logo blog

Kamis, 28 Februari 2013

Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab Ihya’ (Bag II)


Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab Ihya’ (Bag II)
(Ibnu Jauzi telah menuduh 30-an hadis dalam kitab Ihya’ sebagai hadis palsu. Namun setelah dikaji ulang berdasarkan penilaian ahli hadis lainnya ternyata banyak mengandung kesalahan)

فى الجزء الثانى
Hadis IX
No. 1297 Hal. 4

حَدِيْثُ " اَكْرِمُوْا الْخُبْزَ "
** أخرجه البزار والطبراني وابن قانع من حديث عبد الله بن أم حرام بإسناد ضعيف جدا وذكره ابن الجوزي في الموضوعات .
‘Muliakanlah roti’ (al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-Bazzar, Thabrani dan Ibnu Qani’ dari Abdullah bin Ummi Haram, dengan sanad yang sangat lemah. Hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at)

Ibnu al-Jauzi:
Ini adalah hadis yang tidak benar. Dalam sanadnya terdapat Abdul Malik bin Abd al-Rahman, menurut Abu Hafsh al-Fallas, dia sangat pendusta (al-Maudlu’at II/291)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini memiliki jalur riwayat yang lain (tidak melalui Abd Malik bin Abd al-Rahman), seperti yang diriwayatkan oleh Hakim al-Tirmidzi, Abu Nuaim dalam kitab al-Hilyah (V/246), Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Kabir (No: 18284), Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman (No: 5869). Seperti teks riwayat hakim al-Turmudzi:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ e أَكْرِمُوْا اْلخُبْزَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى أَنْزَلَهُ مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَخْرَجَهُ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ

‘Muliakanlah roti, karena Allah menurunkannya dari berkah langit dan bumi’ (al-La’ali al-Mashnu’ah II/181)

Al Hafidz al-Haitsami:
Hadis tersebut dari riwayat al-Bazzar dan Thabrani. Ia menilai Abd Malik bin Abd al-Rahman sebagai perawi dlaif, bukan pendusta. (Makma’ al-Zawaid II/251)

Hadis X
No. 1333 Hal. 12

حَدِيْثُ " مَنْ صَادَفَ مِنْ أَخِيْهِ شَهْوَةً غَفَرَ اللهُ لَهُ وَمَنْ سَرَّ أَخَاهُ الْمُؤْمِنَ فَقَدْ سَرَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ "
ا** أخرجه البزار والطبراني من حديث أبي الدرداء " مَنْ وَافَقَ مِنْ أَخِيْهِ شَهْوَةً غُفِرَ لَهُ " قال ابن الجوزي حديث موضوع وروى ابن حبان والعقيلي في الضعفاء من حديث أبي بكر الصديق " مَنْ سَرَّ مُؤْمِنًا فَإِنَّمَا سَرَّ اللهَ . . . الحديث " قال العقيلي باطل لا أصل له .
‘Barangsiapa yang mengabulkan keinginan saudaranya, maka Allah akan mengampuninya. Dan barangsiapa yang menyenangkan saudaranya yang mukmin, maka ia telah menyenangkan Allah ‘azza wa jalla’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Thabrani dari Abu Darda’ dengan redaksi ‘wafaqa’. Ibnu al-Jauzi berkata bahwa hadis ini palsu. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Uqaili dalam kitab al-Dlua’fa’ dari Abu Bakar al-Shiddiq. Al-Uqaili berkata bahwa hadis ini adalah bathil dan tidak ada dasarnya)

Ibnu al-Jauzi:
Ini adalah hadis palsu. Dalam riwayat tersebut terdapat Umar bin Hafsh, menurut Ahmad bin Hanbal: Kami membakar hadisnya. Yahya bin Ma’in berkata: Dia tidak ada apa-apanya. Nasa’i berkata: Dia hadisnya matruk. (al-Maudlu’at II/171)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini juga diriwayatkan oleh az-Bazzar dan Thabrani. Thabrani berkata: Hafsh bukan orang yang kuat (dlaif). (al-La’ali al-Mashnu’ah II/72)

Ali al-Kannani:
Tuduhan atas hadis tersebut dikaji ulang, sebab hadis ini diperkuat oleh hadis lain yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No: 3231;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوْعًا قاَلَ e مَنْ أَطْعَمَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ شَهْوَتَهُ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ
‘Barangsiapa yang memberi makan kepada saudaranya yang muslim sesuai dengan keinginannya, maka Allah mengharamkan neraka kepadanya.’ Tetapi dengan sanad ini al-Baihaqi menilai munkar. (Tanzih al-Syariah II/135)

Al-Haitsami:
Hadis di atas diriwayatkan oleh al-Thabrani dan al-Bazzar, salah seorang perawinya adalah Ziyad bin Namir, ia dinilai terpercaya oleh Ibnu Hibban. Ibnu Hibban juga menilainya: Terkadang ia salah. Ziyad juga dinilai dlaif oleh ulama lain. Di dalam sanad tersebut ada seorang perawi yang tidak saya ketahui. (Majma’ al-Zawaid V/29)

Hadis XI
No. 1334 Hal. 12

حَدِيْثُ جَابِرٍ " مَنْ لَذَّذَ أَخَاهُ بِمَا يَشْتَهِي كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَى عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَأَطْعَمَهُ اللهُ مِنْ ثَلَاثِ جَنَّاتٍ جَنَّةِ اْلفِرْدَوْسِ وَجَنَّةِ عَدْنٍ وَجَنَّةِ الْخُلْدِ "
** ذكره ابن الجوزي في الموضوعات من رواية محمد بن نعيم عن ابن الزبير عن جابر وقال أحمد ابن حنبل هذا باطل كذب .
‘Barangsiapa yang memberi kesenangan kepada saudaranya sesuai dengan keinginannya, maka Allah mencatat baginya satu juta kebaikan, menghapus satu juta kesalahannya, mengangkat satu juta derajatnya, dan Allah memberinya makanan dari tiga surga, surga firdaus, ‘adn dan khuldi’ (Al-Iraqi: Hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at dari riwayat Muhammad bin Nuaim dari Ibnu Zubair dari Jabir. Ahmad bin Hanbal berkata: Hadis ini batil dan dusta)

Ibnu al-Jauzi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Ini hadis batil dan Muhammad bin Nuaim sangat pendusta. Abu Hatim al-Razi berkata: Dia tidak dikenal (al-Maudlu’at II/172)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Ini hadis batil dan Muhammad bin Nuaim sangat pendusta (al-La’ali al-Mashnu’ah II/73)

Al-Syaukani:
Ahmad bin Hanbal berkata: Hadis ini batil. Dalam sanadnya ada perawi yang sangat pendusta, yaitu Muhammad bin Nuaim. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Thabrani dari Jabir dengan redaksi:

مَنْ أَطْعَمَ أَخَاهُ خُبْزًا حَتَّى يُشْبِعَهُ وَسَقَاهُ مِنَ الْمَاءِ حَتَّى يَرْوِيَهُ بَاعَدَهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ سَبْعَ خَنَادِق كُلُّ خَنْدَقٍ مَسِيْرَةُ خَمْسِمِائَةٍ
‘Barangsiapa memberi makan roti kepada saudaranya hingga kenyang, atau memberi minum hingga hilang dahaganya, maka Allah akan menjauhkannya dari neraka dengan tujuh jurang, yang masing-masing jurang jarak tempuhnya 500 tahun’
Ibnu Hibban berkata: hadis ini palsu. Menurut Ibnu Hajar hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak (No hadis: 7172), al-Hakim berkata: Hadis ini sanadnya sahih dan al-Dzahabi tidak memberi komentar atas tashih ini (bahkan ia juga menilai sahih), padahal dalam sanad ini terdapat perawi yang bernama Raja’ bin Abi Atha’ al-Ma’afiri. Al-Hakim dalam kitabnya al-Tarikh dan al-Dzahabi mengatakan bahwa Raja’ bin Abi ‘Atha’ terkadang meriwayatkan hadis palsu. (al-Fawaid al-Majmu’ah I/36)

Al-Haitsami:
Hadis ini (riwayat al-Hakim secara sanad, dan teks hadis yang sedikit berbeda) juga diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir (No hadis: 1498) dan kitab al-Mu’jam al-Ausath (No hadis: 6706), tetapi Raja’ bin Abi Atha’ adalah perawi dlaif. (Majma’ al-Zawaid III/173)

Hadis XII
No. 1425 Hal. 38

حَدِيْثُ " جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ e فَقَالَ : إِنَّ لِي امْرَأَةً لَا تَرُدُّ يَدَ لَامِسٍ ، قَالَ : طَلِّقْهَا ، فَقَالَ : إِنِّي أُحِبُّهَا . قَالَ : أَمْسِكْهَا "
** رواه أبو داود والنسائي من حديث ابن عباس ، قال النسائي : ليس بثابت ، والمرسل أولى بالصواب . وقال أحمد : حديث منكر ، وذكره ابن الجوزي في الموضوعات .
‘Seseorang datang kepada Rasulullah Saw. Ia bertanya: Saya mempunyai istri yang tidak menolak dari sentuhan tangan lelaki lain. Nabi bersabda: “Ceraikan dia!” Orang tersebut berkata: “Tapi saya masih mencintainya.” Nabi bersabda: “Jangan kau ceraikan dia” (al-Iraqi: HR Abu Dawud dan Nasa’i dari Ibnu Abbas. Nasa’i berkata: Hadis ini tidak kuat. Hadis ini lebih tepatnya sebagai hadis mursal. Ahmad berkata: Hadis ini munkar. Dan Ibnu al-Jauzi mencantumkannya dalam kitab al-Maudlu’at)

Ibnu al-Jauzi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Hadis ini tidak dari Rasulullah Saw, tidak ada dasarnya (al-Maudlu’at II/272)

Jalaluddin al-Suyuthi:
al-Hafidz Ibnu Hajar pernah ditanya mengenai hadis ini, beliau menjawab: Hadis ini adalah Hasan-Sahih, dan tidak benar orang yang menilainya sebagai hadis palsu (al-La’ali al-Mashnu’ah II/1145)

Al-Hafidz Ibnu Hajar:
Perawi hadis ini adalah orang-orang terpercaya (Raudlat al-Muhadditsin III/80)

Al-Hafidz al-Haitsami:
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath (No: 4863 dan 6597), perawinya adalah perawi-perawi hadis sahih (Majma’ al-Zawaid II/228)

Hadis XIII
No. 1465 Hal. 43

حَدِيْثُ " أَوَّلُ حُبٍّ وَقَعَ فِي الْإِسْلَامِ حُبُّ النَّبِيّ e عَائِشَةَ "
** رواه الشيخان من حديث عمر بن العاص أنه قال : أي الناس أحب إليك يا رسول الله ؟ قال : " عائشة . . . الحديث " وأما كونه أول فرواه ابن الجوزي في الموضوعات من حديث أنس ، ولعله أراد بالمدينة كما في الحديث الآخر أن ابن الزبير أول مولود في الإسلام يريد بالمدينة ، وإلا فمحبة النبي e لخديجة أمر معروف تشهد له الأحاديث الصحيحة .
‘Rasa cinta yang pertama kali terjadi dalam Islam adalah cinta Nabi Muhammad Saw kepada Aisyah’ (Al-Iraqi: HR Bukhari-Muslim dari hadis Amr bin ‘Ash, ia bertanya: Siapa yang paling engkau cintai, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Aisyah. Sedangkan tentang ‘Rasa cinta yang pertama kali’ disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at dari hadis Anas)

Ibnu al-Jauzi:
al-Muqiri adalah perawi tunggal hadis ini dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Musa bin Muhammad bin Atha’, dan keduanya sangat pendusta. Ahmad dan Yahya berkata: al-Muqiri tidak ada apa-apanya. Ibnu Hibba berkata: Musa bin Muhammad memalsukan beberapa hadis atas nama perawi-perawi terpercaya (al-Maudlu’at II/267)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini diriwayatkan juga oleh al-Khatib dari al-Hafidz Abu Nuaim (al-Hilyah II/44) dari jalur Zuhri dari Anas. (al-La’ali al-Mashnu’ah II/141)

Ali al-Kannani:
Tuduhan palsu ini dikaji ulang. Selain al-Muqiri, Muhammad bin Zubair juga turut meriwayatkan dari Zuhri. (Tanzih al-Syariah II/206)

Hadis XV
No. 1526 Hal. 55

حَدِيْثُ أَنَسٍ " مَنْ حَمَلَ طَرْفَةً مِنَ السُّوْقِ إِلَى عِيَالِهِ فَكَأَنَّمَا حَمَلَ إِلَيْهِمْ صَدَقَةً "
** أخرجه الخرائطي بسند ضعيف جدا ، وأخرجه ابن عدي في الكامل . وقال ابن الجوزي : حديث موضوع
‘Barangsiapa yang membawa sesuatu dari pasar untuk keluarganya, maka seolah dia telah membawa sedekah untuk mereka’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-Kharaithi dengan sanad yang sangat lemah, dan oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab al-Kamil. Ibnu al-Jauzi mengatakan: Ini hadis palsu)

Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini palsu. Terdapat banyak perawi dlaif, seperti Yazid Raqqasyi yang sering salah dalam meriwayatkan hadis. Juga terdapat Dlirar bin Amr, bapaknya dlirar, dan Hammad bin Amr, menurut Yahya bin Ma’in: Mereka tidak ada apa-apanya. (al-Maudlu’at II/276)

Jalaluddin al-Suyuthi:
al-Iraqi dalam kitab Takhrij-nya menilai hadis ini sangat lemah (al-La’ali al-Mashnu’ah II/150)

Ali al-Kannani:
Penilaian palsu terhadap hadis ini dikaji ulang. Karena hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Dailami dan Abu Nuaim dalam kitab Fadlilah al-Muhtasibin dari Ibnu Abbas. Tapi dalam sanad ini terdapat Ali bin Hatim al-Makfuf dari Syarik, dalam kitab al-Mizan (al-Dzahabi) dia adalah majhul atau tidak dikenal dan terkadang ucapannya mengandung kemungkaran (Tanzih al-Syariah II/209)

Hadis XVI
No. 1636 Hal. 88

حَدِيْثُ " مَنْ أَكْرَمَ فَاسِقًا فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ الْإِسْلاَمِ " (مرتين)
** غريب بهذا اللفظ ، والمعروف " مَنْ وَقَّرَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ . . . الحديث " رواه ابن عدي من حديث عائشة ، والطبراني في الأوسط ، وأبو نعيم في الحلية من حديث عبد الله بن يسر بأسانيد ضعيفة قال ابن الجوزي : كلها موضوعة .
‘Barangsiapa yang memuliakan oran fasiq, maka ia telah turut andil dalam menghancurkan Islam’ (Al-Iraqi: Dengan redaksi tersebut hadis ini dinilai gharib (langka). Yang populer dengan teks: Barangsiapa yang mengagungkan pelaku bid’ah… Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dari riwayat Aisyah, oleh Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Ausath (No: 6963), dan oleh Abu Nuaim dalam kitab al-Hilyah (V/218 – VI/97 – VIII/103) dari riwayat Abdullah bin Yusr, semua sanadnya dlaif. Ibnu al-Jauzi mengatakan: Semua hadis tersebut adalah palsu)

Ibnu al-Jauzi:
Semua riwayat tentang hadis ini adalah batil dan palsu. Riwayat pertama dari Ibnu Umar, disini terdapat Abd al-Aziz bin Abi Dawud, menurut Ibnu Hibban: Dia menceritakan hadis dengan perkiraan dan penghitungan, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Riwayat kedua dari Ibnu Abbas, terdapat perawi bernama Bahlul, menurut Ibnu Hibban: Dia mencuri hadis, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Riwayat ketiga dari Aisyah, diantara perawinya adalah al-Khasyani, menurut Ibnu ‘Adi: Ini hadis batil dan palsu. Al-Khusyani meriwayatkan hadis yang tak ada dasarnya atas nama para perawi terpercaya. Yahya bin Ma’in berkata: Ia tidak ada apa-apanya (al-Maudlu’at I/270)

Jalaluddin al-Suyuthi:
(Hasan bin Yahya) Al-Khasyani dikutip hadisnya oleh Ibnu Majah (sebanyak 2 kali), menurut Dahim: Dia tidak apa-apa (ta’dil), menurut Abu Hatim: Dia sangat jujur, tetapi akurasi hafalannya kurang. Ibnu Adi berkata: Hadisnya bisa diterima. Dan dia diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitab Tarikh (XIV/4). (al-La’ali al-Mashnu’ah I/231)

Al-Haitsami:
Dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ e مَنْ مَشَى إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ لِيُوَقِّرَهُ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ الْإِسْلَامِ. رواه الطبراني في الكبير
‘Barangsiapa yang berjalan menuju pelaku bid’ah untuk memuliakannya, maka ia telah turut andil dalam menghancurkan Islam.’ HR Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Kabir (No: 16614), diantara perawinya adalah Baqiyyah, dia dlaif. (Majma’ al-Zawaid I/114)

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon