logo blog

Kamis, 28 Februari 2013

Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab Ihya’ (Bag I)


Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab Ihya’ (Bag I)
(Ibnu Jauzi telah menuduh 30-an hadis dalam kitab Ihya’ sebagai hadis palsu. Namun setelah dikaji ulang berdasarkan penilaian ahli hadis lainnya ternyata banyak mengandung kesalahan)

فى الجزء الاول
Hadis I
No. 39 Hal. 20

حَدِيْثُ أَبِي ذَرٍّ " حُضُوْرُ مَجْلِسِ عِلْمٍ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ أَلْفِ رَكْعَةٍ وَعِيَادَةِ أَلْفِ مَرِيْضٍ وَشُهُوْدِ أَلْفِ جَنَازَةٍ ، فَقِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ : وَمِنْ قِرَاءَةِ اْلقُرْآنِ ؟ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَهَلْ يَنْفَعُ الْقُرْآنُ إِلَّا بِالْعِلْمِ ؟ "
** ذكره ابن الجوزي في الموضوعات من حديث عمر ولم أجده من طريق أبي ذر .
‘Menghadiri majlis ilmu lebih utama daripada salat (sunah) seribu rakaat, atau mengunjungi seribu orang sakit, atau menghadiri janazah. Rasul ditanya: (apakah lebih utama) dari membaca al-Quran? Rasul Saw menjawab: Bukankah al-Quran tidak berguna kecuali dengan ilmu? (al-Iraqi: Hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at dari riwayat Umar, dan tidak saya temukan dari riwayat Abi Dzar)

Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini palsu. Salah satu perawi hadis ini bernama Mudzakkir, menurut Abu Bakar al-Khatib: Ia adalah perawi matruk (ditinggalkan). Salah satu perawi lainnya adalah al-Harawi, dia adalah al-Juwaibari, orang yang memalsukan hadis. Ahmad bin Hanbal berkata: Ishaq bin Bahbah (salah satu perawi yang juga guru dari al-Juwaibari) adalah orang paling pendusta (al-Maudlu’at I/223)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini palsu, yang dibuat-buat oleh al-Juwaibari. Gurunya (Ishaq bin Bahbah) adalah orang paling pendusta. Dan Mudzakkir adalah perawi matruk (ditinggalkan). (al-La’ali al-Mashnu’ah I/182)

Hadis II
No. 146 Hal. 62

حَدِيْثُ مُعَاذٍ " مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُوْنَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْاِسْتِمَاعِ " ص 62
** أخرجه أبو نعيم وابن الجوزي في الموضوعات .
‘Diantara cobaan orang yang berilmu adalah lebih senang berbicara daripada mendengarkan’ (al-Iraqi: Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dan Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at)

Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini batil baik secara sanad hadis atau perkataan sahabat. Hadis ini tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah, atau Muadz bin Jabal. (Dalam hal ini Ibnu al-Jauzi memiliki dua jalur sanad) Dalam sanad yang pertama, terdapat Khalid bin Yazid, yang menurut Yahya bin Ma’in dan Abu Hatim al-Razi: Dia sangat pendusta. Dalam sanad ini juga terdapat perawi Jabarah bin Mughallis, menurut Abdullah bin Ahmad: Hadis-hadisnya palsu. Menurut Ibnu Hibban: Jabarah membalik-balikkan sanad hadis, dan me-marfu’-kan hadis yang mursal. Juga terdapat perawi yang bernama Mindal bin Ali, yang dinilai dlaif oleh Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in dan Nasa’i. Menurut Ibnu Hibban: Ia berhak untuk ditinggalkan (matruk).
Dalam sanad yang kedua, terdapat Thalhah bin Zaid. Nasa’i berkata: Ia hadisnya ditinggalkan. Ibnu Hibban berkata: Tidak halal menjadikan hadisnya sebahai dalil (hujjah). (al-Maudlu’at I/264)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Riwayat ini disebutkan oleh al-Marhabi dalam kitab Fadl al-Ilmi. Dengan demikian, prasangka yang dituduhkan kepada Khalid menjadi hilang. Begitu pula diriwayatkan oleh al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus, juga oleh Ibnu Mubarak dalam kitab al-Zuhd yang me-mauquf-kan riwayat tersebut kepada Yazid. Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Ibnu Abdi al-Barr dalam kitab al-Ilmi, dan dia berkata: Seperti ucapan Yazid bin Abi Habib ini, mulai awal hingga akhir, telah diriwayatkan dari Muadz bin Jabal dari beberapa jalur berbeda yang terputus (al-La’ali al-Mashnu’ah I/203)

Ali al-Kannani:
Jabarah adalah seorang perawi yang dikutip hadisnya oleh Ibnu Majah (disebut sebanyak 22 kali). Ibnu Namir berkata: Dia orang yang sangat jujur. Maslamah bin Qasim berkata: Dia terpercaya Insyaallah. Nashr bin Ahmad al-Baghdadi berkata: Jabarah pada dasarnya sangat jujur, hanya saja Ibnu Hammani merusak kitab-kitabnya. Ibnu ‘Adi berkata: Ia tidak pernah berdusta secara disengaja, hanya lupa saja. Sedangkan Mindal, hadis-hadisnya telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan tidak dituduh pendusta hadis. Dikutip dari Ibnu Ma’in bahwa tidak ada kesalahan yang berarti pada Mindal, hadisnya boleh ditulis. Ibnu Sa’d berkata: Mindal adalah dlaif, tapi sebagian ulama menerima hadisnya dan menilainya sebagai orang yang bisa dipercaya, dia orang baik dan utama. Dengan demikian secara global, hadis tersebut dlaif. Sementara menurut al-Hafidz al-Iraqi, riwayat diatas adalah perkataan Yazid bin Abi Habib, yang dikutip oleh Ibnu Mubarak dalam kitab al-Raqaiq wa al-Zuhd. (Tanzih al-Syari’ah I/269)

Catatan Penulis:
Imam al-Ghazali mencantumkan teks dan riwayat ini sebanyak dua kali dalam kitab Ihya’. Pertama dalam bab al-Ulama al-Akhirah, beliau menyebutnya sebagai riwayat mauquf pada Muadz bin Jabal dan hadis marfu’. Kedua dalam bab al-Khaudl fi al-Bathil, sebagai riwayat dari Yazid bin Abi Habib.

Hadis III
No. 148 Hal. 62

حَدِيْثُ جَابِرٍ " لَا تَجْلِسُوْا عِنْدَ كُلِّ عَالِمٍ إِلَّا إِلَى عَالِمٍ يَدْعُوْكُمْ مِنْ خَمْسٍ إِلَى خَمْسٍ : مِنَ الشَّكِّ إِلَى اْليَقِيْنِ ، وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ ، وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى الزُّهْدِ ، وَمِنَ الْكِبَرِ إِلَى التَّوَاضُعِ ، وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى النَّصِيْحَةِ "
** أخرجه أبو نعيم في الحلية وابن الجوزي في الموضوعات .
‘Janganlah kalian duduk di sanding orang yang berilmu kecuali ia mengajak kalian dari 5 hal menuju ke 5 hal yang lain; yaitu dari ragu manuju yakin, dari pamrih menuju ikhlas, dari cinta materi secara berlebih menuju zuhud (tidak mencintai materi), dari sombong menuju merendahkan diri, dan dari permusuhan menuju nasehat’ (al-Iraqi: Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab al-Hilyah dan Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at)

Ibnu al-Jauzi:
Ini bukanlah perkataan Rasulullah Saw. Abu Nuaim berkata (al-Hilyah VIII/70) : Ini adalah ucapan Syaqiq yang berceramah di hadapan murid-muridnya. Sehingga orang-orang salah persepsi dan menganggapnya sebagai hadis marfu’. (al-Maudlu’at I/257)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Abu Nuaim berkata (al-Hilyah VIII/70) : Ini adalah ucapan Syaqiq yang berceramah di hadapan murid-muridnya. Sehingga orang-orang salah persepsi dan menganggapnya sebagai hadis marfu’ dan mereka mencantumkan sanadnya. (al-La’ali al-Mashnu’ah I/194)

Hadis IV
No. 160 Hal. 68

حَدِيْثُ أَنَسٍ " الْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ عَلَى عِبَادِ اللهِ تَعَالَى مَالَمْ يُخَالِطُوْا السَّلَاطِيْنَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ فَقَدْ خَانُوْا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوْهُمْ وَاعْتَزِلُوْهُمْ " (مرتين)
** أخرجه العقيلي في الضعفاء ، وذكره ابن الجوزي في الموضوعات .
‘Ulama adalah kepercayaan para Rasul atas hamba-hamba Allah, selama mereka tidak berbaur dengan para raja (pemerintah). Jika mereka melakukan hal itu, maka mereka telah berkhianat kepada para Rasul. Maka waspadalah terhadap mereka dan jauhilah mereka’ (al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-Uqaili dalam kitab al-Dlu’afa’ dan Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at)

Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini bukan dari Rasulullah Saw. Dalam riwayat tersebut terdapat Umar al-Abdi, menurut Ahmad bin Hanbal: Kami membakar hadisnya. Yahya bin Ma’in berkata: Dia tidak ada apa-apanya. Nasa’i berkata: Dia matruk. Ada juga perawi Ibrahim bin Rustum, Ibnu ‘Adi mengomentarinya: Dia tidak dikenal. Sementara Muhammad bin Muawiyah dinilai oleh Ahmad bin Hanbal sebagai orang yang sangat pendusta. (al-Maudlu’at I/262)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini tidak palsu. Karena diriwayatkan melalui jalur lain, yaitu oleh Hasan bin Sufyan dalam Musnad-nya. Diantara perawinya adalah Ibrahim bin Rustum, ia dikenal dengan al-Marwazi, dia orang besar. Ibnu Hajar berkata dalam kitab Lisan al-Mizan bahwa Yahya bin Ma’in dan Abu Hatim menilainya sebagai orang terpercaya. Menurutnya dia berilmu fikih dan ibadah, semestinya adalah orang jujur. Ibrahim bin Rustum pernah ditawari oleh khalifah al-Ma’mun untuk menjadi seorang hakim tetapi ia menolak, dan dia termasuk orang yang dihormati oleh al-Ma’mun. Hal ini disampaikan oleh al-Hakim dalam kitabnya al-Tarikh. (al-La’ali al-Mashnu’ah I/200)

Al-Sakhawi dan al-’Ajluni:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-‘Askari dari riwayat ‘Awam bin Hausyab dari Abi Shadiq dari Ali secara marfu’. Awam adalah dlaif sanadnya. (al-Maqashid al Hasanah I/160 dan Kasyf al-Khafa’ II/87)

Hadis V
No. 629 Hal. 203

حَدِيْثُ " مَا مِنْ أَحَدٍ يَصُوْمُ أَوَّلَ خَمِيْسٍ مِنْ رَجَبَ ثُمَّ يُصَلِّي فِيْمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ وَاْلعَتَمَةِ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً يَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيْمَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ مَرَّةً وَإِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اِثْنَتَيْ عَشَرَةَ مَرَّةً ، فَإِذَا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ صَلَّى عَلَيَّ سَبْعِيْنَ مَرَّةً يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِ وَعَلَى آلِهِ ثُمَّ يَسْجُدُ وَيَقُوْلُ فِي سُجُوْدِهِ سَبْعِيْنَ مَرَّةً : سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَقُوْلُ سَبْعِيْنَ مَرَّةً : رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَةً أُخْرَى وَيَقُوْلُ فِيْهَا مِثْلَ مَا قَالَ فِي السَّجْدَةِ الْأُوْلَى ثُمَّ يَسْأَلُ حَاجَتَهُ فِي سُجُوْدِهِ فَإِنَّهَا تُقْضَى "
** في صلاة الرغائب أورده رزين في كتابه وهو حديث موضوع .

‘Tidak seorangpun yang berpuasa di awal hari kamis di bulan Rajab, kemudia di malam harinya antara salat maghrib dan isya’ melakukan salat sunah sebanyak 12 rakaat dengan sekali salam setiap dua rakaat, di setiap rakaat membaca al-Fatihah 1 kali, surat al-Qadr 3 kali, dan al-Ikhlas 12 kali, selesai salat membaca salawat 70 kali, lalu sujud dan membaca doa Subbuhun Quddusun Rabb al-Malaikati Wa al-ruh 70 kali, kemudian bangun dari sujud dan membaca doa Rabbi ighfir wa irhamwa tajawaz ‘amma ta’lamu innaka anta al-a’azzu al-akramu, sujud lagi yang kedua dan membaca doa yang sama dengan sujud pertama, terus meminta hajatnya ketika sujud, maka akan dikabulkan’ (al-Iraqi: Hadis ini dikutip oleh Ruzain dalam kitabnya, dan ini adalah hadis palsu)

Imam al-Nawawi:
Salat Raghaib, yaitu salat 12 rakaat yang dilakukan antara salat Maghrib dan Isya’ di awal Jumat bulan Rajab, dan salat malam Nishfu Sya’ban 100 rakaat, keduanya adalah bid’ah yang buruk dan munkar. Jangan tertipu karena keduanya dicantumkan dalam kitab Qut al-Qulub dan Ihya’ ‘Ulum al-Din, dan juga jangan tertipu dengan hadis-hadisnya, kesemuanya adalah hadis batil (al-Majmu’ IV/56)

Hadis VI
No. 811 Hal. 259

حَدِيْثُ " مَنْ وَجَدَ سَعَةً وَلَمْ يَفُدْ إِلَىَّ فَقَدْ جَفَانِي "
** أخرجه ابن عدي والدارقطني في غرائب مالك وابن حبان في الضعفاء والخطيب في الرواة عن مالك في حديث ابن عمر " مَنْ حَجَّ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي " وذكره ابن الجوزي في الموضوعات . وروى ابن النجار في تاريخ المدينة من حديث أنس " مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ أُمَّتِي لَهُ سَعَةٌ ثُمَّ لَمْ يَزُرْنِي فَلَيْسَ لَهُ عُذْرٌ " .
‘Barangsiapa memiliki kelapangan rezeki dan tidak berkunjung kepadaku, maka dia telah menyakiti aku’ (al-Iraqi: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dan Daruquthni dalam kitab Gharaib Malik, Ibnu Hibban dalam kitab al-Dluafa’, al-Khatib dalam kitab al-Ruwat ‘an Malik dalam hadis Ibnu Umar: ‘Barangsiapa beribadah haji dan tidak berziarah kepadaku, maka dia telah menyakiti aku’, dan hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at. Ibnu Najjar juga meriwayatkan dalam kitab Tarikh al-Madinah dari hadis Anas: Tidak seorangpun dari umatku yang memiliki kelapangan rezeki tapi tidak berziarah kepadaku, maka tiada udzur baginya)

Ibnu al-Jauzi:
Dalam riwayat tersebut terdapa Nu’man bin Syibli (al-Bahili). Menurut Ibnu Hibban: Dia membawa petaka dari orang-orang terpercaya. Menurut Daruquthni: Kecacatan hadis ini adalah dari Muhammad bin Muhammad, bukan dari Nu’man bin Syibli (al-Maudlu’at II/217)

Ali al-Kannani:
Hadis ini dikaji ulang, Zarkasyi berkata dalam kitab Takhrij Ahadits al-Rafi’i bahwa hadis tersebut dlaif, dan Ibnu al-Jauzi bersikap keterlaluan yang telah mencantumkannya dalam kitab al-Maudlu’at. Menurut Ibnu ‘Adi: Saya tidak menemukan hadis-hadis gharib milik Nu’man yang melewati batas. (Tanzih al-Syariah II/170)

Al-’Ajluni:
al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam kitab Takhrij Ahadits Musnad al-Firdaus bahwa hadis tersebut memiliki jalur riwayat dari Umar. Hadis ini oleh Ibnu ‘Adi dan Ibnu Hibban dicantumkan dalam kitab al-Dlu’afa’, oleh Daruquthni dalam kitab Gharaib Malik, dan oleh al-Khatib dalam kitab al-Ruwat ‘an Malik. Dengan demikian, tidak selayaknya menghukumi hadis tersebut sebagai hadis palsu. (Kasyf al Khafa’ II/244)

Hadis VII
No. 1179 Hal. 335

حَدِيْثُ " فَضْلُ : قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ () تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ  [آل عمران/26، 27] "
** أخرجه المستغفري في الدعوات من حديث علي " أن فاتحة الكتاب وآية الكرسي والآيتين من آل عمران شهد الله إلى قوله الإسلام وقل اللهم مالك الملك إلى قوله بغير حساب معلقات ما بينهن وبين الله حجاب . . . الحديث " وفيه " فقال الله لا يقرأكن أحد من عبادي دبر كل صلاة إلا جعلت الجنة مثواه . . . الحديث " وفيه الحارث بن عمير وفي ترجمته ذكره ابن حبان في الضعفاء وقال موضوع لا أصل له والحارث يروي عن الأَثبات الموضوعات . قلت : وثقه حماد بن زيد وابن معين وأبو زرعة وأبو حاتم والنسائي وروى له البخاري تعليقا .
‘Keutamaan membaca QS. Ali Imran: 26-27.’ (al-Iraqi: HR al-Mustaghfiri dalam kitab al-Da’awat dari Ali. Salah satu perawinya adalah Haris bin Umair, oleh Ibnu Hibban dicantumkan dalam kitab al-Dluafa’, dan dia berkata: Hadis ini palsu, tidak ada dasarnya dan dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari Atsbat. Tetapi ia (Harits) dinilai sebagai orang terpercaya oleh Hammad bin Yazid, Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Nasa’i, dan al-Bukhari meriwayatkannya sebagai hadis mu’allaq)

Ali al-Kannani:
al-Iraqi ditanya mengenai hadis ini, dia menjawab: Para perawi hadisnya dinilai terpercaya oleh ulama terdahulu, tetapi ulama muta’akhirin mengomentari sebagian perawinya. Yang dibicarakan adalah Muhammad bin Zanbur dan Harits bin Umair. Ibnu Zanbur dinilai terpercaya oleh Nasa’i dan Ibnu Hibban, menurut Ibnu Khuzaimah: Dia dlaif. Sedangkan Haris bin Umair dinilai sebagai orang terpercaya oleh Hammad bin Yazid, Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Nasa’i, dan al-Bukhari meriwayatkannya sebagai hadis penguat dalam kitab sahihnya, begitu pula pengarang kitab-kitab Sunan. Tetapi ia dinilai dlaif oleh al-Hakim dan al-Dzahabi (Tanzih al-Syariah I/288)

Al-Hafidz Ibnu Hajar:
Hadis ini munkar, sebagaimana menurut al-Dzahabi (Raudlah al-Muhadditsin X/54)

Hadis VIII
No. 931 Hal. 298

حَدِيْثُ " يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِنَّ كُلَّ حَسَنَةٍ تَعْمَلُهَا تُوْزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فَإِنَّهَا لَا تُوْضَعُ فِي مِيْزَانٍ لِأَنَّهَا لَوْ وُضِعَتْ فِي مِيْزَانِ مَنْ قَالَهَا صَادِقًا وَوُضِعَتِ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرَضُوْنَ السَّبْعُ وَمَا فِيْهِنَّ كَانَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَرْجَحَ مِنْ ذَلِكَ "
** قلت وصية أبي هريرة هذه موضوعة . وآخر الحديث رواه المستغفري في الدعوات " ولو جعلت لا إله إلا الله " وهو معروف من حديث أبي سعيد مرفوعا " لو أن السماوات السبع والأرضين السبع في كفة مالت بهن لا إله إلا الله " رواه النسائي في اليوم والليلة وابن حبان والحاكم وصححه .
‘Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya setiap kebaikan yang engkau perbuat akan ditimbang di hari kiamat, kecuali kalimat syahadat La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Kalimat itu tidak diletakkan dalam timbangan, sebab jika kalimat itu diletakkan dalam timbangan seseorang yang mengucapkannya dengan keikhlasan dan titimbang dengan langit tujuh, bumi tujuh dan seisinya, niscaya kalimat syahadat tersebut akan mengunggulinya’ (al-Iraqi: Saya berkata bahwa wasiat kepada Abu Hurairah ini adalah Palsu. Kalimat terakhir hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Mustaghfiri dalam kitab al-Da’awat, redaksi teks hadis terakhir diriwayatkan oleh al-Nasa’i dalam kitab al-Yaum wa al-Lailah, Ibnu Hibban dan al-Hakim, ia menilainya sebagai hadis sahih)

Al-’Ajluni:
Hadis ini riwayat al-Mustaghfiri dari Abu Hurairah, yang populer adalah dari Abu Said al-Khudri, dengan redaksi hadis:

لَوْ وُضِعَتْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كَفَّةٍ وَوُضِعَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ فِي كَفَّةٍ لَرَجَحَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
’Seandainya kalimat La ilaha illallah diletakkan di telapak tangan, kemudian langit dan bumi di telapak tangan yang lain, maka kalimat La ilaha illallah akan lebih berat’.  HR. Nasa’i, Ibnu Hibban dan al-Hakim, keduanya menilai sahih (Kasyf al-Khafa’ II/174)

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon