logo blog

Minggu, 03 Februari 2013

Alergi Memuji Rasulullah Saw

Alergi Memuji Rasulullah Saw
Entah mengapa telinga Wahabi terasa gatal ketika mendengar pujian kepada Rasulullah Saw. Padahal memuji Rasulullah Saw dan mengagungkannya tidak hanya diabadikan dalam syair-syair yang dibaca dalam acara Maulid seperti al Daiba'i, al Barzanji, Qasidah Burdah dan sebagainya, tetapi juga telah dilakukan sejak masa sahabat, sebagaimana pujian Amr bin Ash:
وَمَا كَانَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ أَجَلَّ فِى عَيْنِى مِنْهُ وَمَا كُنْتُ أُطِيقُ أَنْ أَمْلأَ عَيْنَىَّ مِنْهُ إِجْلاَلاً لَهُ وَلَوْ سُئِلْتُ أَنْ أَصِفَهُ مَا أَطَقْتُ لأَنِّى لَمْ أَكُنْ أَمْلأُ عَيْنَىَّ مِنْهُ وَلَوْ مُتُّ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ لَرَجَوْتُ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Tidak seorangpun yang saya cintai daripada Rasulullah Saw dan tidak ada yang lebih agung di mata saya daripada beliau. Kedua mata saya tak pernah sanggup menatap beliau karena keagungannya. Dan seandainya saya ditanya mengenai sifat beliau maka saya tidak akan mampu, karena kedua mata saya tidak pernah mampu menangkapnya. Dan seandainya saya mati dalam keadaan demikian, maka saya berharap menjadi bagian penghuni surga" (HR Muslim No 336)
Namun pengikut Wahabi tidak merasa terusik ketika ulama yang dijadikan panutan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu Syaikh Ibnu Taimiyah dipuji dengan syair-syair Arab, diantaranya:
مَاذَا يَقُوْلُ الْوَاصِفُوْنَ لَهُ وَصِفَاتُهُ جَلَّتْ عَنِ الْحَصْرِ
هُوَ حُجَّةٌ للهِ قَاهِرَةٌ هُوَ بَيْنَنَا أُعْجُوْبَةُ الدَّهْرِ
هُوَ آيَةٌ فِي الْخَلْقِ ظَاهِرَةٌ أَنْوَارُهَا أَرْبَتْ عَنِ الْفَجْرِ
Dapatkah mereka melukiskan sifat-sifat terpuji Ibnu Taimiyah, sedangkan sifat-sifatnya yang terpuji telah melampaui batas.
Ibnu Taimiyah adalah hujjah Allah yang kokoh, dan keajaiban masa diantara kami.
Ibnu Taimiyah adalah ayat yang terang bagi makhluk, cahayanya mengalahkan sinar fajar” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah 14/158)

Pujian murid-murid Ibnu Taimiyah ini jauh lebih parah daripada pujian para pecinta Rasulullah Saw. Mengapa? Karena keagungan Ibnu Taimiyah pasti terbatas bahkan tidak dijelaskan oleh Allah dan Rasulullah Saw sama sekali.
Siapaka yang lebih layak untuk dipuji? Siapakah yang sebenarnya telah melakukan Ghuluw (berlebihan dalam memuji)?

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon