logo blog

Selasa, 05 Februari 2013

Menggali Hikmah Maulid


Menggali Hikmah Maulid;
Mencintai dan Meneladani Rasulullah Saw
M Ma’ruf Khozin

Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
”Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali imran: 31)

Allah Menempatkan Raulullah Dalam Posisi Terbaik dan Ideal
Dalam kitab-kitab Tarikh (sejarah) telah disebutkan bahwa ketika perang Badar terjadi umat Islam mengalami kemenangan. Saat itu pula ada seorang paman Rasulullah bernama Sayidina Hamzah bin Abdul Mutallib yang telah banyak membunuh orang-orang kafir. Diantara korban yang terbunuh adalah Abu Sufyan bin Harb seorang suami dari Hindun binti Utbah. Ia merasa ingin membalas dendam atas kematian suaminya dengan membunuh Hamzah. Maka saat perang Uhud, dimana umat Islam kalah, kala itu Hindun menyewa budak bayaran bernama Wahsyi untuk membunuh Hamzah. Ketika perang terjadi, dengan liciknya Wahsyi menghunus tombak kearah Hamzah dari belakang hingga Hamzah pun tersungkur jatuh dan meninggal.

Kekejaman kafir Quraisy saat mengalahkan umat Islam sangat tidak manusiawi. Banyak korban dari Sahabat Rasulullah Saw yang dimutilasi, dipotong-potong anggota tubuhnya, termasuk Sayidina Hamzah. Bahkan kekejaman Hindun sampai mengambil jantung Hamzah. Dan korban meninggal umat Islam dari Muhajirin berjumlah 6 orang dan dari Anshar sebanyak 64 orang. Melihat keadaan demikian Rasulullah dan para sahabat merasa sedih dan marah, maka wajar jika para sahabat mengecam dan memberi ancaman: “Sungguh jika kami mengalahkan mereka, maka kami akan membalas seperti mereka (memutilasi)”. Dalam riwayat lain, ketika Rasulullah sedih melihat kondisi Hamzah beliau berkata: “Saya akan balaskan untukmu 70 orang dari kafir Quraisy.” Kemudian Allah menurunkan ayat yang artinya: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar” (an-Nahl: 126), kemudian Rasulullah bersabda: “Kami akan bersabar, dan tidak membalas dendam” (Diriwayatkan oleh Turmudzi, ia menilai hasan, juga oleh an-Nasai, Abdullah bin Ahmad Hanbal dalam Zawaid Musnad, Ibnu Hibban, al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwah dan al-Hakim, ia menilainya sahih)

Dalam riwayat ini, ada dua sisi aspek dalam diri Rasulullah. Pertama, sebagai seorang manusia Rasulullah juga memiliki sifat-sifat manusia pada umumnya, seperti senang, marah, makan minum, menikah, memiliki anak dan sebagainya. Maka kemarahan Rasulullah atas kejadian mengenaskan diatas adalah bagian dari diri Rasulullah sebagai manusia, yang sahabat dan kerabatnya dibunuh secara tragis. Kedua, sebagai utusan Allah, yang memiliki jiwa dan rohani ‘ketuhanan’ yang setiap ucapannya berupa wahyu, dalam hal ini beliau berada di atas rata-rata manusia pada umumnya. Oleh karenanya ketika Allah memberi pilihan kepada beliau berupa “Boleh membalas dendam sesuai yang dilakukan oleh orang-orang kafir” atau opsi “bersabar”, maka dengan tegas dan tanpa ragu Rasulullah memilih opsi ‘bersabar’, karena disisi Allah itu adalah pilihan terbaik.
الدر المنثور - (ج 6 / ص 184)
أخرج الترمذي وحسنه وعبد الله بن أحمد في زوائد المسند ، والنسائي وابن المنذر وابن أبي حاتم وابن حبان وابن مردويه والحاكم وصححه والبيهقي في الدلائل ، عن أبي بن كعب رضي الله عنه قال : لما كان يوم أحد أصيب من الأنصار أربعة وستون رجلاً ، ومن المهاجرين ستة ، منهم حمزة فمثلوا بهم فقالت الأنصار : لئن أصبنا منهم يوماً مثل هذا لَنُربِيَنَّ عليهم ، فلما كان يوم فتح مكة أنزل الله : { وإن عاقبتم فعاقبوا بمثل ما عوقبتم به ولئن صبرتم لهو خير للصابرين } فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « نصبر ولا نعاقب . . . كفوا عن القوم إلا أربعة » .
الدر المنثور - (ج 6 / ص 184)
وأخرج ابن سعد والبزار وابن المنذر وابن مردويه والحاكم وصححه والبيهقي في الدلائل ، عن أبي هريرة : « أن النبي صلى الله عليه وسلم وقف على حمزة حين استشهد ، فنظر إلى منظر لم يَرَ شيئاً قط كان أوجع لقلبه منه ، ونظر إليه قد مثل به فقال : رحمة الله عليك فإنك كنت ما علمت وصولاً للرحم فعولاً للخيرات ، ولولا حزن من بعدك عليك لسّرني أن أتركك حتى يحشرك الله من أرواح شتى ، أما والله لأمثلن بسبعين منهم مكانك . فنزل جبريل والنبي صلى الله عليه وسلم واقف بخواتيم النحل { وإن عاقبتم فعاقبوا بمثل ما عوقبتم . . . } الآية . فكفّر النبي عن يمينه وأمسك عن الذي أراد وصبر »
Dan teramat banyak kisah Rasulullah Saw yang menunjukkan sifat-sifat mulia, sehingga Allah pun memuji beliau yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (al-Qalam: 4)

Karena Rasulullah Saw telah mampu menempatkan posisi yang terbaik dan ideal, maka Allah menilai Rasulullah Saw sebagai panutan, suriteladan, dan memerintahkan umatnya meneladani Rasulullah Saw: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (al-Ahzab: 21)

Mencintai Rasulullah Saw
Ketika Rasulullah telah menjadi makhluk terbaik dan pujian Allah makin mengokohkannya, maka Rasulullah adalah orang yang layak untuk dicintai. Bahkan Rasulullah Saw menjadikan kecintaan kepada beliau sebagai kesempurnaan keimanan:
فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِه
“Laa yu’minu ahadukum hattaa akuuna ahabba ilaihi min waalidihi wa waladihi”. Artinya: “Keimanan diantara kalian tidaklah sempurna, sehingga Aku (Muhammad) lebih ia cintai dibanding orangtua dan anaknya” (HR Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat sahih lainnya disebutkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, seseorang dapat merasakan manisnya iman.

Bagaimana menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah? Cinta adalah sebuah ‘rasa’ dalam hati yang selalu ingin mendapatkan yang ia inginkan. Cinta ditimbulkan oleh fakto-faktor diluarnya yang dapat mempengaruhi hati. Artinya, cinta ada yang bersifat watak seperti lelaki pada wanita, dan ada yang bersifat ‘diusahakan’. Misalnya awalnya seseorang membenci kawannya karena tidak mengetahui kepribadiannya, maka ketika kawannya tersebut dermawan dan sering memberi uang kepadanya, maka dengan sendirinya akan timbul rasa cinta kepadanya.

Begitu pula cinta kepada Rasulullah Saw. Umat beliau yang belum meincintainya karena tidak ada dorongan yang bisa mewujudkan rasa cinta kepadanya. Ketika seseorang mengetahui kepribadian Rasulullah, kesempurnaan perangainya, penerima wahyu Allah, sosok makhluk yang diberi hak untuk memberi syafaat nanti di hari kiamat, dan keistimewaan lainnya, maka akan menjadi pendorong dan stimulus untuk mencintai Rasulullah saw (Qadli ‘Iyaadl, asy-Syifaa’ bi Ta’riifi Huquuq al-Mushtafaa 2/29)

Meneladani Rasulullah Saw
Setidaknya ada 3 bahasa dalam al-Quran terkait masalah ini, yaitu “Athi’uu Allah wa Rasuulahu” (Patuhilah Allah dan Rasul-Nya), “Fattabi’uunii” (Maka ikutilah aku) dan “Fi Rasulillahi uswatun hasanatun” (Dalam diri Rasulullah terdapat keteladanan yang baik).

Kendatipun cinta bagian dari perilaku hati, maka wujud nyata dari kecintaan adalah mematuhi mengikuti, dan meneladani. Sementara jika ketiga hal ini tidak dilakukan, maka cintanya adalah dusta. Dan dengan tidak mematuhi Rasulullah, berarti telah secara sadar menolak untuk masuk surga, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »
Artinya: “Semua ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan (menolak). Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapa yang menolak? Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa mematuhiku maka ia masuk surga, dan barangsiapa durhaka kepadaku, maka ia telah menolak masuk surga“ (HR Bukhari No 7280)

Mematuhi, mengikuti dan meneladani mencakup banyak hal, diantaranya kewajiban dalam agama yang diperintah oleh Rasulullah Saw, seperti salat, juga kesunahan-kesunahan seperti salat Dluha, menjauhi hal-hal yang makruh, haram dan hal-hal yang dilarang, sebagaimana firman Allah
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
yang artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah… “(al-Hasyr: 7)

Berdasarkan ayat ini, yang harus ditinggalkan adalah yang dilarang oleh Rasulullah, bukan sesuatu yang tidak beliau amalkan. Hal ini diperkuat sabda beliau
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
 yang artinya: “Apapun yang aku larang bagi kalian maka jauhilah. Dan apapun yang aku perintahkan maka lakukanlah sesuai kemampuanmu” (HR Bukhari dan Muslim)

Sementara amaliyah yang tidak dijelaskan oleh Rasulullah tentang keharamannya dan yang tak beliau amalkan, maka boleh dilakukan selama tidak mengarah kepada perbuatan haram. Sebagaimana sabda Nabi Saw:
عن أبي الدرداء قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مَا أَحَلَّ اللهُ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ حَلاَلٌ وَمَا حَرَّمَ هُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ فَاقْبَلُوْا مِنَ اللهِ عَافِيَتَهُ فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَكُنْ لِيُنْسِىَ شَيْئًا ثُمَّ تلاَ " { وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا } "  رواه البزار والطبراني في الكبير وإسناده حسن ورجاله موثقون
“Apa yang telah dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya adalah halal. Apa yang ia haramkan adalah haram. Sesuatu yang ia diamkan (tidak dijelaskan halal-haramnya) adalah sebuah dispensasi, maka terimalah dispensasi dari Allah: “Tuhanmu tidaklah pelupa” (HR Bazzar dan Thabrani, para perawinya terpercaya)

Dengan demikian, sebuah usaha dan upaya yang menjadi media dalam berbagai tradisi untuk mencapai kecintaan dan keteladanan kepada Rasulullah Saw adalah diperbolehkan, sebagaimana dalam Maulid Nabi dan sebagainya. Hal ini sesuai kaidah “Lil wasaaili hukm al-Makashid” (Media memiliki hukum sesuai tujuannya).

2 komentar

apa yang bisa kami dapatkan dan apa keutamaannya ? bersholawat atau diba'an atau ishari atau banjari-an atau syeskher, sedangkan kita banyak yang tidak tahu apa arti dari yang dibaca pada pembacaan sholawat2 tsbt

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon