinis kpd yang tdk cingkrang..apakah itu tdk sombong...

Penampilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan Celana Setengah Betis
Perlu diketahui bahwasanya celana di atas
mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini
dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita
diperintahkan untuk menutup telapak kakinya.
Kita dapat melihat bahwa pakaian Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di
atas mata kaki sebagaimana dalam keseharian
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata :
ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﻋَﻤَّﺘِﻲ ، ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﻋَﻦْ ﻋَﻤِّﻬَﺎ ﻗَﺎﻝَ : ﺑَﻴْﻨَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻣْﺸِﻲ
ﺑِﺎﻟﻤَﺪِﻳْﻨَﺔِ ، ﺇِﺫَﺍ ﺇِﻧْﺴَﺎﻥٌ ﺧَﻠْﻔِﻲ ﻳَﻘُﻮْﻝُ : ‏« ﺍِﺭْﻓَﻊْ ﺇِﺯَﺍﺭَﻙَ ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﺃَﻧْﻘَﻰ‏» ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫُﻮَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘُﻠْﺖُ
: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻫِﻲَ ﺑُﺮْﺩَﺓٌ ﻣَﻠْﺤَﺎﺀُ ‏) ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﺃَﻣَّﺎ ﻟَﻚَ
ﻓِﻲَّ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ؟ ‏» ﻓَﻨَﻈَﺮْﺕُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺇِﺯَﺍﺭَﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﻧِﺼْﻒِ ﺳَﺎﻗَﻴْﻪِ
Saya pernah mendengar bibi saya
menceritakan dari pamannya yang berkata,
“Ketika saya sedang berjalan di kota Al
Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di
belakangku berkata , ’Angkat kainmu, karena
itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang
berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Aku berkata , ” Sesungguhnya
yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah
yang bergaris-garis hitam dan putih”. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apakah engkau tidak menjadikan aku
sebagai teladan?” Aku melihat kain sarung
beliau, ternyata ujung bawahnya di
pertengahan kedua betisnya .” (Lihat
Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah , hal.
69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan.
Beliau katakan hadits ini shohih)
Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah memegang salah satu atau kedua
betisnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻫَﺬَﺍ ﻣَﻮْﺿِﻊُ ﺍﻹِﺯَﺍﺭِ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺑِﻴْﺖَ ﻓَﺄَﺳْﻔَﻞَ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺑِﻴْﺖَ ﻓَﻼَ ﺣَﻖَّ
ﻟِﻺِْﺯَﺍﺭِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﻴْﻦِ
“Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak
suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka
juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak
dibenarkan kain tersebut menutupi mata
kaki. ” (Lihat Mukhtashor Syama’il Al
Muhammadiyyah , hal.70, Syaikh Al Albani
berkata bahwa hadits ini shohih)
Dari dua hadits ini terlihat bahwa celana Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di
atas mata kaki sampai pertengahan betis.
Boleh bagi seseorang menurunkan celananya,
namun dengan syarat tidak sampai menutupi
mata kaki. Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam adalah sebagai teladan terbaik bagi kita
dan bukanlah professor atau doctor atau
seorang master yang dijadikan teladan. Allah
Ta’ala berfirman,
ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ
ﻳَﺮْﺟُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺂَﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah. ” (QS. Al Ahzab [60] :
21)

Para ulama terjadi perbedaan pendapat tentang isbal, ada yg menghramknxa dan ada yg memperbolhkanxa dgn tdk sombong, adapun yg memakai isbal silahkn, yg memkai jingkrang silahkn, tp isbal itu akan membawa kepada kesombongan,
contoh anda maubeli tanah, tp anda tau tuh klw tanah itu tanah sengketa, tp anda liat tanah itu posisinxa mungkin bagus karna di depan jalan, maka anda tetap membelinxa, adapun sebentar nanti tdk punya resiko ya sukur, tp klw punxa resiko tanggung sendiri, sdh taw klw isbal itu di perdebatkn para ulama anda tetap melakukanxa

Penjelasan artikelnya lucu hadits kok dipotong2 khususnya hadits abu bakr , di ambil yg sesuai hawa nafsunya aja... Rasulullah mengatakan abu bakr bkn termasuk org yg sombong krna Beliau melihat keadaan abu bakr yg sdh berusaha menjaga pakaiannya yg menjulur kebawah... Lah kita liat org2 zaman skrng apa sprti abu bakr tentu tidak... Hal yg tidak di sengaja itu di lakukan tidak terus menerus beda dngn yg di sengaja mka yg di sengaja itu lh yg di larang dalam hal ini!

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon