logo blog

Kamis, 31 Januari 2013

Ziarah Ke Makam Rasulullah Saw


Ziarah Ke Makam Rasulullah Saw
(Bekal Bagi Para Calon Jama’ah Haji )
Moh. Ma'ruf Khozin
(Ketua LBM NU Sby)

Hampir tiba bagi sebagian umat Islam untuk melakukan ibadah haji tahun 2012 ini. Sebagai salah satu bekal pemantapan amaliyah adalah anjuran dan dalil-dalil tentang ziarah ke makam Rasulullah Saw, dan meluruskan pemahaman dalil yang selama ini dijadikan sebagai dalil larangan ziarah ke makam Rasulullah Saw.
 Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan di dalam kitabnya, Asy-Syifa bita’rifi Huquqil Mushthafa (II/83) : “Berziarah ke makam Rasulullah saw merupakan perilaku kaum muslimin yang sudah disepakati kebolehannya dan merupakan amal utama yang dianjurkan. Diriwayatkan dengan sanad muttashil dari Ibnu Umar ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : "Man zarani fil madinati muhtasiban kana fi jiwari wa kuntu syafi'an lahu yaumal qiyamati". Artinya: “Barangsiapa yang menziarahiku di Madinah dengan niat ingin memperoleh pahala, maka ia berada di dekatku dan aku akan memberinya syafaat pada hari kiamat”. HR al-Baihaqi sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-'Ajluni dalam Kasyf al-Khafa' II/251
Rasulullah saw bersabda: "Man zarani ba'da mamati fa ka annama zarani fi hayati". Artinya: “Siapa saja yang menziarahiku setelah wafatku, seolah-olah ia menziarahiku semasa hidupku” (HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir No 13314 dan al-Ausath. al-Haitsami berkata: di dalam sanadnya ada Aisyah binti Yunus. Saya tidak temukan biografinya)
Hanya saja, ada segelintir orang yang melarang ziarah ke makam Rasulullah saw. Mereka menyusun berbagai buku karangan tentang persoalan ini dan berfatwa kepada umat Islam bahwa mengadakan wisata ziarah ke makam beliau saw tidak diperbolehkan, sedangkan wisata ziarah dalam rangka mengunjungi Masjid beliau untuk melakukan shalat di sana diperbolehkan.
Dalil satu-satunya yang mereka tonjolkan pada setiap karya tulis dan fatwa mereka adalah sabda Rasulullah saw yang artinya: “Janganlah kamu bersusah payah mengadakan wisata ziarah kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid-ku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha” (HR  Bukhari, Muslim dan selainnya).
Hadis ini tidak dapat dijadikan dalil larangan  ziarah ke makam Rasulullah Saw. Hal ini berdasarkan takhsis dari dua hadis. Pertama riwayat Ahmad (III/471) dari Abu Said al-Khudri bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Seharusnya bagi pengendara tidak melakukan perjalanan ke suatu masjid untuk melaksanakan salat disana, selain masjid al-Haram, masjid al-Aqsha dan masjidku". Al-Hafidz Al-Haitsami berkata: "Di dalam sanadnya terdapat Syahr bin Hausyab, hadisnya hasan" (Majma' az-Zawaid IV/7). Al-Hafidz Ibnu Hajar juga menilainya hasan dalam Fathul Bari III/65
Kedua, hadis riwayat al-Bazzar dari Aisyah, Rasulullah Saw bersabda: "Aku adalah penutup para Nabi, dan masjidku adalah penutup masjid-masjid para Nabi. Dan yang paling berhak didatangi adalah masjid al-Haram dan masjidku…." (Baca Majma' az-Zawaid IV/7 karya al-Hafidz al-Haitsami)
Jika larangan wisata religi (ziarah) sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadis di atas adalah bersifat umum, maka akan melahirkan beberapa konsekwensi hukum sebagai berikut  sebagaimana yang dijelaskan al-Hafidz Ibnu Hajar (Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari IV/190):
1) Tidak boleh bepergian di muka bumi dalam rangka ber-i’tibar (belajar), memberi / mencari nasehat dan sejenisnya. Sementara Allah swt didalam kitab suci-Nya memerintahkan agar melakukan bepergian semacam ini dan menganjurkannya tidak hanya dalam satu ayat dari KitabNya.
2) Tidak boleh bepergian dalam rangka shilaturrahim (menyambung tali persaudaraan), mengunjungi saudara kita yang jauh tempat tinggalnya, sementara shilaturrahim sangat dianjurkan dan diperintahkan Allah.
3) Tidak boleh bepergian dalam rangka melakukan jihad fi sabilillah, berdakwah menyebarkan syariat Islam, atau menegakkan keadilan di kalangan manusia.
4) Tidak boleh bepergian dalam rangka berdagang mencari penghidupan dan menyelesaikan urusan duniawi di manapun tempat di dunia.
5) Tidak boleh bepergian dalam rangka mengunjungi Rasulullah saw semasa beliau masih hidup. Padahal, banyak orang yang sengaja datang dari pelosok negeri untuk ziarah kepada beliau. Rasulullah saw mengingatkan hal ini didalam sabdanya : "Man hajja fa zara qabri ba'da wafati fa ka annama zarani fi hayati". Artinya: “Barangsiapa beribadah haji, lalu ia menziarahi makamku setelah wafatku, seolah-olah ia menziarahiku semasa hidupku”. (HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir No 13315 dan al-Ausath No 3376. al-Haitsami berkata: di dalam sanadnya ada Hafs bin Abi Dawud al-Qari', ia dinilai terpercaya oleh Ahmad dan dinilai dlaif oleh imam yang lain)
6) Para ulama sejak generasi pertama Islam sampai sekarang ini tentu patut dipersalahkan, disebabkan mereka menuliskan beberapa bab dan fasal dalam kitab-kitab mereka tentang persoalan menziarahi makam beliau saw disertai dengan anjuran dan adab sopan santun dalam berziarah.
Sabda Rasulullah Saw: "Man zara qabri wajabat lahu syafaati". Artinya: “Barangsiapa yang menziarahiku, maka ia berhak memperoleh syafaatku” (HR al-Daruquthni No 2695 dan al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 3862)
Rasulullah saw bersabda lagi : "Man ja-ani za-iran la yahmiluhu hajatun illa ziyarati kana haqqan an akuna lahu syafian yaumal qiyamati". Artinya: “Barangsiapa yang menziarahiku, ia tidak memiliki hajat dan tujuan selain sekedar berziarah, maka ia berhak untuk aku beri syafaat pada hari kiamat”. (HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Ausath No 4546 dan al-Kabir No 12971. al-Haitsami berkata: di dalam sanadnya ada Maslamah bin Salim, ia dlaif).
Orang yang menyuruh manusia agar tidak menziarahi pemuka dan pensuci seluruh makhluk, yakni  Rasulullah saw, sebenarnya tidak menyadari, bahwa apa  yang ia lakukan tersebut merupakan usaha menghalangi antara hamba Allah (manusia) dan rahmat-Nya, disebabkan Rasulullah saw merupakan pembawa rahmat bagi makhluk seluruh alam. Hal ini bertentangan dengan sabda Beliau : "Man hajja wa lam yazurni fa qad jafani". Artinya: “Barangsiapa yang berhajji dan ia tidak menziarahiku, ia benar-benar berpaling dariku”. (HR Ibnu Hibban dalam adl-Dlu'afa' III/73. Al-Hafidz as-Suyuthi berkata: "Ibnu al-Jauzi memasukkannya dalam kitab al-Maudlu'at (kumpulan hadis palsu). Hal ini tidak benar" (al-Jami' al-Kabir No 4728)
Beliau saw bersabda lagi : "Ma min ahadin min ummati lahu sa'atun tsumma lam yazurni fa laisa lahu 'udzrun" Artinya: “Tiada seorang pun dari umatku yang memiliki kesempatan (tersedianya dana, tenaga, dll) kemudian ia tidak menziarahiku, maka tidak ada alasan baginya (untuk menghindar)”. (HR Ibnu an-Najjar dalam Tarikh al-Madinah dari Anas (al-Mughni / Takhrij Ahadits Ihya Ulumiddin, al-Hafidz al-Iraqi I/210)
Para ulama ahli hadis, seperti al-Hafidz Ibnu Hajar, al-Hafidz adz-Dzahabi, al-Hafidz as-Suyuthi, as-Subki dan lainnya sepakat bahwa secara keseluruhan hadis yang ada di atas adalah dalil dan hujjah dianjurkannya berziarah ke makam Rasulullah Saw.

Hadis-hadis tersebut membuat orang beriman yang pernah mendengarnya merasa tidak tenang hatinya, sehingga ia diberi kesempatan untuk sowan (bertemu, berziarah) langsung di hadapan Rasulullah saw. Dan membuat orang yang beriman merasa takut bila tidak beziarah. Dan memang benar, orang-orang sejak zaman Rasulullah hidup sampai zaman kita sekarang ini belum pernah melihat dan mendengar seseorang yang menentang perintah menziarahi  beliau saw, selain seorang lelaki yang bernama Ibnu Taimiyah beserta segelintir orang yang tertipu dengan pendapatnya sejak masa itu sampai sekarang. al-Hafidz Ibnu Hajar menilai bahwa hal ini salah satu pendapat Ibnu Taimiyah yang paling buruk dan kontroversial. Jumlah mereka tidak banyak dan dapat dihitung dengan jari, bila dibanding dengan ratusan juta jamaah haji. Ziarah ini dilakukan sesudah menunaikan ibadah haji yang merupakan salah satu rukun Islam.

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon