logo blog

Senin, 11 Februari 2013

Dalil Membaca Surat Yasin Untuk Orang Mati


Dalil Membaca Surat Yasin Untuk Orang Mati
Surat Yasin merupakan surat yang ke 36 yang terdiri dari 83 ayat dalam al-Quran. Sebagaimana dalam surat lain yang memiliki keutamaan dalam sabda-sabda Rasulullah Saw, surat Yasin juga sering dianjurkan untuk dibaca oleh Rasulullah. Riwayat hadis tentang keutamaan membaca Yasin sebagiannya adalah sahih, ada pula yang hasan, dlaif dan maudlu' (palsu). Akan tetapi, karena Yasin adalah sebuah surat yang diamalkan oleh warga NU dalam setiap tahlil dan bahkan mereka hafal surat ini kendatipun mereka buta huruf Arab, maka hal ini memancing reaksi berlebihan dari kelompok yang sejak semula memang anti tahlil dengan mengungkap hadis-hadis palsu dan dlaif dari surat Yasin, padahal hakekatnya mereka juga tahu bahwa dalam fadilah Yasin juga banyak riwayat sahihnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:  
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ (رواه البيهقى فى شعب الإيمان رقم 2464 وأخرجه أيضًا الطبرانى فى الأوسط رقم 3509 والدارمى رقم 3417 وأبو نعيم فى الحلية 2/159 والخطيب البغدادي 10/257 وأخرجه ابن حبان عن جندب البجلى رقم 2574)
"Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari seraya mengharap rida Allah, maka ia diampuni" (HR al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 2464, al-Thabrani dalam al-Ausath No 3509, al-Darimi No 3417, Abu Nuaim dalam al-Hilyat II/159, Khatib al-Baghdadi X/257 dan Ibnu Hibban No 2574)
Hadis ini diklaim oleh banyak pihak sebagai hadis palsu, khususnya dibesarkan-besarkan oleh kelompok yang anti tahlil karena hampir setiap acara tahlilan terlebih dahulu membaca Surat Yasin bersama atau dibaca saat berziarah. Untuk membantahnya kami paparkan ke hadapan mereka pendapat ulama dari kalangan mereka sendiri dan sekaligus dikagumi oleh mereka, yaitu Muhammad bin Ali al-Syaukani. Ia berkata:
حَدِيْثُ مَنْ قَرَأَ يس اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوْعًا وَإِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ الصَّحِيْحِ وَأَخْرَجَهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ وَأَخْرَجَهُ الْخَطِيْبُ فَلاَ وَجْهَ لِذِكْرِهِ فِي كُتُبِ الْمَوْضُوْعَاتِ (الفوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة لمحمد بن علي بن محمد الشوكاني 1 / 302)
"Hadis yang berbunyi: 'Barangsiapa membaca Surat Yasin seraya mengharap rida Allah, maka ia diampuni' diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu', sanadnya sesuai kriteria hadis sahih. Juga diriwayatkan oleh Abu Nuaim dan Khatib (al-Baghdadi). Maka tidak ada jalan untuk mencantumkannya dalam kitab-kitab hadis palsu!" (al-Fawaid al-Majmu'ah I/302)
Begitu pula ahli hadis al-Fatanni berkata:
مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ وَمَنْ قَرَأَ الدُّخَانَ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ فِيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ زَكَرِيَّا يَضَعُ  قُلْتُ لَهُ طُرُقٌ كَثِيْرَةٌ عَنْهُ بَعْضُهَا عَلَى شَرْطِ الصَّحِيْحِ أَخْرَجَهُ التُّرْمُذِي وَالْبَيْهَقِي (تذكرة الموضوعات للفتني 1 / 80)
"Hadis yang berbunyi: 'Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari, maka di pagi harinya ia diampuni dan barangsiapa membaca Surat al-Dukhan di malam Jumat, maka di pagi harinya ia diampuni' Di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Zakariya yang memalsukan hadis. Saya (al-Fatanni) berkata: Hadis ini memiliki banyak jalur riwayat, yang sebagiannya sesuai kriteria hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi dan al-Baihaqi" (Tadzkirat al-Maudlu'at I/80)[1]
Bahkkan seorang ahli tafsir yang menjadi murid Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnu Katsir (yang tafsirnya paling sering dikaji oleh kelompok anti tahlil), mencantumkan banyak hadis tentang keutamaan (fadilah) Surat Yasin, diantaranya hadis riwayat al-Hafidz Abu Ya'la al-Mushili No 6224:
وَقَالَ الْحَافِظُ أَبُوْ يَعْلَى حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيْلَ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ زِيَادٍ عَنِ الْحَسَنِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ وَمَنْ قَرَأَ حم الَّتِي فِيْهَا الدُّخَانُ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ
"Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari, maka di pagi harinya ia diampuni dan barangsiapa membaca Surat al-Dukhan, maka di pagi harinya ia diampuni"
Ibnu Katsir berkata:
إِسْنَادٌ جَيِّدٌ (تفسير ابن كثير 6 / 561)
"Ini adalah sanad yang bagus" (Tafsir Ibnu Katsir VI/561)
Tidak banyak yang tahu mengenai hukum menuduh hadis palsu, padahal nyata sekali bahwa riwayat tersebut secara akumulasi adalah sahih. Maka disini Rasulullah Saw memberi kecaman bagi mereka yang melakukan hal itu:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَلَغَهُ عَنِّي حَدِيْثٌ فَكَذَّبَ بِهِ فَقَدْ كَذَّبَ ثَلاَثَةً اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَالَّذِي حَدَّثَ بِهِ (رواه الطبراني في الأوسط رقم 7596 وابن عساكر 27/410 عن جابر)
"Barangsiapa yang sampai kepadanya sebuah hadis dari saya kemudian ia mendustakannya, maka ada tiga yang ia dustakan, yaitu Allah, Rasul-Nya dan perawi hadis tersebut"[2] (HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Ausath No 7596 dan Ibnu 'Asakir 27/410 dari Jabir)
Kembali ke masalah membaca surat Yasin. Lebih dari itu, ternyata Ibnu Katsir sependapat dengan amaliyah Nahdliyin dalam membaca Surat Yasin di dekat orang yang akan meninggal. Berikut diantara uraiannya:
ثُمَّ قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا عَارِمٌ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ -وَلَيْسَ بِالنَّهْدِي- عَنْ أَبِيْهِ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "اِقْرَؤُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ" يَعْنِي يس. وَرَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ بِهِ إِلاَّ أَنَّ فِي رِوَايَةِ النَّسَائِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ. وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ السُّوْرَةِ أَنَّهَا لاَ تُقْرَأُ عِنْدَ أَمْرٍ عَسِيْرٍ إِلاَّ يَسَّرَهُ اللهُ. وَكَأَنَّ قِرَاءَتَهَا عِنْدَ الْمَيِّتِ لِتُنْزَلَ الرَّحْمَةُ وَالْبَرَكَةُ وَلِيَسْهُلَ عَلَيْهِ خُرُوْجُ الرُّوْحِ وَاللهُ أَعْلَمُ. قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ قَالَ كَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ - يَعْنِي يس- عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا (تفسير ابن كثير 6 / 562)
"Imam Ahmad berkata (dengan meriwayatkan sebuah) bahwa Rasulullah Saw bersabda: Bacalah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal (HR Abu Dawud dan al-Nasa'i dan Ibnu Majah). Oleh karenanya sebagian ulama berkata: diantara keistimewaan surat yasin jika dibacakan dalam hal-hal yang sulit maka Allah akan memudahkannya, dan pembacaan Yasin di dekat orang yang meninggal adalah agar turun rahmat dan berkah dari Allah serta memudahkan keluarnya ruh. Imam Ahmad berkata: Para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan bacaan Yasin tersebut" (Ibnu Katsir VI/342)
Berikut kutipan selengkapnya dari kitab Musnad Ahmad mengenai pembacaan Yasin di samping orang yang akan meninggal yang telah menjadi amaliyah ulama terdahulu dan terus diamalkan oleh warga NU:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِي ثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ ثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشِيْخَةُ اَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ الْحَرْثِ الثَّمَالِيَ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السُّكُوْنِي فَلَمَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ بْنِ مَعْبَدٍ (مسند أحمد بن حنبل 17010)
"Para guru bercerita bahwa mereka mendatangi Ghudlaif bin Hars al-Tsamali ketika penyakitnya sangat parah. Shafwan berkata: Adakah diantara anda sekalian yang mau membacakan Yasin? Shaleh bin Syuraih al-Sukuni yang membaca Yasin. Setelah ia membaca 40 dari Surat Yasin, Ghudlaif meninggal. Maka para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan Surat Yasin tersebut. (Begitu pula) Isa bin Mu'tamir membacakan Yasin di dekat Ibnu Ma'bad" (Musnad Ahmad No 17010)
Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai atsar ini:
وَهُوَ حَدِيْثٌ حَسَنُ اْلإِسْنَادِ (الإصابة في تمييز الصحابة للحافظ ابن حجر 5 / 324)
"Riwayat ini sanadnya adalah hasan" (al-Ishabat fi Tamyiz al-Shahabat V/324)
Ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar juga menilai riwayat amaliyah ulama salaf membaca Yasin saat Ghudlaif akan wafat sebagai dalil penguat (syahid) dari hadis riwayat Ma'qil bin Yasar yang artinya: Bacakanlah Surat Yasin di dekat orang yang meninggal. (Raudlah al-Muhadditsin X/266)
Al-Hafidz Ibnu Hajar memastikan Ghudlaif ini adalah seorang sahabat:
هَذَا مَوْقُوْفٌ حَسَنُ اْلإِسْنَادِ وَغُضَيْفٌ صَحَابِىٌّ عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ وَالْمَشِيْخَةُ الَّذِيْنَ نَقَلَ عَنْهُمْ لَمْ يُسَمُّوْا لَكِنَّهُمْ مَا بَيْنَ صَحَابِىٍّ وَتَابِعِىٍّ كَبِيْرٍ وَمِثْلُهُ لاَ يُقَالُ بِالرَّأْىِ فَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعُ (روضة المحدثين للحافظ ابن حجر 10 / 266)
"Riwayat sahabat ini sanadnya adalah hasan. Ghudlaif adalah seorang sahabat menurut mayoritas ulama. Sementara 'para guru' yang dikutip oleh Imam Ahmad tidak disebut namanya, namun mereka ini tidak lain antara sahabat dan tabi'in senior. Hal ini bukanlah pendapat perseorangan, tetapi berstatus sebagai hadis yang disandarkan pada Rasulullah (marfu')" (Raudlah al-Muhadditsin X/266)
Terkait dengan tuduhan anti tahlil yang mengutip pernyataan beberapa ulama bahwa sanad hadis riwayat Ma'qil ini goncang, redaksi hadisnya (matan) tidak diketahui dan sebagainya, maka cukup dibantah dengan pendapat ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulugh al-Maram I/195:
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ (وأخرجه أحمد 20316 وأبو داود رقم 3121 وابن ماجه رقم 1448 وابن حبان رقم 3002 والطبرانى رقم 510 والحاكم رقم 2074 والبيهقى رقم 6392 وأخرجه أيضاً الطيالسى رقم 931 وابن أبى شيبة رقم 10853 والنسائى فى الكبرى رقم 10913)
"Dari Ma'qil bin Yasar bahwa Rasulullah Saw bersabda: 'Bacalah surat Yasin di dekat orang-orang yang meninggal.' Ibnu Hajar berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa'i dan disahihkan oleh Ibnu Hibban"
(Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad No 20316, Abu Dawud No 3121, Ibnu Majah No 1448, al-Thabrani No 510, al-Hakim No 2074, al-Baihaqi No 6392, al-Thayalisi No 931, Ibnu Abi Syaibah No 10853 dan al-Nasa'i dalam al-Sunan al-Kubra No 10913)
Dalam kitab tersebut al-Hafidz Ibnu Hajar tidak memberi komentar atas penilaian sahih dari Ibnu Hibban. Sementara dalam kitab beliau yang lain, Talkhis al-Habir II/244, kendatipun beliau mengutip penilaian dlaif dari Ibnu Qattan dan al-Daruquthni, di saat yang bersamaan beliau meriwayatkan atsar dari riwayat Imam Ahmad diatas.
Jika telah didukung dalil-dalil hadis dan diamalkan oleh para ulama salaf, lalu bagaimana dengan amaliyah membaca Surat Yasin setelah orang tersebut meninggal atau bahkan dibaca di kuburannya? Berikut ini beberapa pandangan ulama terkait penafsiran hadis di atas.
1.       Ibnu Qayyim
وَهَذَا يَحْتَمِلُ أَنْ يُرَادَ بِهِ قِرَاءَتُهَا عَلَى الْمُحْتَضَرِ عِنْدَ مَوْتِهِ مِثْلَ قَوْلِهِ لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يُرَادَ بِهِ الْقِرَاءَةُ عِنْدَ الْقَبْرِ وَاْلأَوَّلُ أَظْهَرُ (الروح لابن القيم 1 / 11)
"Hadis ini bisa jadi dibacakan di dekat orang yang akan meninggal sebagaimana sabda Nabi Saw: Tuntunlah orang yang akan mati diantara kalian dengan Lailahaillallah. Dan bisa jadi yang dimaksud adalah membacanya di kuburnya. Pendapat pertamalah yang lebih kuat" (al-Ruh I/11)

2.      Ahli Tafsir al-Qurthubi
وَيُرْوَى عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَمَرَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ قَبْرِهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَقَدْ رُوِىَ إِبَاحَةُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقَبْرِ عَنِ الْعَلاَّءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَذَكَرَ النَّسَائِي وَغَيْرُهُ مِنْ حَدِيْثِ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ الْمَدَنِي عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ اِقْرَأُوْا يس عِنْدَ مَوْتَاكُمْ وَهَذَا يَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ الْقِرَاءَةُ عِنْدَ الْمَيِّتِ فِي حَالِ مَوْتِهِ وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ عِنْدَ قَبْرِهِ (التذكرة للقرطبي 1 / 84)
"Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa ia memerintahkan agar dibacakan surat al-Baqarah di kuburannya. Diperbolehkannya membaca al-Quran di kuburan diriwayatkan dari 'Ala' bin Abdurrahman. Al-Nasai dan yang lain menyebutkan hadis dari Ma'qil bin Yasar al-Madani dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda: Bacalah Yasin di dekat orang-orang yang meninggal. Hadis ini bisa jadi dibacakan di dekat orang yang akan meninggal dan bisa jadi yang dimaksud adalah membacanya di kuburnya" (Tadzkirat al-Qurthubi I/84)

3.      Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi
وَقَالَ الْقُرْطُبِي فِي حَدِيْثِ إقْرَؤُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس هَذَا يَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ الْقِرَاءَةُ عِنْدَ الْمَيِّتِ فِي حَالِ مَوْتِهِ وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ عِنْدَ قَبْرِهِ قُلْتُ وَبِاْلأَوَّلِ قَالَ الْجُمْهُوْرُ كَمَا تَقَدَّمَ فِي أَوَّلِ الْكِتَابِ وَبِالثَّانِي قَالَ إبْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِي فِي الْجُزْءِ الَّذِي تَقَدَّمَتِ اْلإِشَارَةُ إِلَيْهِ وَبِالتَّعْمِيْمِ فِي الْحَالَيْنِ قَالَ الْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ مِنْ مُتَأَخِّرِي أَصْحَابِنَا وِفِي اْلإِحْيَاءِ لِلْغَزَالِي وَالْعَاقِبَةِ لِعَبْدِ الْحَقِّ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ قَالَ إِذَا دَخَلْتُمُ الْمَقَابِرَ فَاقْرَؤُوْا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتْيِن وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاجْعَلُوْا ذَلِكَ ِلأَهْلِ الْمَقَابِرِ فَإِنَّهُ يَصِلُ إِلَيْهِمْ (شرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور للحافظ جلال الدين السيوطي 1 / 304)
"al-Qurthubi berkata mengenai hadis: 'Bacalah Yasin di dekat orang-orang yang meninggal' bahwa Hadis ini bisa jadi dibacakan di dekat orang yang akan meninggal dan bisa jadi yang dimaksud adalah membacanya di kuburnya. Saya (al-Suyuthi) berkata: Pendapat pertama disampaikan oleh mayoritas ulama. Pendapat kedua oleh Ibnu Abdul Wahid al-Maqdisi dalam salah satu kitabnya dan secara menyeluruh keduanya dikomentari oleh Muhib al-Thabari dari kalangan Syafiiyah. Disebutkan dalam kitab Ihya al-Ghazali, dalam al-Aqibah Abdulhaq, mengutip dari Ahmad bin Hanbal, beliau berkata: Jika kalian memasuki kuburan, maka bacalah al-Fatihah, al-Muawwidzatain, al-Ikhlas, dan jadikanlah (hadiahkanlah) untuk penghuni makam, maka akan sampai pada mereka" (Syarh al-Shudur I/304)

4.      Muhammad bin Ali al-Syaukani
وَاللَّفْظُ نَصٌّ فِى اْلأَمْوَاتِ وَتَنَاوُلُهُ لِلْحَىِّ الْمُحْتَضَرِ مَجَازٌ فَلاَ يُصَارُ إِلَيْهِ إِلاَّ لِقَرِيْنَةٍ (نيل الأوطار للشوكاني 4 / 52)
"Lafadz dalam hadis tersebut secara jelas mengarah pada orang yang telah meninggal. Dan lafadz tersebut mencakup pada orang yang akan meninggal hanya secara majaz. Maka tidak bisa diarahkan pada orang yang akan meinggal kecuali bila ada tanda petunjuk" (Nail al-Authar IV/52)

5.      Mufti Universitas al-Azhar Kairo Mesir, 'Athiyah Shaqar
وَحَمَلَهُ الْمُصَحِّحُوْنَ لَهُ عَلَى الْقِرَاءَةِ عَلَى الْمَيِّتِ حَالَ اْلاِحْتِضَارِ بِنَاءً عَلَى حَدِيْثٍ فِى مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوْتُ فَتُقْرَأُ عِنْدَهُ يس إِلاَّ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ لَكِنْ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ قَالَ إِنَّ لَفْظَ الْمَيِّتِ عَامٌ لاَ يَخْتَصُّ بِالْمُحْتَضَرِ فَلاَ مَانِعَ مِنِ اسْتِفَادَتِهِ بِالْقِرَاءَةِ عِنْدَهُ إِذَا انْتَهَتْ حَيَاتُهُ سَوَاءٌ دُفِنَ أَمْ لَمْ يُدْفَنْ رَوَى اْلبَيْهَقِى بِسَنَدٍ حَسَنٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ اسْتَحَبَّ قِرَاءَةَ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ فَابْنُ حِبَّانَ الَّذِى قَالَ فِى صَحِيْحِهِ مُعَلِّقًا عَلَى حَدِيْثِ اقْرَءُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس أَرَادَ بِهِ مَنْ حَضَرَتْهُ الْمَنِيَّةُ لاَ أَنَّ الْمَيِّتَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ الْمُحِبُّ الطَّبَرِىُّ بِأَنَّ ذَلِكَ غَيْرُ مُسَلَّمٍ لَهُ وَإِنْ سُلِّمَ أَنْ يَكُوْنَ التَّلْقِيْنُ حَالَ اْلاِحْتِضَارِ (فتاوى الأزهر 7 / 458)
"Ulama yang menilai sahih hadis diatas mengarahkan pembacaan Yasin di dekat orang yang akan meninggal. Hal ini didasarkan pada hadis yang terdapat dalam musnad al-Firdaus (al-Dailami) yang berbunyi: 'Tidak ada seorang mayit yang dibacakan Yasin di dekatnya, kecuali Allah memberi kemudahan kepadanya.' Namun sebagian ulama mengatakan bahwa lafadz mayit bersifat umum yang tidak khusus bagi orang yang akan mati saja. Maka tidak ada halangan untuk menggunakannya bagi orang yang telah meninggal, baik sudah dimakamkan atau belum. Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang hasan (al-Sunan al-Kubra No 7319) bahwa Ibnu Umar menganjurkan membaca permulaan dan penutup surat al-Baqarah di kuburannya setelah dimakamkan. Pendapat Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya yang memberi catatan pada hadis diatas bahwa yang dimaksud adalah orang yang akan meninggal bukan mayit yang dibacakan di hadapannya, telah dibantah oleh Muhib al-Thabari bahwa hal itu tidak dapat diterima, meskipun talqin

 kepada orang yang akan meninggal bisa diterima" (Fatawa al-Azhar VII/458)

6.      al-Hafidz Ibnu Hajar al-'Asqalani
تَنْبِيْهٌ قَالَ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيْحِهِ عَقِبَ حَدِيْثِ مَعْقِلٍ قَوْلُهُ اقْرَءُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس أَرَادَ بِهِ مَنْ حَضَرَتْهُ الْمَنِيَّةُ لاَ أَنَّ الْمَيِّتَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ قَالَ وَكَذَلِكَ لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَرَدَّهُ الْمُحِبُّ الطَّبَرِي فِي اْلأَحْكَامِ وَغَيْرِهِ فِي الْقِرَاءَةِ وَسَلَّمَ لَهُ فِي التَّلْقِيْنِ (تلخيص الحبير في تخريج أحاديث الرافعي الكبير للحافظ ابن حجر 2 / 245)
"Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya memberi komentar pada hadis Ma'qil diatas bahwa yang dimaksud adalah orang yang akan meninggal bukan mayit yang dibacakan di hadapannya. Begitu pula hadis: 'Tuntunlah orang yang akan mati diantara kalian dengan Lailahaillallah,' dan telah dibantah oleh Muhib al-Thabari dalam kitab al-Ahkam bahwa hal itu tidak dapat diterima dalam hal membaca Yasin, sementara talqin kepada orang yang akan meninggal bisa diterima" (Talkhis al-Habir II/245)

7.      Muhammad al-Shan'ani
وَأَخْرَجَ أَبُوْ دَاوُدَ مِنْ حَدِيْثِ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ اِقْرَاءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس وَهُوَ شَامِلٌ لِلْمَيِّتِ بَلْ هُوَ الْحَقِيْقَةُ فِيْهِ (سبل السلام بشرح بلوغ المرام لمحمد بن إسماعيل الأمير الكحلاني الصنعاني 2 / 119)
"Hadis riwayat Abu Dawud dari Ma'qil 'Bacalah Yasin di dekat orang-orang yang meninggal' ini, mencakup pada orang yang telah meninggal, bahkan hakikatnya adalah untuk orang yang meninggal" (Subul al-Salam Syarah Bulugh al-Maram II/119)
Riwayat lain yang menguatkan adalah:
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنِ الْمُجَالِدِ عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ كَانَتِ الأَنْصَارُ يَقْرَؤُوْنَ عِنْدَ الْمَيِّتِ بِسُوْرَةِ الْبَقَرَةِ (مصنف ابن أبي شيبة رقم 10953)
"Diriwayatkan dari Sya'bi bahwa sahabat Anshor membaca surat al-Baqarah di dekat orang yang telah meninggal" (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No 10963)
Begitu pula atsar di bawah ini:
حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ حَسَّانَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ أُمَيَّةَ الأَزْدِيِّ عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ عِنْدَ الْمَيِّتِ سُوْرَةَ الرَّعْدِ (مصنف ابن أبي شيبة رقم 10957)
"Diriwayatkan dari Jabir bin Zaid bahwa ia membaca surat al-Ra'd di dekat orang yang telah meninggal" (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No 10967)
Bahkan ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar memperkuat riwayat tersebut:
وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِى شَيْبَةَ مِنْ طَرِيْقِ أَبِى الشَّعْثَاءِ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ وَهُوَ مِنْ ثِقَاتِ التَّابِعِيْنَ أَنَّهُ يَقْرَأُ عِنْدَ الْمَيِّتِ سُوْرَةَ الرَّعْدِ وَسَنَدُهُ صَحِيْحٌ (روضة المحدثين للحافظ ابن حجر 10 / 266)
"Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari jalur Jabir bin Zaid, ia termasuk Tabi'in yang terpercaya, bahwa ia membaca surat al-Ra'd di dekat orang yang telah meninggal. Dan Sanadnya adalah sahih!" (Raudlat al-Muhadditsin X/226)



[1]  Dari uraian dua ulama ini dapat diketahui bahwa tuduhan hadis palsu dalam beberapa fadilah surat Yasin karena mereka hanya melihat dari satu jalur riwayat saja, sementara dalam hadis tersebut memiliki banyak jalur riwayat. Hal inilah yang sering menjadi kecerobohan dari Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya 'al-Maudluat' yang menuai kritik tajam dari ahli hadis lain, seperti Ibnu Hajar, al-Suyuthi dan lain-lain.
[2]  Al-Hafidz al-Haitsami berkata: "Dalam sanadnya ada perawi bernama Mahfudz bin Maisur, Ibnu Hatim tidak memberi penilaian sama sekali kepadanya" (Majma' al-Zawaid No 660). Ini menunjukkan hadis tersebut tidak dlaif.

85 komentar

yang anda bela harus nya ISLAM bukan NU...cukup..tulisan ini sudah menghentikan segala bantahan anda..

untuk saudara harkor rakor@ : NU membantah karena saudara2 kami seperti anda menyertamertakan bid'ah dan sesat kpd kami yang mengamalkan Tahlilan,Maulid,dll,, Sampai kapan sesama muslim menghina satu sama lain??!! Yang kami lakukan bukan membuat2 syariat baru, tapi melestarikan ajaran dari Walisongo yg merupakan pemasukan unsur Islami kdlm tradisi masyarakat Nusantara.

menurut saya yang salah bukan doa nya, tapi waktunya di hari 1-7.40.100.1000.mendak pisan mendak pindho. karena itu adalah ajaran hindu. orang yang percaya ramalan (slamatan/ tahlilan harus dilakukan pada hari2 tersebut) maka ALLAH tidak akan menerima salatnya 40 hari 40 malam. jika tidak dilakukan pada hari2 tersebut dicela orang lain dianggap tidak berbakti bahkan kebanyakan umat muslim jawa sekalipun. bagi orang yang tidak mampu acara tahlilan di hari2 tersebut harus rela ngutang sana sini agar tidak dicela saudara sesama muslimnya. Rosulullah tidak pernah mengajarkan bersedekah (menjamu tamu tahlilan sekampung) jika tidak mampu bahkan Rosul menganjurkan mengirim makanan bagi keluarga yang ditimpa musibah bukan malah memberatkanya dengan acara2 tahlilan tersebut. walisongo tahu adat slamatan di hari 1-7.40.100.1000 dstnya adalah salah, tapi Beliau2 yakin dengan menyisipkan ajaran islam dalam budaya jawa masyarakat jawa akan mengenal dan mencintai islam yang pada akhirnya mereka akan mempelajari islam sehingga tahu mana yang salah mana yang benar tanpa harus menghujat dan menghapus budaya hindu yang sudah 700 tahun lebih ada di jawa. para Sunan yakin kelak generasi penerus mereka yaitu kita akan meluruskan semuanya karena dakwah islam tidak akan pernah habis hingga kiamat tiba. intinya Rosulullah mengajurkan untuk meringankan beban atau membantu keluarga yang terkena musibah bukan malah memberatkannya dengan acara tahlilan yang makan biaya tidak sedikit.

Orang yang membanggakan golongannya disebut Syirik, kembalikan semuanya kepada Al Qur'an dan Hadits. Kita lihat keputusan Sesepuh pada Tahun 1926 dulu, tentang acara tahlilan yang tentunya didlamnya ada yasinan,
Fakta yang dilupakan :Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama [ NU ] Tentang Tahlilan, Menyediakan Makanan Kepada Penta’ziyah
MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 DI SURABAYA
“Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabi’uts tsani 1345H/21Oktober 1926M mencantumkan pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan setelah kematian (yakni Tahlilan dan Yasinan-ed) adalah Bid’ah yang hina/tercela, namun tidak sampai mengharamkannya. (Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas Kombes Nahdhatul Ulama (1926-2004M) LTN NU Jawa Timur Bekerja sama dengan Penerbit Khalista, Surabaya-2004. Cetakan ketiga, Februari 2007 Halaman 15 s/d 17).” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.19)
Keluarga Mayit Menyediakan Makanan Kepada Penta’ziyah

Keterangan :

1. Dalam Kitab I’anah al- Thalibin:

وَ يُكْرَهُ لِأَهْلِ الْمَيِّتِ الْجُلُوْسِ لِلتَّعْزِيَةِ وَصَنْعُ طَعَامٍ يُجْمِعُوْنَ النَّاسَ عَلَيْهِ لِمَا رَوَى أَحْمَدُ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قاَلَ كُنَّا نَعُدُّ الْإِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَهُمُ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ.

“Dan makruh [dibenci] hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja diundang untuk berta’ziyah dan menghidangkan makanan bagi mereka, sesuai dengan riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, yang mengemukakan: “Kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian ratapan (yang dilarang)”.

2. Dalam Kitab Al-Fatawa al-Kubra:
وفي الفتاوى الكبرى فى أوائل الجزء الثانى ما نصه (وَسُئِل) أَعَادَهُ اللهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِ عَمَّا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ وَ يُحْمَلُ مَعَ مِلْحٍ خَلْفَ الْمَيِّتِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ وَ يُتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى الْحَفَّارِيْنَ فَقَطْ وَ عَمَّا يُعْمَلُ ثَالِثَ مَوْتِهِ مِنْ تَهْيِئَةِ أَكْلٍ أَوْ إِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَ غَيْرِهِمْ وَ عَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ السَّابِعِ كَذَلِكَ وَ عَمَّا يُعْمَلُ تَمَامَ الشَّهْرِ مِنَ الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ عَلَى بُيُوْتِ النِّسَاءِ التِي حَضَرْنَ الْجَنَازَةَ وَ لَمْ يَقْصُدُوْا بِذَلِكَ إِلاَّ مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبِلاَدِ حَتىَّ أَنَّ مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ صَارَ مَمْقُوْتًا عِنْدَ هُمْ حَسِيْسًا لاَ يَعْبَأُوْنَ بِهِ وَ هَلْ إِذَا قَصَدُوْا بِذَلِكَ الْعَادَةَ وَ التَّصَدَّقَ فِي غَيْرِ الْأَخِيْرَةِ أَوْ مُجَرَّدَ الْعَادَةِ مَا ذَا يَكُوْنُ الْحُكْمُ جَوَازًا أَوْ غَيْرَهُ. وَ هَلْ يُوْزَعُ مَا صُرِفَ عَلَى انْصِبَاءِ الْوَرَرَثَةِ عِنْدَ قِسْمَةِ التِّرْكَةِ وَ إِنْ لَمْ يَرْضَ بِهِ بَعْضُهُمْ وَ عَنِ الْمَيِّتِ عِنْدَ أَهْلِ المَيِّتِ إِلَى مُضِيِّ شَهْرٍ مِنْ مَوْتِهِ لِأَنَّ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ كَالْفَرْضِ مَا حُكْمُهُ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ جَمِيْعُ مَا يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُوْمَةِ لَكِنْ لاَ حُرْمَةَ فِيْهِ إِلاَّ إِنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْرَثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفَعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَ حَوْضِهِمْ فِي عَرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ. يرْجَى أَنْ يَكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ أَخْذًا مَنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي الصَّلاَةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ. وَ عَلَّلُوْا بِصَوْنِ عَرْضِهِ عَنْ حَوْضِ النَّاسِ فِيْهِ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَةِ وَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ مِنَ التِّرْكَةِ حَيْثُ كَانَ فِيْهَا مَحْجُوْرٌ عَلَيْهِ مُطْلَقًا أَوْ كَانُوْا كُلَّهُمْ رُشَدَاءَ لَكِنْ لَمْ يَرْضَ بَعْضُهُمْ.

“Imam Ibnu Hajar ditanya -semoga Allah mengembalikan barakahnya kepada kita-, bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri prosesi ta’ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah, walaupun sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”; bagaimana hukumnya? Beliau menjawab: semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bid’ah yang tercela tetapi tidak sampai haram (makruh); kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (ratsa’) pada keluarga mayit. Dalam melakukan prosesi tersebut ia harus bertujuan menangkal “ocehan” orang-orang bodoh, agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. terhadap seseorang yang batal (karena hadats) shalatnya untuk menutup hidung dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat. Dan tidak boleh diambil/dikurangi dari tirkah seperti kasus di atas. Sebab, tirkah yang belum dibagikan mutlak harus dijaga utuh, atau ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris)”.

Telah terjadi apa yang dipesankan Rasululloh SAW pada kita bahwa salah satu tanda makin dekatnya hari kiamat adalah generasi kemudian mencela generasi terdahulu

Disebut istilah tahlilan karena didalamnya ada dibacakan kalimah tahlil. Padahal istilah itu untuk memudahkan orang menyebutkannya bahwa mendoakan orang yg telah meninggal di rumah yg meninggal atau dimana saja disebut tahlilan. Tidak ada bedanya seperti pengajian mingguan, bulanan dsb itu mah cuma istilah. Tahlil, zikir membaca Al-Qur'an, berdoa adalah amalan yang bebas dilakukan oleh umat Islam. arti bebas disini boleh kapan saja dan boleh ditentukan waktunya oleh kita sendiri, karena Rasulullah pun tidak menentukan waktunya. Jadi boleh ditentukan oleh kita dan boleh kapan saja. Dalam tahlilan menentukan hari kesatu, ketiga, ketujuh dan seterusnya itu ditentukan oleh kita sendiri karena agama memerintahkan untuk mengamalknnya kapan saj baik ditentukan oleh kita maupun bebas tidak ditentukan waktunya. Jadi kumah dewek bae da bebas tea. Yang disebut niyahah itu apabila berkumpul-kumpul dirumah si mayit hanya untuk makan-makan saja. Ini jelas tidak etis. Tetapi kalau berkumpul-kumpul di rumah si mayit intuk berdoa, tahlil, tasbih,tahmid dan takbir, istigfar serta membaca Al-Qur'an itu baik sekali karena si mayit sangat memerlukan sekali doa dari yang hidup. Mengapa sebelum berdoa membaca Al-Qur'an dulu, zikir dulu. Itu sebagai pendekatan diri kepada Allah sebagai pengamalan dari iyyaaka na'budu lalu berdoa ( waiyyaaka nasta'iin). Jadi sebenarnya Tahlilan (berdoa untuk mayit) ada dasar hukumnya kalau kita mau betul-betul menggalinya dengan legowo.

untuk saudaraku islam harkor rakor, anda islam kan! NU itu adalah wadah dalam rangka melestarikan agama islam toh dalil-dalil yang dipakai ada, perkara itu tidak cocok dengan pendapat anda ya sudah tidak usah diperdebatkan, ya mudah-mudahan kita diridhoi Alloh walaupun jalan kita berbeda amien.

Alhamdulillah anda telah menjelaskan dalil-dalil yang dibutuhkan oleh masyarakat luas sehingga tidak goyah dan bisa lebih mantab dalam melaksanakannya, yang penting bagi kami tidak ada unsur syirik di dalamnya dan didasari mencari ridho dari Alloh SWT.itu juga yang saya tanamkan di Pondok Pesantren saya "Ponpes Darussalam Dsn.Genengan Ds. Banjaragung Kec.Puri Kab.Mojokerto Jatim. selama ada dalil yang menguatkan mari kita lanjutkan mudah-mudahan diridhoi oleh Alloh SWT

Yang tidak mau melakukan tahlilan, ya sudah GAK PAPA. Tapi jangan terus mengklaim HARAM, NERAKA, dan lain lain.. Lebih baik anda DIAM SAJA.....

1. KANG ADJI BENER... sekedar nambahin... klo cuman buka i'anah,tuhfah,nihayah,fatawa hadisiah,fatawa kubor anak santri juga bisa...yang jadi masalah memahami masalah dan ucapan nya.... antum milih HADIS SHOHEH APA FATWA ULAMA MADZHAB yang ngga di akuin sama ahli sunnah salafi.... ? inih ada hadis tentnagn KEBOLEHAN makan di rumah ahli mayit yang menjadi takhsis perkataan i'anah,fatawa,tuhfah dll... :

• قال الإمام أبو داود في سننه : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، أَخْبَرَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوصِي الْحَافِرَ: «أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ، أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ» ، فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِي امْرَأَةٍ فَجَاءَ وَجِيءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَهُ، ثُمَّ وَضَعَ الْقَوْمُ، فَأَكَلُوا، فَنَظَرَ آبَاؤُنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلُوكُ لُقْمَةً فِي فَمِهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَجِدُ لَحْمَ شَاةٍ أُخِذَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَهْلِهَا» ، فَأَرْسَلَتِ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَرْسَلْتُ إِلَى الْبَقِيعِ يَشْتَرِي لِي شَاةً، فَلَمْ أَجِدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى جَارٍ لِي قَدِ اشْتَرَى شَاةً، أَنْ أَرْسِلْ إِلَيَّ بِهَا بِثَمَنِهَا، فَلَمْ يُوجَدْ، فَأَرْسَلْتُ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَرْسَلَتْ إِلَيَّ بِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَطْعِمِيهِ الْأُسَارَى»
“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada sebuah jenazah, maka aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berada diatas kubur berpesan kepada penggali kubur : “perluaskanlah olehmu dari bagian kakinya, dan juga luaskanlah pada bagian kepalanya”, Maka tatkala telah kembali dari kubur, SEORANG WANITA (ISTRI MAYIT) MENGUNDANG ( MENGAJAK ) ROSULL, maka Rasulullah datang seraya DIDATANGKAN (DISUGUHKAN) makanan yang diletakkan dihadapan Rasulullah, kemudian DILETAKAN juga pada sebuah PERKUMPULAN (qaum/sahabat), kemudian DIMAKANLAH oleh mereka. Maka ayah-ayah kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam MAKAN dengan suapan, dan bersabda: “aku mendapati daging kambing yang diambil tanpa izin pemiliknya”. Kemudian wanita itu berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengutus ke Baqi’ untuk membeli kambing untukku, namun tidak menemukannya, maka aku mengutus kepada tetanggaku untuk membeli kambingnya kemudian agar di kirim kepadaku, namun ia tidak ada, maka aku mengutus kepada istinya (untuk membelinya) dan ia kirim kambing itu kepadaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “berikanlah makanan ini untuk tawanan”. (diriwayatkan oleh imam abu daud dan imam baihaqi,kedudukan nya marfu’ dan di shohehkan oleh sykeh albani sendiri muhadits ahli sunnah salafi SYEIHK AL-AALIM AL ALAAAAAMAH AL-BANI dalam kitab aunul ma’bud syarah sunan abu daud )

yang itu saya rasa udah sangat cukup sebagai dalil KEBOLEHAN MENYEDIAKAN nya ahli mayit DAN MAKAN nya penta'ziah.

2.AGAMA HINDU NGGA PUNYA AJARAN 7-40-100..andaipun ada itu cuman tradisi dan ngga sama....klo itu berasal dari hindu, berarti imam suyuthi,para TABI'IN DAN ULAMA SALAF di mekkah dan madinah itu ikut ajaran hindu....pasti ngga mungkin terjadi.... ngga percaya? ini buktinya :

قَالَ الامامُ أَحَمْدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْه فى كِتَابِ الزُّهْدِ لَهُ : حَدَّثَنَا هَاشِمٌ بْنُ الْقَاسِمِ قَالَ : حَدَّثَنَا الأَشْجَعِىُّ عَنْ سُفْيانَ قَالَ الطاوس : اِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فى قُبُورِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَطْعَمُوا عَنْهُمْ تِلْكَ الْأيَّامَ , قَالَ الْحافِظُ أَبُو نَعِيم فى الْجَنَّةَ : حَدَثْنَا أَبُو بَكْرٍ بْنُ مَالِكِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أُحْمَدُ بْنُ حَنْبَلِ حَدَثِنَا أَبِى حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا الأَشْجَعِىُّ عَنْ سُفْيانِ قَالَ : قَالَ طاوس : اِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فى قُبُورِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَطْعَمُوا عَنْهُمْ تِلْكَ الْأيَّامَ
“Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”

Hadits di atas diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ (juz 4 hal. 11), al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur (32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-’Aliyah (juz 5 hal. 330) dan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178).Menurut al-Hafizh al-Suyuthi, hadits di atas diriwayatkan secara mursal dari Imam Thawus dengan sanad yang shahih. Hadits tersebut diperkuat dengan hadits Imam Mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur dan hadits Ubaid bin Umair yang diriwayatkan oleh Imam Waki’ dalam al-Mushannaf, sehingga kedudukan hadits Imam Thawus tersebut dihukumi marfu’ yang shahih. Demikian kesimpulan dari kajian al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi.Tradisi bersedekah kematian selama tujuh hari berlangsung di Kota Makkah dan Madinah sejak generasi sahabat, hingga abad kesepuluh Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Suyuthi imam suyuthi juga menyebutkan riwayah dan diroyah atsar ini dan menetapkan hukum marfu. dan ini menunjukan tentang hukum kebolehan bershodaqoh untuk mayit sampai hari ketujuh. ... klo mau bilang dhoif silahkan KASIH BUKTI DAN HUJJAH RIWAYAH DAN DIROYAH NYA...

3.BOLEEH DONG nentuin hari-hari tertentu buat beramal baik kaya shodaqoh mayit atau memuliakan tamu... butuh hadis ? ini hadisnya :

• قال الإمام البخاري رحمه الله تعالى في كتابه : حَدَّثَنَا مُوسى بْنُ إسماعيلَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُسْلِمٍ ، عَنْ عَبْداللَّهِ اِبْنِ دِينارٍ عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْه : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ (فتح الباري شرح صحيح البخاري)

“Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba setiap hari sabtu baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai kendaraan, sedangkan Abdullah selalu melakukannya.” ( HR. Imam Bukhari )
al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentari hadits ini dan satu hadis setelahnya diakhir pembahasan bab sebagai berikut :
الْحَديثُ عَلَى اِخْتِلاَفِ طُرُقِهِ دَلالَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْأيَّامِ بِبَعْضِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوِمَةِ عَلَى ذَلِكً . وَفِيه أَنَّ النَّهْي عَنْ شَدِّ الرَّحَّالِ لِغَيْرَ الْمَسَاجِدِ الثَلاَثةِ ليس عَلَى التَّحْرِيمِ

“Hadits ini dengan sekian jalur yang bervariasi menunjukkan akan diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah amal sholeh yang baik dan istiqamah dalam menjalankan nya.Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid bukanlah sebuah keharaman (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid Nabawi tidak haram)

klo antum bilang DHO'IF berarti secara ngga langsung MENDHO'IFKAN imam bukhori dan ibnu hajar asqolan.... itu dari hadis dulu karena biasanya ahli sunnnnnnah salafi suka meriksa hadis...

itu semua menunjukan bahwa kemakruhannya TIDAK MUTLAQ PADA STIAP KEADAAN...KESIMPULAN NYA hukum makruh tersbut hanya terjadi apabila keluarga mayit itu orang yang faqir (bukan KIKIR).. masih butuh qoul ulama... ? ini ulama malikiah dan syafi'iah :

و أمَّا مَا يَصْنَعُهُ أقاربُ الميّتِ مِنَ الطَّعَامِ و جَمْعِ النَّاسِ عَلَيه , فَإِنْ كَانَ لِقِرَاءةِ الْقُرْآنِ و نَحْوِ هِمَا مِمَّا يُرْجَى خَيْرُهُ لِلَمَيْتِ فَلاَبَأْسَ, و إِنْ كَانَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَيُكْرَهُ
Adapun apa-apa yang dibuat oleh kerabat mayit (saudara ) dari jenis makan makanan dan mengumpulkan orang di rumahnya,jika makanan tersebut di sediakan untuk pembaca alqur’an atau semacamnya (pembaca doa dan lain-lain) dari sesuatu yang diharapkan kebaikan nya untuk mayit tersebut maka hukumnya tidak mengapa (boleh).namun jika makanan tersebut bukan untuk para penta’ziah yg membaca qur’an atau semacamnya maka hal itu dimakruhkan. ( majmu fatawa wa rosa'il syiekh sayyid alawi al maliki pengarang kitab mafahim,bab walimah )

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ الْمَيْتِ عَلَى وَجْهِ شَرْعِيٍّ مَطْلُوبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ سَبْعَةَ أيَّامٍ او أَكْثَرَ او أَقَلَّ ، وَتَقْيِيدٌ بِبَعْضِ الْأيَّامِ مِنَ الْعَوَائِدِ فَقَطْ. كَمَا أَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ دَحَلانَ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ الْمَيْتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سابعٍ وَفِي تَمامِ الْعَشْرَيْنِ وَفِي الأربعين وَفِي المِائَةِ وَبَعْدَ ذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي يَوْمِ الْمَوْتِ كَمَا أَفَادَ شَيْخُنَا يُوسُفُ السَنْبَلاَوِينِي (نهاية الزين)
“Bersedekah atas nama mayit dengan cara yang syar’iy adalah dianjurkan, tanpa ada ketentuan harus 7 hari, lebih atau kurang dari 7 hari. Sedangkan penentuan sedekah pada hari-hari tertentu itu hanya merupakan kebiasaan masyarakat saja, sebagaimana difatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan.Sungguh telah berlaku di masyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga kematian, hari ketujuh, dua puluh, empat puluh hari serta seratus hari.Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya.Sebagaimana disampaikan oleh guru kami Syaikh Yusuf al-Sunbulawaini.”. ( nihayatu zein bab wasiat karangan syeikh nawawi tanara banten )
ini membuktikan bahwa hukum makruh yg ada di I'ANAH,TUHFATH,MAJMU DLL itu terjadi jika keluarga mayit itu faqir....klo biasa ajah yah jangan di fakir2in segala....

masih bilang bid'ah juga...? ini ulama ahli sunnnnnah salafi berkata :

حُكْمُ حُضُورِ مَجْلِسِ الْعَزَاءِ وَالْجُلُوسِ فِيه (س): هَلْ يَجُوزُ حُضُورُ مَجْلِسِ الْعَزَاءِ وَالْجُلُوسِ مَعَهُمْ ؟ ج: إِذَا حَضَرَ الْمُسْلِمُ وَعَزَّى أهْلَ الْمَيِّتِ فَذَلِكَ مُسْتَحَبٌّ ؛ لمَا فِيه مِنَ الْجَبْرِ لَهُمْ وَالتَّعْزِيَةِ ، وَإِذَا شَرِبَ عِنْدَهُمْ فِنْجَانَ قَهْوَةٍ أَوْ شَاي أَوْ تُطَيِّبَ فَلَا بَأسً كَعَادَةِ النَّاسِ مَعَ زُوَّارِهُمْ .
Soal: Bolehkah menghadiri majlis ta’ziyah (tahlilan) dan duduk-duduk bersama mereka?Jawab: Apabila seorang Muslim menghadiri majliz ta’ziyah dan menghibur keluarga mayit maka hal itu disunnahkan, karena dapat menghibur dan memotivasi kesabaran kepada mereka. Apabila minum secangkir kopi, teh atau memakai minyak wangi (pemberian keluarga mayit), maka hukumnya tidak apa-apa, sebagaimana kebiasaan masyarakat terhadap para pengunjungnya.”
(Syaikh Ibnu Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 371.)
baca pelan-pelan yang tenang.... ada MINUM KOPI nyah juga lhoooh....

masih ngga nyalahin juga.... ?

masih kurang yakin ? ini ada satu lagi :

عَشَاءُ الْوَالِدِينَ
س : الأخ أ. م. ع. مِنَ الرِّياضِ يَقُولُ فِي سُؤَالِهِ : نَسْمَعُ كَثِيرًا عَنْ عَشَاءِ الْوَالِدِينَ أَوْ أحَدِهِمَا ، وَلَهُ طُرُقٌ مُتَعَدِّدَةٌ ، فَبَعْضُ النَّاسِ يَعْمَلُ عِشَاءَ خَاصَّةٍ فِي رَمَضانِ وَيَدْعُو لَهُ بَعْضَ الْعُمَّالِ وَالْفقراءِ ، وَبَعْضُهُمْ يُخْرَجُهُ للذين يُفْطِرُونَ فِي الْمَسْجِدِ ، وَبَعْضُهُمْ يَذْبَحَ ذَبيحَةَ وَيُوَزِّعُهَا عَلَى بَعْضِ الْفقراءِ وَعَلَى بَعْضِ جِيرَانِهِ ، فَإِذَا كَانَ هَذَا الْعَشَاءُ جَائِزًا فَمَا هِي الصِّفَةُ الْمُنَاسِبَةُ لَهُ؟ ( ج ) : الصَّدَقَةُ لِلْوَالِدِينَ أَوْ غِيَرِهُمَا مِنَ الْأقاربِ مَشْرُوعَةٌ ؛ لِقولِ « النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ : لَمَّا سَأَلَهُ سَائِلٌ قَائِلًا : هَلْ بَقِيَ مِنْ بَرٍّ أَبَوَيْ شَيْءٌ أَبَرَّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا ؟ قَالَ نَعَمْ الصَّلاَةُ عَلَيهُمَا وَالْاِسْتِغْفارُ لَهُمَا وإنفاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَإكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوَصِّلْ إلّا بِهِمَا » وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ :« إِنَّ مَنْ أَبَرَّ الْبَرَّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أهْلَ وَدِّ أَبِيه »« وَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ لَمَّا سَأَلَهُ سائِلٌ قَائِلًا : إِنَّ أُمَّي مَاتَتْ وَلَمْ تُوصِ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ نَعَمْ » وَلِعُمُومِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ :« إِذَا مَاتَ اِبْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إلّا مِنْ ثَلاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمُ يَنْتَفِعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ ». وَهَذِهِ الصَّدَقَةُ لَا مُشَاحَّةَ فِي تَسْمِيَتِهَا بِعَشَاءِ الْوَالِدِينَ أَوْ صَدَقَةِ الْوَالِدَيْنِ سَواءٌ كَانَتْ فِي رَمَضانَ أَوْ غَيْرَهُمَا
“HUKUM KENDURI UNTUK MAYIT KEDUA ORANG TUA” Soal: Sda AMA, Riyadh. Kami banyak mendengar tentang kenduri untuk kedua orang tua atau salah satunya.Dan banyak caranya.Sebagian masyarakat mengadakan kenduri khusus pada bulan Ramadhan dengan mengudang sebagian pekerja dan fakir miskin.Sebagian lagi mengeluarkannya bagi mereka yang berbuka puasa di Masjid.Sebagian lagi menyembelih hewan dan membagikannya kepada sebagian fakir miskin dan tetangga.Apakah kenduri ini boleh? Lalu bagaimana cara yang wajar?Jawab: “Sedekah untuk kedua orang tua, atau kerabat lainnya memang dianjurkan syara’, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika seseorang bertanya: “Apakah aku masih bisa berbakti kepada kedua orang tua setelah mereka wafat?” “Iya, menshalati jenazahnya, memohonkan ampunan, menepati janjinya, memuliakan teman mereka, menyambung tali kerabatan yang hanya tersambung melalui mereka.” Dan karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Termasuk kebaktian yang paling baik adalah seseorang menyambung hubungan mereka yang dicintai ayahnya.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketiak seseorang bertanya: “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan tidak berwasiat. Apakah ia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah untuknya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Iya”. Dan karena keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara, sedekah yang mengalir, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shaleh yang mendoakannya.” Sedekah semacam ini, tidak menjadi soal dinamakan kenduri kedua orang tua atau sedekah kedua orang tua, baik dilakukan pada bulan Ramadhan atau selainnya.
(Syaikh Ibnu Baz, Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 253-254)

sya letakan 2 fatwa ulama ahli sunnah di akhir sebgai bantahan...syiekh nawawi,syiekh ismail zein dan syiekh sayid al maliki yg saya jadikan pegangan...

terimalah kebenaran yg ada...minimal tidak menyalahkan yang punya pegangan kuta.... klo mau ngebantah terlebih dahulu silahkan bantah al aaalimm...al alaaaamah syiekh bin bazzz.... sekrang kita perhatikan siapa yang mengada-ngada.... wassalam..Mr.Blue pamit...nuhun sewu...

Wahabi Yahudi yang terkoptasi pengaruh para pemikir inggris, memang semakin jauh dari nurani islam. Sikapnya yg gaya pemikir yahudi semakin memuakkan. :-(

TOLONG SAUDARA SEKALIAN BACA INI BIAR ENTE SEMUA PADA TAU !! dari pada gue ngtik nggak muatttt nih papan ketiknya

http://almanhaj.or.id/content/2272/slash/0/tahlilan-selamatan-kematian-adalah-bidah-munkar-dengan-ijma-para-shahabat-dan-seluruh-ulama-islam/

Saya sendiri masih belajar banyak, dari pengajian, dr buku, dr internet. Saya bingung, yang satu menganjurkan baca yasin mlm jumat, yg satu tidak boleh, yg satu ada hadits nya satu lg ada juga. Saya sendiri sering mengikuti pengajian oleh ustadz yg beberapa ajarannya ada yg tdk sesuai dg hati saya. Tapi saya tetap menghormati beliau. Walaupun beliau jg menganjurkan bbrpa amalan yg menurut saya itu tidak boleh, sy ttp mendengarkan beliau. Saya fakir ilmu, masih terus belajar kepada yang pintar. Saya pikir, perbedaan ini tidak akan pernah selesai sampai kapanpun juga.

anda kok anti banget sama tahlil. setahu sy tahlil itu bacaan Laa ilaaha illallah. lalu sewaktu dzikir, apa yang anda baca? yaa mobil, yaa motor, yaa cewek...
wong masalah gitu aja jadi perpecahan ummat.. sudah terjaminkah anda masuk sorga dan yang lainnya masuk neraka?

islam menuntut perilaku lahir batin ma'rifatulloh bukan mengolok-olok,generasi sekarang tidak akan tahu kalau tidak ada generasi sebelumnya, akan ku tambah wawasanku dgn merambat bukan instan,hormati yg tua,binalah generasi dgn bijak,sayangi yg muda

apalagi bin bos bin jahil saya libas

NU, PERSIS, MUHAMMADIYAH. Kita adalah saudara semuslim.
Tolong jangan saling berselisih. Saya NU, Tapi saya sangat menghargai perbedaan pendapat antar umat beragama. Apalagi kita sebagai sesama muslim, saya sangat2 menghargai perbedaan pendapat di antara kita. Untukku agamaku, untukmu agamamu.
Jadi tolong sekali lagi jangan saling berselisih. INGAT kita saudara semuslim juga sebangsa dan senegara.

Hidupnya bejat tapi punya banyak uang dan kerabat,..dia gak takut klo mati bakal kena azab...asalkan ada uang dan kerabat kehidupan di akhiratpun akan selamat...cukup si calon mayit berpesan sama kerabatnya sering2 kirim hadiah tahlilan sama dia ktika ddalm kubur...dijamin doa kerabatnya bakalan ngehapus dosa2nya dan itu lebih hebat mendatangkan menfaat baginya didalam kubur ketimbang doa dari anak yg sholeh, amal zariah dan ilmu yg bermanfaat baginya..

Anak yg sholeh gak ada gunanyam amal zariah itu omong kosong, apalagi ilmu yg bermanfaat..semuanya gak ada manfaatnya..yg penting hidup ini asal punya kerabat yg bisa kirimin doa tahlilan, bacain surat yasin udah bisa ngejamin hidup kita dikubur bakalan enak,,,kasian bagi si miskin gak punya uang buat acarain tahlilan keluarganya,,tanggung sendiri dah dosa si almarhum siapa suruh hidup melarat gak punya uang buat adain acara tahlilan...pokoknya yg nganggap tahlilan gak penting itu cuma org2 miskin karna dia gak mampu dan gak punya uang...

Tercela lah bagi yg gak melakukan tahlilan buat keluarganya...klo kalian tidak m3lakukannya karna sahabat rasulullah tidak melakukannya itu urusan kalian bagi kami aswaja ulama kami lebih hebat dari para sahabat,, kami punya banyak wali2,, cukuplah wali2 dan ulama2 kami kaum aswaja yg kami ikutin..karna mereka lebih tau masalah agama ketimbang para sahabat rasulullah,,,ulama kami bisa terbang, menghilang, berjalan diatas air,, sedangkan sahabat gak bisa seperti itu,,

Tahlilan memuji2 Allah itu baik tapi berkumpul2 dirumah keluarga almarhum sambil makan2 itu gak baik,,jd gak perlu mencampur adukan sesuatu yg baik dengan hal yg tidak baik,,,inilah Aswaja nusantara yg sukanmencampur adukan yg haq dan bathil,,,mereka rela hidup berdampingan disuatu wilayah yg didalamnya penuh kemaksiatan, mereka rela hidup dibawah undang2 buatan manusia, mereka rela wanita2nya tidak menutup aurat, mereka rela istri2nya bercamour baur dengan teman laki2nya, mereka rela agamanya dicampur adukkn dengan budaya jahiliyah nenek moyangnya yg kafir...mereka rela mengangkat org2 kafir jadi pemimpinnya...mereka rela dan menghalalkan musik2 didendangkan dalam kesehariannya,,adakah dari semua itu sesuai dengan sunah nabi,,,ataukah gelar aswaja hanya sebagai topeng untuk menutupi kemunafikan.....

Wahh sepertinya prustasi berat yang saya tangkap dari untaian kata di atas nihh..sabarrr...wahai saudara2 seiman semoga kita semua sama2 diridhoi oleh Allah subhanah wa ta'ala

Wahh sepertinya prustasi berat yang saya tangkap dari untaian kata di atas nihh..sabarrr...wahai saudara2 seiman semoga kita semua sama2 diridhoi oleh Allah subhanah wa ta'ala

Saya tiap malem jumat tahlilan di rumah sendiri...mendoakan keluarga saya yang sudah meninggal.... dan dihadiri oleh keluarga sendiri.... cukup air putih saja..... kalo ada rezeki baru undang tetangga..... sekalian syukuran karena sudah diberi rezeki oleh Allah...... si panjul mau tahlilan gak punya duit.... kok dipusingin....

Setiap dalil yang mengutip kata Bid'ah tidak di jelaskan secara terperinci dan detail baik mengenai cara,sistematisnya,dan tata caranya.sedangkan dalam hadits hanya tertulis redaksi Bid'ah / dalam agama / dan sesat.Tapi apakah ada Hadist yang mengatakan secara detail bahwa kegiatan ini Bid'ah,kegiatan ini halal,kegiatan ini Haram...saya rasa tidak ada,yang saya fahami adalah baik itu Dalil Al Quran dan Hadits hanya menjadi suatu konsep secara Umum dan tidak mendetail,contoh : Al Quran tidak menjelaskan secara detail bagaimana tata cara sholat,tp di hadits terdapat penjelasan namun masih belum detail,misalnya bagaimana bila seorang muslim itu cacat dengan tangan / lengan buntung,kepala botak,atau cacat ga ada kaki,tentu hal ini akan di teruskan kepada Ijtihad Ulama,Nah ijtihad inilah yang akan di cari mengenai hal-hal yang belum ada di zaman Nabi SAW,sahabat,tabiin.maka dengan begitu Jumhur ulama berijma bahwa Ijtihad termasuk dasar hukum pengambilan penetapan dalam islam.jadi menurut saya,Mohon maaf jika salah.Al Quran,Hadits,Ijtihad (Qiyas,ijma,rayi) haruslah di satukan dalam dasar penetapan itu,dan ke 3 itu harus saling mendukung.karena bilama mana menafsirkan Hadits hanya dengan 1 orang taklid,maka khawatir ayat,hadits hanya akan digunakan untuk menguatkan pendapatnya / kelompoknya.contoh : Dalam Al Quran disebutkan bahwa sholatlah menghadap kiblat (baitullah).Lalu Nabi SAW mencotohkan dengan menghadap Mekkah.Lantas KH.Ahmad Dahlan dengan kecerdasannya melakukan tabayun dengan kompas untuk mengetahui arah tepatnya kiblat,Nah,apa yang di lakukan KH.Ahmad Dahlan itu tidaklah di ajarkan Rasulullah SAW,lantas apakah anda kaum yang suka membid'ahkan juga akan mem bid'ahkan konsepsi yang di ajarkan KH.Ahmad Dahlan???? Maka sungguh Ulama sudah meracik,meramu,dan mencari dalil-dalil mengenai bagaimana umat islam beribadah,bersyiar,dan berdakwah,bermuamalah.lalu mengenai Tahlilan gampang aja saya sich,yang mampu rezeki yang silakan adakan tahlilan,yang kurang mampu ga adain juga ga apa-apa.Simple toh.

Astagfirullah, masya Allah pada pinter semua ya . . luas dan dalam ilmunya. Semoga kebaikan untuk kita semua.

terimakasih sekali. penjelasan njenengan sangat saya butuhkan. kaum nahdhiyin harus lebih banyak menulis di internet biar informasinya berimbang. Saya takjub dengan keluasan ilmu para ulama hadist yang sangat teliti dalam meriwayatkan sanad.

dalam diskusi ilmiah, tidak perlu lah saling mencela pendapat. Tinggal pilih mau ikut ulama yang mana, apalagi kalau kita tidak tahu sama sekali kitab kitab hadist itu.

rendah hati menerima kebenaran, maka hikmah pasti mengalir dalma jiwa kita.

Adab juga penting dalam menuntut ilmu akhi.

menurut saya yg mau tahlilan di teruskan dan yg tidak tahlilan.gk usah ikut campur yg mau tahlilan..gk bilang syirik harom..ngadain tahlilan gk minta duit sampean kok repot..sebelum kalian di lhirkn surah yasin dan tahlil itu sdah ada.dn sebelun sampean bsa ngoceh..yasin tahlil sdh di baca..

Saudaraku seiman jangan buru-buru mengharamkan sesuatu, apalagi jika suatu amal telah memiliki dalil naqli dan aqli jelas. perbedaan pandangan wajar, karena di dalam islam ahlussunnah ada mazhab. semoga Allah merahmati kita semua, mari amalkan islam yang rahmat, damai, dan menyejukkan.

teriakasih atas ilmu pengetahuan yang telah diberikan kepada kami dan semoga beanfaat

pada sok pinter,
ndasmu sowek

bagimu agamamu, bagiku agamaku

berarti apabila tahlilan dilakukan diluar hari2 yang anda sebutkan boleh.....?
bagaimana dengan anjuran rasulullah kepada kita untuk melakukan ibadah disaat mereka melakukan kesesatan...?

“Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berdzikir kepada Allah di antara kaum yang lalai kepada Allah,sederajat dengan orang yang sabar di antara kaum yang melarikan diri
dari medan peperangan.”
(HR. Imam Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [9797] ).

JANGAN TERBURU-BURU MENGERJAKAN SESUATU AMALAN TAP ALANGKAH BAIKNYA KITA MINTA PETUNJUK DENGAN BERDO'A KEPADA ALLOH KALAU YANG KITA LAKUKAN BENAR UNTUK DI MUDAHKAN MENGAMALKANNYA DAN APA YANG TIDAK BENAR UNTUK DI JAUHKANNYA.

Mas Panjul benar adanya Bravo Panjul Njul

Wis rasah nganggo dalil wae apike. Nek nganggo ya le njumput nang nggone mbahne sing sasar kok. Sing arep yasinan, tahlilan resepsi nggone wong mati ulang tahun HUT kematian ya ben di teruske. sak puase

Paling selamat itu ya ngikut apa dan bagai mana rasulullah berbuat ketika menghadapi keluarga, sahabat dan sahabatnya yang akan dan setelah meninggal. Jadi untuk mencari kebenaran dalam memahami islam sebaiknya tidak fanatik terhadap organisasi. Ayo kita terus belajar untuk mencari kebenaran hakiki dalam rangka mencari ridha Allah semata.

Paling selamat itu ya ngikut apa dan bagai mana rasulullah berbuat ketika menghadapi keluarga, sahabat dan sahabatnya yang akan dan setelah meninggal. Jadi untuk mencari kebenaran dalam memahami islam sebaiknya tidak fanatik terhadap organisasi. Ayo kita terus belajar untuk mencari kebenaran hakiki dalam rangka mencari ridha Allah semata.

h h h h tanduk setan dari najd kok di kasih dalil.lah wong muhadisnya syeih albani aja mensortir derajat hadis nabi aja tanpa guru. ya jadi begini jadinya, awal bilang sesat, musyrik, kafir kemudian membasmi semua golongan islam seperti khowarij ISIS

Terus sampaikan kebenaran ini ust, kebanyakan yang membatalkan ajaran tua ini adalah mereka-mereka yang sebenarnya "malas beramal" dengan menghujahkan Bid'ah.. Walaupun tetap saja setelah disampaikan kepada mereka tetap hati mereka tertutup. Tugas kita hanya menyampaikan. (Innaka laa tahdii man ahbabta walaakinnAllaha yahdii mayyasyaa' waHuwa a'lamu bil muhtadiin)

klo Islam itu menurut kamu ya hancur berantakan

coba tanya sama yang suka / sering ngatain Bid'ah sama ulama Aswaja, Mazhab dia apa?
Pasti di akan bilang "mazhab saya Alquran dan Hadits", Artinya mereka tak berpegang mazhab Imam yang 4. atau mereka hanya mengambil dalailil para imam 4 terus dicampur aduk sesuai nafsu mereka,Ya rusak amal Ibadahnya, Emang meeka kira memeahmi al quran dan hadits itu cukup dengan membaca terjemahan, Naudzubillah... Contoh, Wudhunya Sesuai Imam Syafii, Sholatnya sesuai Imam Maliki eh bacaan-bacaannya ikut imam hanafi terus rukunnya ikut Imam Ahmad,,, Pie TOh... Ora Ngudeng.... Aku sih berprinsip Ikut Kiayi, Habaib, Para Wali Allah yang sudah Muktabaroh dan dibuktikan ke sholihannya,, tp bukan artinya saya gk ikut Alquran dan Hadits, ikut alquran dan hadits sebagaimana orang yang faham tentang alquran dan hadits,,,, Wallahuallam...

wahabi itu ingkar sunnah, buta huruf pula. buat apa dilayani?

allhamudlillah NU 100% Aswaja
orng tidak mengerti dan tidak berilmu biasanya memaki, menghina, bahkan mengkafirkan...

berat bagi orang wahabi...karena biasa disubsidi dari inggris,,,bg kita warga NU,,,sngt ikhlas..slain..sedekah...jg mempererat silaturahmi...bukankah itu adalah bagian sunnah

Kalau saya bukan nu,muhamadiyah,persis atau lainya,saya hanya pengikut quran dan rosululloh.sebagaimana dlm hadisnya yg artinya "telahku tinggalkan 2perkara yg dapat menyelamatkanmu dari azab yg pedih yaitu quran dan sunahku".lihat juga annisa : 59.

We la dalah, anda hafal hadis dan alquran? Tanpa ulama pewaris nabi untuk memahaminya?

We la dalah, anda hafal hadis dan alquran? Tanpa ulama pewaris nabi untuk memahaminya?

Wahabi itu kelompok yg kerjasama yahudi dan salibis internasional untuk memecah belah ummat Islam dari dalam maka waspadalah atas pelarangan bid'ahnye karena kekuatan Islam bersumber dari silatuhmi dan kekuatan Do'a lewat tawasyul nya ! Sehingga kaum wahabi berambisi untuk menghilangkan amalan itu ! Maka waspadalah

tenang...belajar dulu, amalin aja yang pasti-pasti,yang nggak pasti dipastikan dulu. yang pasti saja sudah padat luar dalam.Mari bersatu kita buat musuh luar nggak ngerocekin soal begini. Allah Maha Tahu yang dzohir dan yang bathin.Dihari Hisab semua akan tau.

Wah hebat ya katanya muslim ASWAJA tetapi ucapannya sangat provokatif sekali.Hebat hebat wkwkwk

Belajar dulu yang benar,apa itu wahabi apa itu sunni apa itu syiah.Jangan asal jeplak :v

Saya bkn Islam Muhammadiyah ataupun Islam NU, saya Muslim yg islam brtuhankan Allah SWT dn Rasulnya Muhammad SAW, Islam itu satu bersifat universal bagi semua manusia dan terus diikuti ZAMAN. Ingat saudara2ku Ada yg lebih penting yg kita jaga daripada kita berdebat tentang boleh tidaknya Tahlil yaitu membuat islam ini kuat, agar islam tdk dicabik2 dari dlm maupun luar, dipecah belah oleh org2 kelompok tertentu yg tdk brtanggungjawab, membuat opini negatif ttg islam lewat film, berita2 dn lain2, mmbuat faham atau aliran serta rasul2 palsu, yg tujuannya coba memecah islam ,menggerogoti dn mendiskriditkan islam.itu yg hrs lbh kita waspadai. pandangan Saya ttg tahlillan...ya Allah Ampuni kekhilafanku dan berikanlah selalu aku pencerahan dlm memahami serta memaknai Alquran dan Hadist). kegiatan tahlilan ada beberapa hal yg kita lihat.. ada silaturahim dgn kerabat tetangga, ada komunikasi ,info dan penyelesaian masalah si mati baik hutang piutang dll , ada sedeqah waktu, sedeqah tenaga, sedeqah materi berupa uang dll , sedeqah doa dan yassin , dan menyemangati buat yg ditinggal dr kerabat dan sodara. Kesibukan menyiapkan konsumsi. apakah kurang bermanfaat ?? jgn berlebihan atau fihak yg sdg berduka tdk memaksakan diri. sedeqah doa dan yasin buat yg mati dan yg ditinggal apakah tdak brmanfaat? memberikan apa yg ada yg kita bisa adalah ibadah dan sangat dianjurkan , yg diberikan adalah halal ( apakah harta dan apakah surah yasin dan doa itu halal sumbernya?) dilakukan scara ikhlas dan lillahi ta'ala ( urusan Allah menerima atau tdk bukan urusan orang krna ini hubungan vertikal kita sbgai individu dgn Allah). Orang Islam yg kuat adalah orang islam yg tangguh dalam segala asfek. sebelum beliau meninggalkan kita beliau berpesan jagalah Shalat kita dan peliharalah orang2 yg lemah disekitar kita. ( org yg berduka mereka adalah org yg lemah krna mereka ditinggal bapak, ibu, anak, dn keluarga, mereka menjadi duda, janda, yatim dan piatu) tanyakan kepada hati/ nurani saudaraku apakah kita layak memberi dan mereka yg mati dan ditinggal layak mendapatkan yg bisa kita berikan...Wasalam..

astaghfirullah..., mengapa kita mesti saling melemahkan, biarlah yang menjadi keyakinan kita masing2 dengan dalil-dalilnya yang kita yakini kesahihannya kita jalankan tanpa harus saling mengklime sebagai fihak paling benar....., beginilah suka dukanya sebagai genarasi yang tidak pernah bersama nabi....

berat cui... "barang siapa mendustai Ku (rasulullah), berarti iya mendustai Allah dan Aku (rasulullah)".. iiihhh ngeri ah.. kalo hadist2 yang sudah dishahihkan atau dihasan oleh sebagian ulama terus di dhoif kan oleh ustadz yang baru2 sekarang dengan Albani nya.. yg ndak jelas sanad nya.. weleh.. opo yo artinya "mendustai Allah dan Rasul".. Kafir kelessss.... halah.. wajar toh ngatain yang tahlilan kafir, wong yang ngomong kafir.. hadew...

alkamdulillah pencerahan beserta dalil2 yg disampaikan dari penulis penulis diatas tentang hukum talilan cukup membuat keyakinan saya semakin kuat akan kebenaranya. Bagi kami sebagai penganut agama islam tentu sangat dan harus menghormati pendahulu2 kita bukan mencelanya karena itu adalah bentuk beramal sholeh. Agama Islam mengajarkan yg indah buat umat manusia yaitu dengan bertaukit dilanjutkan berhubungan baik dengan Alloh dan juga dengan manusia. kemudian Rahmatan Lilalamin, amal Mahkruf Nahimunkar yg ditutup dengan Jihat Fisabilillah. dimulai dengan niat dan diakhiri dengan iklas. dengan petujuk Qur'an dan hadis bukan hasil kesempulan sendiri tanpa memandang pendahulu2 kita itu bagi kami org islam yang awam bukan para ahli.
asalamu 'alaikum Wr Wb

Artinya: “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.”

Keterangan: Hadits ini Lemah.

Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

Hadits 10

Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.”

Keterangan: Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa: Mizanul I’tidal IV : 90-91).

Sumber: https://muslim.or.id/270-derajat-hadits-fadhilah-surat-yasin.html

Klo dilihat rata2 hadis ttg yasin itu lemah dan palsu!, dan dari dalil admin yang terakhir mngatakan bhwa ada ulama yg mmbaca albaqarah dan arrad, kan nggak harus yasin, trus yg saya perhatikan dengan adanya yasinan ini tuan rumah harus kesusahan krn harus persiapkan ini itu pdahal mreka baru berduka, gimana menurut admin?

Seorang wanita ataukah seorang wanita istri si mayit. Mohon penjelasannya

Pernyataan panjul bodoh dan frustasi..sama bodohnya dengan" jadi orang tua boleh hidup bejat ga usah solat dll..kalo sudah punya anak soleh yg selalu mndoakan orang tuanya.

Lagi lagi panjul.penghina aswaja.penghina waliyulloh.jangan terlalu bangga disebut abi..antum..ummi..itu adat arab bukan sunnah.abu jahal juga pake kata2 itu. pakaian islami terlalu overgamis ninja..ujungnya jadi teroris pembunuh sesama muslim.

Apa lagi bangga jidatnya dah item dua..hati2 jadi ria tuh..merusak ibadah jadi nol..jenggot ga rapihkan tasyabuh sama pendeta saolin..sunnah sih sunnah tapi yg bnr..rapih.

Paling yg bilang palsu albani dan ibnul jauzi.annasai,al baihaqi,ibnu hibban,abbu dawud..mereka men shahihkan.

Paling yg bilang palsu albani dan ibnul jauzi.annasai,al baihaqi,ibnu hibban,abbu dawud..mereka men shahihkan.

Paling yg bilang palsu albani dan adzzahaby..imam ahmad,baihaqi,ibnu hibban,tirmidzi,abu dawud,ahmad bin hanbal dll menshahihkannya

Paling yg bilang palsu albani dan adzzahaby..imam ahmad,baihaqi,ibnu hibban,tirmidzi,abu dawud,ahmad bin hanbal dll menshahihkannya

Bingung saja mana yg benar. Semua mengaku benar dan semua saling menghina. Apa seperti ini kah islam sekarang?
Janganlah saling menghina. Kalo ada org non muslim baca komentar2 di atas, mereka tertawa. Malu seharusnya kita itu.
Jalankan saja apa yg kita anggap benar. Kl ad warga yg yasinan,bagivyg tdk ikut ya silahkan membaca alquran di rumahnya sendiri. Bagi yg yasinan jgn menjudge org dg wahabi. Pelajari dulu apa itu wahabi. Nabi itu mengislamkan org arab.

ya itulah islam sekarang, Nu suka mengklaim tanpa menyertai dalil, . . .hanya mengumpat mereka membela diri

nu adalah orgnisasi islam sejak zaman dahulu.dan itu islamnya indonesia bermadzab syafii beraqidah asyari .bagi orang berajaran wahabi lebih baik jngan sbarkan ajaran kalian di negara ini karna tidak cocok dngn ajaran kami.islam kalian wahai kaum wahabi cocok untuk negara kalian bukan negara kami....dan kami,orang tua kami,masyarakat kami memeluk islam karna jasa wali songo bukan karna jasa kalian..jadi jngn merusak kenyakinan kami

oh iya bagi yng ga hafal hadits dan ga pernah bca alquran jngn skali2 ngomong halal haram ..bahaya!!!klau ga percaya tanya aj ke gurumu syaikh ustad google..orang ga hfal hadits ngaji aj lewat buku atau google aj mau nentuin dalil...apa kalian ga sadar sama ucapan nabiku;"akan muncul kaum muda yg dangkal ilmunya ,ia shalat tidak seperti kalian shalat.ia membaca alquran tdak melebihi kerongkongan.ia kagum pada dirinya sendiri sungguh ia keluar islam sperti anak panah keluar dari busurnya...seperti itulah guruku menasehatiku saat aku mengaji di masa kecilku dulu

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Akhirnya nemu juga dalilnya, thanks ya...
salam kenal dari almond

Assalaammu 'alaikum
Saudara ku seagama dan setanah air
Rosullullah telah menjelaskan kepada kita bahwa perbedaan dalam hal fiqih merupakan rahmat .
Jdi tidak mengapa kita berbeda pendapat asalkan ada dalil yang menguatkannya
Tetapi yang terpenting disini
1. Jangan saling menghina
2. Jangan saling membid ahkan
3. Jangan saling bermusuhan
4. Jangan saling mengaharamkan suatu perkara
Kita semua mempunyai dalil dan argumentasi yang sma2 kuat .
Jdi buat apa diperpanjang lagi .yang penting kita saling menghormati antar pendalat
Kita adalah umat muslim . Harus bersatu .jangn saling mencela dan menghina
Trimakasih

BERAKITAN DENGAN IMAM NAWAWI berikut sekelumit yang perlu di perhatikan :
Telah berkata An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)……..

Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy -Syaamil dan lain-lain Ulama dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih. Dan hal inipun beliau tegaskan di kitab beliau “Raudlotuth Tholibin (2/145).

elah berkata Al Imam Asy Syairoziy, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

Dan Imam Nawawi menyetujuinya bahwa perbatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

Aq Orang NU..Tp aq 1000%kecewa berat n gk habis pikir dengn sttmen2 n sikp2 ketua nu akilsirod..makin hari makin sekuler n nunjukin bngt klo dia berseberangan dngn pndiri nu itu sendiri kh hasyim asary..mungkin kah benar kata orang2 akil sirod itu syiah ..wallahua'lam..yg pasti sikapnya liberal mnurutku..

Belajarlah dengan berlandaskan al-qur’an dan hadits agar kita tidak salah langkah dalam melakukan setiap amalan.,
salam transparan.org

Hehe kalo bingung tanyakan langsung ke kyai yang lebih ngerti mbak, misal gus mus / habib luthfi, jangan coba coba tanya di sosmed karna banyak fitnah tersebar

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon