logo blog

Kamis, 07 Februari 2013

Keutamaan Dzikir Secara Keras


Keutamaan Dzikir Secara Keras

(Tulisan ini adalah karya Syaikh Ismail Utsman Zain al-Yamani al-Makki yang berjudul ”Irsyadul Mu'minin” yang telah saya terjemah dan saya ’takhrij’ hadis-hadisnya. Dan telah dicetak atas nama Lembaga Bahtsul Masail NU Sby)

Dzikir sebagaimana boleh dilakukan secara lirih, juga diperbolehkan dengan suara keras. Kedua-duanya memiliki keutamaan yang akan kami terangkan. Dan keutamaan dzikir dengan suara keras lebih sempurna.[1] Inilah dasar dalam menegakkan syiar dalam syariat Islam, ajaran-ajarannya dan sunah-sunahnya, seperti dalam adzan dan iqamat, saat takbiratul ihram dalam salat, ritual-ritual haji dalam bentuk talbiyah, takbir, kumandang orang yang berhaji dengan doa, mengeraskan bacaan al-Quran saat salat Subuh dan dua rakaat permulaan salat Maghrib dan Isya', mengeraskan tasbih dan tahlil saat keluar pada dua hari raya. Kesemuanya itu sudah ada di masa Nabi, para sahabat dan tabi'in.

Membaca dzikir dengan suara keras adalah sebuah cara untuk memperbanyak orang berdzikir supaya hati mereka condong untuk ikut berdzikir.[2] Hanya saja dianjurkan supaya tidak terlalu keras, sebagaimana firman Allah Saw:

وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً ﴿١١٠﴾ (قَالَ الشَّيْخُ اِسْمَاعِيْلُ) "فَالتَّوَسُّطُ فِيْهِ هُوَ الْعَدْلُ وَهُوَ سَبِيْلُ اْلاِسْتِدَامَةِ عَلَيْهِ"
"Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"[3] (Al-Isra': 110). (Syaikh Ismail berkata) "Maka, suara yang sedang (tidak keras dan tidak lirih) adalah yang tengah-tengah dan cara untuk terus-menerus dalam berdzikir."

Dzikir dengan suara keras memiliki keutamaan dari pada dengan suara lirih, sebagaimana dijelaskan dalam hadis (Qudsi) riwayat Mu'adz bin Anas:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللهُ تَعَالَى لاَ يَذْكُرُنِي عَبْدِي فِي نَفْسِهِ إِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ مِنْ مَلاَئِكَتِي وَلاَ يَذْكُرُنِي فِي مَلاَءٍ إِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى (رواه الطبراني)
"Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah berfirman: Tidak ada hamba-Ku yang meneybut-Ku dalam dirinya kecuali Aku menyebutnya dalam kelompok diantara malaikat-Ku. Dan tidak ada yang menyebut-Ku diantara kelompok yang mulia kecuali Aku menyebutnya dalam kelompok malaikat yang lebih tinggi"[4](HR al-Thabrani[5])

Dan hadis (Qudsi) dari Ibnu Abbas:

وَحَدِيْثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِذَا ذَكَرْتَنِي خَالِيًا ذَكَرْتُكَ خَالِيًا وَإِذَا ذَكَرْتَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنَ الَّذِيْنَ ذَكَرْتَنِي فِيْهِمْ (رواه البزار بسند صحيح) . (قَالَ الشَّيْخُ اِسْمَاعِيْلُ) "وَالذِّكْرُ فِي الْمَلاَءِ هُوَ الذِّكْرُ جَهْرًا وَحَسْبَ الذَّاكِرَ جَهْرًا هَذِهِ الْمَنْقَبَةُ الْعَظِيْمَةُ وَالْفَضْلُ الْمَزِيْدُ"
"Allah berfirman: Wahai anak Adam. Jika engkau menyebut-Ku dalam dirimu sendiri, maka Aku menyebutmu dalam diriku (tanpa diketahui yang lain). Dan jika engkau menyebut-Ku dalam kelompok yang mulia, maka Aku menyebutmu dalam kelompo yang lebih baik dari pada kelompok yang kau sebut Aku di dalamnya" (HR al-Bazzar dengan sanad yang sahih[6])

(Syaikh Ismail berkata) "Yang dimaksud dengan 'Dzikir dalam kelompok yang mulia' adalah dzikir dengan suara keras.[7] Dari dalil-dalil dan keutamaan inilah sudah cukup untuk menjadi pegangan bagi orang yang berdzikir dengan suara keras."

Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Wajib Secara Keras
Baik Sendiri atau Berjamaah

Keutamaan dzikir dengan suara keras tidak dibatasi oleh waktu. Diantara waktu-waktu yang ada adalah setelah salat wajib. Maka boleh melakukan dzikir dengan keras setelah salat, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas ini:

اِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخاري)
”Sesungguhnya mengeraskan (bacaan) dzikir setelah para sahabat selesai melakukan salat wajib sudah ada sejak masa Nabi Muhammad Saw.”[8] Ibnu Abbas berkata: “Saya mengetahui yang demikian setelah mereka melakukan salat wajib dan saya mendengarnya”[9]

Ini adalah dalil disyariatkannya dzikir secara keras setelah salat dan keutamaannya. Dzikir ini memiliki faidah yang banyak. Diantara yang terbesar adalah dapat melunakkan hati, mendorong untuk mengingat Allah dan nikmat-nikmatnya, menampakkan bentuk ibadah, khusyuk setelah bermunajat kepada Allah, merendahkan diri kepada Allah, menghadap kepada Allah, dan memperlihatkan pemberian dari Allah.

Dalam penutupnya, Syaikh Ismail berkata:

فَاحْرِصْ عَلَى هَذَا الذِّكْرِ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوْضَاتِ وَلاَ يَصُدَّنَّكَ عَنْهُ اِنْكَارُ بَعْضِ الْمَحْرُوْمِيْنَ وَاحْذَرْ اَنْ تُحْرِمَ نَفْسَكَ مِنْ اَجْرِ هَذِهِ الطَّاعَةِ وَفَضْلِهَا الْمَشْهُوْدِ وَاللهُ تَعَالَى لاَ يُضِيْعُ اَجْرَ مَنْ اَحْسَنَ عَمَلاً وَاْلاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Maka gemarlah untuk melakukan dzikir ini setelah salat wajib lima waktu. Dan janganlah keengganan sebagian kelompok yang melarangnya dapat menghalangi anda untuk melakukan dzikir di atas. Janganlah anda mengahalangi diri anda sendiri untuk mendapatkan pahala dan keutamaan ibadah yang dapat disaksikan secara nyata ini. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Semua amal tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya masing-masing.


[1] Sementara hadis yang berbunyi: Khairu al-dzikri al-khafiyyu ('Sebaik-baik dzikir adalah yang samar' HR Ahmad No 1477 dan Ibnu Hibban No 809), maksudnya adalah dzikir dalam hati dengan memikirkan keagungan Allah dan kebesaran ciptaan-Nya, sebagaimana dalam Syarah Sahih Muslim (Imam Nawawi) IX/56.
[2] Diriwayatkan dari Ibnu Umar secara marfu': "Dzikir dengan suara lirih lebih utama daripada dzikir secara keras. Dan dzikir secara keras lebih utama bagi orang yang dijadikan imam dalam dzikir" (al-Dzhabi dalam Lisan al-Mizan II/665)
[3] Ibnu Katsir berkata: "Janganlah mengeraskan bacaan al-Quran, sebab akan dicacimaki oleh orang-orang musyrik. Dan jangan melirihkannya, sebab sahabat-sahabatmu tidak bisa mendengarnya. Ibnu Abbas berkata: Setelah Rasulullah hijrah, maka tidak ada halangan lagi dan beliau bisa melakukan sesuai keinginannya" (Tafsir Ibnu Katsir V/128)
[4] Al-Munawi berkata: "Hadis ini menjelaskan bahwa dzikir lisan secara keras lebih utama daripada dzikir lirih atau dzikir dalam hati" (Faidl al-Qadir Syarh al-Jami' al-Shaghir IV/647)
[5] HR al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir No 16803. al-Hafidz al-Haitsami berkata: Sanadnya hasan (Majma' al-Zawaid X/19)
[6] HR al-Bazzar No 5138. Al-Hafidz al-Haitsami berkata: Perawinya adalah sahih selain Basyar bin Mu'adz al-Uqadi, ia perawi terpercaya (Majma' al-Zawaid X/19)
[7] Penafsiran ini sesuai dengan ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau berkata: "Makna hadis Qudsi diatas adalah: Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya maka Aku menyebutnya dengan pahala yang tidak Aku perlihatkan kepada siapapun. Dan jika ia menyebut-Ku dengan suara keras, maka Aku menyebutnya dengan pahala yang Aku perlihatkan kepada kelompok malaikat yang paling tinggi" (Fath al-Bari XIII/386)
[8] Imam Nawawi berkata: "Riwayat ini adalah dalil sebagian ulama salaf mengenai disunahkannya mengeraskan suara bacaan takbir dan dzikir setelah salat wajib" (Syarah Sahih Muslim II/260). Al-Mubarakfuri berkata: "Anjuran mengeraskan suara dengan takbir dan dzikir setelah setiap salat wajib adalah pendapat yang unggul (rajih) menurut saya, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas diatas" (Syarah Misykat al-Mashabih III/315)
[9] HR Bukhari No 796, Muslim No 919, Ahmad No 3298, dan Ibnu Khuzaimah No 1613. Riwayat Ibnu Abbas ini juga diperkuat oleh sahabat Abdullah bin Zubair, ia berkata: "Rasulullah Saw mengeraskan (yuhallilu) kalimat-kalimat dzikirnya setiap selesai salat" (Sahih Muslim No 1372, Ahmad No 16150 dan al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra No 3135).

8 komentar

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Kesannya kok dipaksakan sekali ya... juga tidak lengkap keterangannya -

nah ini nih yang lagi saya cari, sangat bermanfaat untuk menghilangkan beban pikiran,,

Salah satu keutamaan yang lain adalah mencegah ngantuk,,hh

banyak faidillah yang dapat kita ambil dari dzikir jahr.

kawah

Assalamu'alaikum
Ustadz, saya baru membaca dari salah satu website ini mengenai masalah dzikir dengan suara keras. Mohon penjelasannya

https://rumaysho.com/2068-mengeraskan-suara-pada-dzikir-sesudah-shalat.html

https://almanhaj.or.id/1501-hukum-mengangkat-suara-ketika-berdzikir-setelah-shalat.html

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon