logo blog

Kamis, 31 Januari 2013

Kriteria Aliran Sesat


Kriteria Aliran Sesat
Moh Ma’ruf Khozin

Majlis Ulama Indonesia (MUI) dalam Rapat Kerja Nasional tahun 2007 di Jakarta telah memutuskan kriteria-kiteria aliran sesat, hal ini sebagai respon atas maraknya aliran-aliran baru dalam Islam dan diprediksi akan terus bermunculan, sehingga fatwa tersebut dapat dijadikan acuan bagi umat Islam untuk menghindari aliran menyimpang tersebut. 
MUI terlebih dahulu mendefinisikan pengertian 'Sesat' (dlalal), bahwa yang dimaksud 'Sesat' adalah: "Melakukan penyimpangan dari ajaran yang bersifat qath’i (pasti) dengan disertai keyakinan". Sementara ketika melakukan sebuah pelanggaran atas ketentuan (meninggalkan perintah/melaksanakan larangan) tanpa diikuti dengan keyakinan, disebut maksiat bukan 'Sesat'.

10 Kriteria Aliran Sesat
1. Mengingkari salah satu rukun Iman/Rukun Islam
Sebagaimana firman Allah yang artinya: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa" (QS Al-Baqarah : 177)

Juga berdasarkan Hadits-Hadits Rasulullah tentang Iman dan Islam yang diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih.

2. Meyakini aqidah atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dalil syar’i
Sebagaimana firman Allah yang artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”. (Q.S. Al-Hasyr: 7)

Juga sabda Rasulullah Saw: "Man 'amila 'amalan laisa 'alaihi amruna fa huwa raddun", artinya: “Barang siapa  mengerjakan  perbuatan  (dalam agama) yang tidak ada di dalamnya  perintahku, maka tertolak”

seperti ritual-ritual penyembahan untuk jin dan syetan. Sementara yang terkait masalah furu'iyah (tatacara beribadah) yang tidak menyimpang dari dalil-dalil agama, tidak termasuk dalam kategori sesat, tapi ranah ijtihadiyah.

3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an
Sebagaimana firman Allah yang artinya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al-Ma’idah: 3). Seperti Ahmadiyah yang meyakini kitab 'Tadzkirah' sebagai kitab wahyu bagi mereka

4. Mengingkari otentisitas/kebenaran wahyu
Sebagaimana firman Allah yang artinya: "Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa" (QS. Al-Baqarah: 2)

Dan firman Allah yang artinya:"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (QS. Al-Hijr: 9)

5. Melakukan Penafsiran Al-Qur’an tidak berdasarkan kaidah ilmu tafsir
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw: "Man qala fil Qur'an bi Ro'yihi fal watabawwa' maq'adahu finnari", artinya: “Barang siapa berbicara tentang al-Qur’an hanya berdasarkan nalar (pendapat) nya saja maka hendaklah dia mempersiapkan kedudukannya di neraka” HR al-Turmidzi (No. 2875)

Hal ini menegaskan bahwa tidak semua orang berhak menafsirkan al-Quran. Maka jika menafsirkan al-Quran tanpa dasar ilmu akan memunculkan pemahaman yang tidak sejalan dengan Islam, seperti penafsiran liberal bahwa semua agama sama, nikah beda agama dan sebagainya.

6. Mengingkari al-Hadits sebagai sumber Hukum
Sebagaimana firman Allah yang artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”. (Q.S. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa Hadis Rasulullah adalah sebuah sumber hukum dalam Islam, selain itu hadis juga sebagai penjelas dari al-Quran. baik hadis tersebut diriwayatkan secara massal (mutawatir), atau perorangan (ahad), dengan catatan hadis tersebut berstatus sahih. sementara hadis dlaif diperbolehkan dalam hal-hal keutamaan beramal shaleh.

7. Melecehkan/merendahkan nabi
Sebagaimana firman Allah yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”  (al-Ahzab: 57)

8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir
Sebagaimana firman Allah yang artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. Al Ahzab : 40)

Juga Hadis Rasulullah Saw: "Inna ar-risalata wa an-nubuwwata qad inqatha'at fa la rasula ba'di wa la nabiyya", artinya: “Sesungguhnya Kerasulan dan kenabian sudah terputus, Maka tidak ada rasul maupun nabi sesudahku” (HR Turmudzi dan Ahmad)

9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang ditetapkan syari’at
Sebagaimana firman Allah yang artinya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al-Ma’idah: 3)

10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw: "Idza Kaffara ar-rajulu akhahu fa qad ba'a biha ahaduhuma", artinya: “Apabila seorang mengkafirkan saudaranya, maka ucapannya itu benar-benar kembali kepada salah satunya" (HR Bukhari)

Dan sabda beliau: "Kaffu 'an ahli Lailaha illallah, la tukaffiruhum bi dzanbin. fa man kaffara ahla Lailaha illallah fa hua ila al-kufri aqrabu", artinya: “Menghindarlah dari umat Islam yang mengucapkan kalimat tauhid ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Jangan kau hukumi kafir lantaran mereka melakukan sebuah dosa. Barangsiapa yang mengkafirkan mereka, maka dia lebih dekat dengan kekufuran” (HR. Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir No. 12912 dari Ibnu Umar)

Dampak Aliran Sesat
Munculnya aliran sesat sangat mengkhawatirkan, mereka sudah pasti dapat merusak Aqidah /ushulus syari’ah, pelecehan terhadap agama (pentingnya sholat sebagai tiang agama misalnya), merusak citra Kyai, ulama dan pondok pesantren, kemungkinan skenario besar untuk menghancurkan Islam, melanggar HAM, memicu anarkisme, merusak ukhuwah Islamiyah, menggangu stabilitas dan sebagainya.  

Karena faktor-faktor inilah aliran sesat dan pengikutnya layak untuk diberi hukum sebagai bentuk penistaan agama seperti dalam KUHP Pasal 156 a. Sebagaimana dahulu Sayidina Abu Bakar memerangi kelompok Murtad yang keluar dari Islam setelah Rasulullah wafat, atau memerangi sebagian umat Islam yang tidak mau mengeluarkan zakat. Dengan ditegakkannya hukum yang yang berlaku inilah, umat Islam akan dengan tenang menjalankan syariat agamanya.

1 komentar:

Berdasarkan point 10 bearti jelas sudah kalau kelompok salafy adalas Sesat, lagi menyesatkan org awam yang ingin belajar agama dan sdh banyak korbannya.

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon