logo blog

Kamis, 28 Februari 2013

Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab Ihya’ (Bag Akhir, IV)


Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab Ihya’ (Bag Akhir, IV)
(Ibnu Jauzi telah menuduh 30-an hadis dalam kitab Ihya’ sebagai hadis palsu. Namun setelah dikaji ulang berdasarkan penilaian ahli hadis lainnya ternyata banyak mengandung kesalahan)

الجزء الرابع
Hadis XXV
No. 3737 Hal. 124

حديث " مَا عَظُمَتْ نِعْمَةُ اللهِ عَلَى عَبْدٍ إِلَّا كَثُرَتْ حَوَائِجُ النَّاسِ إِلَيْهِ فَمَنْ تَهَاوَنَ بِهِمْ عَرَضَ تِلْكَ النِّعْمَةَ لِلزَّوَالِ "
** أخرجه ابن عدي وابن حبان في الضعفاء من حديث معاذ بن جبل بلفظ " إِلَّا عَظُمَتْ مَؤُوْنَةُ النَّاسِ عَلَيْهِ ، فَمَنْ لَمْ يَحْتَمِلْ تِلْكَ الْمَؤُوْنَةَ . . . الحديث " رواه ابن حبان في الضعفاء من حديث ابن عباس وقال : إنه موضوع على حجاج الأعور .
‘Semakin besar nikmat dari Allah kepada seorang hamba, maka akan semakin banyak kebutuhan orang lain kepadanya. Barangsiapa yang mempermainkan orang-orang (yang membutuhkan tersebut), maka ia telah mempersiapkan lenyapnya nikmat tersebut’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dan Ibnu Hibban dalam kitab al-Dlu’afa’ dari Muadz bin Jabal dengan redaksi yang berbeda. Ibnu Hibban juga meriwayatkannya dalam kitab al-Dlu’afa’ dari Ibnu Abbas. Ibnu Hibban berkata: Hadis ini palsu, yang disampaikan oleh Hajjaj al-A’war)

Al-Sakhawi dan al-Fattanni:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman (No: 7400/7664), Abu Ya’la, dan al-‘Askari dari Muadz bin Jabal secara marfu’. Dari sekian riwayat yang ada, sebagian saling memperkuat yang lain (al-Maqashid al-Hasanah I/583 dan Tadzkirah al-Maudlu’at I/64)

Catatan Penulis:
Diriwayatkan juga oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Lisan al-Mizan (No: 937), al-Qudla’i dalam al-Musnad (No: 743), Musnad Syihab (No: 798) dan Ibnu Abi al-Dunya dalam Qada’ al-Hawaij-nya (No: 48)

Hadis XXVI
No. 3377 Hal. 296

حديث " معاذ الطويل "
 ** بطوله في صعود الحفظة بعمل العبد ورد الملائكة له من كل سماء ورد الله تعالى له بعد ذلك عزاه المصنف إلى رواية عبد الله بن المبارك بإسناده عن رجل عن معاذ وهو كما قال رواه في الزهد وفي إسناده كما ذكر من لم يسم ، ورواه ابن الجوزي في الموضوعات
‘Sesungguhnya Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, kemudian Allah menciptakan langit dan menjadikan malaikat sebagai penjaga pintu di setiap langit. Maka malaikat pencatat amal naik ke langit dengan membawa amal seseorang sejak pagi hingga sore. Amal itu bercahaya seperti matahari, hingga ketika naik ke langit yang paling rendah, amal itu dibersihkan. Malaikat penjaga itu berkata kepada malaikat pencatat amal: Pukulkan amal ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga ghibah (ngrumpi/rasan-rasan). Aku ditugaskan oleh Tuhanku agar tidak meninggalkan perbuatan orang yang suka ngrumpi. Kemudian datang malaikat pencatat yang membawa amal saleh, ia membersihkannya dan memperbanyaknya, sehingga ketika sampai ke langit kedua, malaikat penjaga berkata: Berhenti dan pukulkan amal ini ke muka pemiliknya. Ia menghendaki dengan amalnya ini untuk mencari kesenangan dunia. Saya diperintahkan oleh Tuhan saya supaya tidak meninggalkannya. Malaikat pencatat amal naik dengan membawa amal yang bercahaya, amal sedekah, puasa dan salat. Malaikat pencatat terkagum-kagum dan melewati langit ketiga. Malaikat penjaga berkata: Berhenti dan pukulkan amal ini ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat ‘sombong’ yang diperintahkan oleh Tuhanku agar tidak meninggalkan amalnya. Malaikat pencatat amal membawa amal seseorang yang berkilau seperti bintang, amal tasbih, salat, haji dan umrah, hingga ia melewati langit keempat. Malaikat penjaga berkata: Berhenti dan pukulkan amal ini ke perut dan pantat pemiliknya. Aku adalah malaikat ‘bangga diri’. Tuhanku memerintahkan aku agar tidak meninggalkan orang yang suka membanggakan diri. Malaikat pencatat membawa amal yang seperti pengantin yang dihias ke langit kelima. Malaikat penjaga berkata: Berhenti dan pukulkan ke wajah pemiliknya dan bebankan ke pundaknya. Aku adalah malaikat ‘dengki’, dia telah iri hati kepada orang-orang yang belajar dan beramal, dan dia selalu iri terhadap orang yang mendapat kebaikan dalam ibadah, Tuhanku memerintahkan aku agar tidak meninggalkannya. Malaikat pencatat membawa amal ibadah salat, zakat, haji, umrah dan puasa, mereka melewati langit keenam. Maka malaikat penjaga berjata: Berhenti dan pukulkan ke wajah pemiliknya. Dia tidak memiliki belas kasihan sedikitpun pada orang lain, jika orang lain ditimpa musibah, maka ia bergembira. Aku adalah malaikat ‘kasih sayang’ Tuhanku memerintahkanku agar tidak meninggalkan amalnya . Malaikat pencatat itu membawa amal ibadah puasa, salat, nafkah, zakat, ijtihad dan wira’i, amal itu menggelegar seperti petir dan bersinar seperti matahari, amal itu dikawal oleh 3000 malaikat dan melewati langit ketujuh. Malaikat penjaga berkata: Berhenti dan pukulkan ke wajah dan tubuhnya, kuncilah di dalam hatinya. Aku menjadi penghalang bagi setiap amal yang tidak bertujuan mencari ridla Tuhan. Dia beramal tidak karena Allah, dia menginginkan  pangkat dan popularitas di kotanya. Aku diperintahkan oleh Tuhanku agar tidak meninggalkan amal tersebut. Setiap amal yang dilakukan tidak karena Allah, maka dia telah berbuat riya’ (pamer). Dan Allah tidak menerima amal orang yang penuh pamrih..... (al-Iraqi: Hadis yang panjang ini tentang naiknya malaikat pencatat amal dan peNo:lakan para malaikat di setiap langit, sebagaimana menurut al-Ghazali, adalah riwayat Abdullah Ibnu Mubarak dari Muadz, begitu juga dalam kitab al-Zuhd yang salah satu perawinya tidak disebut. Hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at)

Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini palsu yang dikarang oleh seorang yang sudah masyhur, Ahmad bin Abdullah al-Juwaibari dari Yahya bin Salam al-Ifriqi dari Tsaur bin Yazid. Juwaibari adalah manusia paling dusta yang sudah banyak memalsukan hadis Rasul Saw tanpa terhitung. Abdullah bin Wahb adalah tukang pemalsu hadis. Ibnu Hibban menyebutnya: Dia adalah Dajjal, yang memalsukan hadis. Qasim al-Makfuf digolongkan oleh Ibnu Hibban sebagai pemalsu hadis. Di jalur riwayat lain ada Abd al-Wahid bin Zaid, menurut Yahya bin Ma’in: Dia tidak ada apa-apanya. Menurut al-Bukhari, Nasa’i, dan Fallas: Dia matruk. Sedangkan perawi Ya’qub, Ahmad, Hasan, Ali bin Ibrahim adalah orang-orang yang tidak diketahui. Dari jalur Ali, kami tidak meragukan lagi kepalsuannya. Ada banyak perawi yang tidak diketahui, baik identitasnya maupun perilakunya. Diantara perawinya adalah Qasim bin Ibrahim, yang meriwayatkan hadis tanpa ada dasarnya. (al-Maudlu’at III/161)

Jalaluddin al-Suyuthi
secara umum Jalaluddin al-Suyuthi sependapat dengan Ibnu al-Jauzi (al-La’ali al-Mashnu’ah II/284)

Ali al-Kannani:
Hadis ini disebutkan oleh al-Hafidz al-Mundziri dalam kitabnya al-Targhib dari kitab al-Zuhd karya Ibnu Mubarak. Al-Mundziri berkata: Tanda-tanda kepalsuan hadis ini sudah tampak baik secara riwayat maupun teks hadisnya. Wallahu A’lam. (Tanzih al-Syariah II/289)

Hadis XXVII
No. 4138 Hal. 305

حديث " إِنَّ اللهَ يَتَجَلَّى لِلنَّاسِ عَامَّةً وَلِأَبِي بَكْرٍ خَاصَّةً "
** أخرجه ابن عدي من حديث جابر . وقال باطل بهذا الإسناد وفي الميزان للذهبي أن الدارقطني رواه عن المحاملي عن علي بن عبدة وقال الدارقطني أن علي بن عبدة كان يضع الحديث ورواه ابن عساكر في تاريخ دمشق وابن الجوزي في الموضوعات من حديث جابر وأبي بردة وعائشة .
‘Sesungguhnya Allah menampakkan kepada manusia secara umum, dan kepada Abu Bakar secara khusus’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dari riwayat Jabir. Ia berkata: Hadis ini batil dengan sanad tersebut. Disebutkan dalam kitab Mizan al-I’tidal, al-Dzahabi, bahwa Daruqutni meriwayatkannya dari al-Mahamili dari Ali bin Abadah. Daruqutni berkata, bahwa Ali bin Abadah memalsukan hadis. Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkannya dalam kitab Tarikh Damaskus (XXX/160-163). Dan Ibnu al-Jauzi mencantumkannya dalam kitab al-Maudlu’at)

Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini tidak benar dari semua jalur riwayatnya. Dari jalur riwayat Anas yang pertama, maka disana ada Muhammad bin Abdi, menurut Abu Bakar al-Khatib: Hadis ini tidak ada dasarnya bagi orang yang memiliki pengetahuan, Muhammad bin Abdi telah memalsukan hadis baik secara sanad maupun matan (teks hadis). Yang kedua terdapat Banus, dia majhul tidak diketahui.
Dari jalur riwayat Jabir yang pertama, Muhammad bin Khalid menjadi perawi tunggal, yang dituduh sebagai pendusta. Yang kedua ada Ali bin Abadah, menurut Daruquthni: Dia memalsukan hadis. (al-Maudlu’at I/307)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Ibnu Hibban memiliki dua jalur riwayat. Riwayat pertama terdapat perawi yang bernama Ahmad al-Yamami, ia dituduh sangat pendusta. Riwayat kedua terdapat perawi bernama Abdullah bin Waqid, ia dinilai matruk. Tetapi Ahmad bin Hanbal mengomentarinya: Dia tidak memiliki kesalahan yang berarti. Dari jalur lain adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Husain bin Basyran dalam kitab Fawaid-nya dari Ali bin Abi Thalib (al-La’ali al-Mashnu’ah I/263)

Al-Fattanni:
Hadis ini punya banyak riwayat. Dari Anas dan Jabir ada banyak jalur riwayat, dari Abu Hurairah hanya satu riwayat. Tetapi kesemuanya tersebut memiliki kelemahan. Sementara dari jalur riwayat Aisyah belum ada yang mengomentarinya, para perawinya adalah orang-orang terpercaya kecuali Abu Qatadah (Abdullah bin Waqid) yang masih diperselisihkan. Dengan demikian, riwayat ini sesuai dengan standar kriteria hadis hasan (Tadzkirah al-Maudlu’at I/93)

Catatan Penulis:
Diriwayatkan juga oleh al-Hakim (No: 4463) dan Abu Nuaim (al-Hilyah V/11).

Hadis XXVIII
No. 4238 Hal. 376

حديث " مَا مِنْ عَبْدٍ يُخْلِصُ ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا إِلَّا ظَهَرَتْ يَنَابِيْعُ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ "
** أخرجه ابن عدي ومن طريقه ابن الجوزي في الموضوعات عن أبي موسى وقد تقدم .
‘Tidak seorangpun yang ikhlas kepada Allah selama 40 hari, kecuali akan tampak pancaran sumber hikmah dari dalam hatinya yang keluar melalui mulutnya’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dan Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at dari Abu Musa)

Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini tidak benar jika dari Rasulullah Saw. Sebab dari jalur Abu Ayyub, terdapat seorang perawi bernama Yazid bin Abd al-Raman al-Wasithi, menurut Ibnu Hibban, dia sering salah, buruk praduganya, kontradiksi dengan perawi yang lebih terpercaya, tidak boleh berdalil dengan dia. Ada lagi yang bernama Hajjaj, dia dinilai negative. Begitu pula Muhammad bin Ismail, dia majhul. Seorang perawi yang bernama Makhul tidak pernah berjumpa dengan Abu Ayyub, para ulama menilai Makhul lemah hadisnya.
Dari jalur Abu Musa, Ibnu ‘Adi menilai hadis ini munkar. Terdapat perawi yang majhul, yaitu Abd al-Malik. Sementara dari jalur Ibnu Abbas, terdapat perawi yang dikomentari oleh Ahmad dan Nasa’i: Siwar bin Mush’ab adalah matruk. Yahya bin Ma’in berkata: Dia tidak dipercaya, hadisnya tidak boleh ditulis (al-Maudlu’at III/145)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini memiliki jalur lain yang tidak menyebutkan Muhammad bin Ismail dan Yasid (keduanya dinilai sangat lemah), yaitu dari Makhul secara mursal. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim (al-Hilyah X/70), Hannad dalam kitab al-Zuhd (No: 678), Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (No: 34344), dan diperkuat oleh hadis Ibnu Abi al-Dunya dalam kitab Dzamm al-Dunya (dan al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman No: 10531) dari Shafwan bin Salim secara mursal, yang berbunyi:
مَنْ زَهَدَ فِي الدُّنْيَا أَسْكَنَ اللهُ الْحِكْمَةَ فِي قَلْبِهِ
‘Barangsiapa berperilaku zuhud di dunia, Allah akan memasukkan kata hikmah ke dalam hatinya.’ (al-La’ali al-Mashnu’ah II/277)

Ali al-Kannani:
Hadis ini melalui jalur Ibnu Abbas disebutkan oleh Ruzain al-‘Abdari dalam kitab Jami’-nya. Al-Hafidz al-Mundziri berkata: Saya tidak temukan hadis tersebut dengan sanad yang sahih atau hasan, hadis ini hanya ditemukan dalam kitab-kitab dlaif, seperti kitab al-Kamil V/307 (Ibnu ‘Adi) dan lainnya. (Tanzih al-Syariah II/305)

Al-Sakhawi:
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab al-Hilyah dari jalur Makhul dari Abu Ayyub secara mursal, dan sanadnya dlaif. Imam Ahmad juga meriwayatkannya dalam kitab al-Zuhd secara mursal, tanpa menyebut Abu Ayyub (al-Maqashid al-Hasanah I/209)

Catatan Penulis:
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Mubarak (al-Zuhd No: 1014) dan Musnad al-Qudla’i (No: 466).

Hadis XXIX
No. 4291 Hal. 409

حديث " تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ "
** أخرجه ابن حبان في كتاب العظمة من حديث أبي هريرة بلفظ ستين سنة بإسناد ضعيف ومن طريقه ابن الجوزي في الموضوعات ورواه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث أنس بلفظ " ثمانين سنة " وإسناده ضعيف جدا ورواه أبو الشيخ من قول ابن عباس بلفظ " خير من قيام ليلة " .
‘Berfikir sejenak lebih utama daripada ibadah selama satu tahun’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh Abu Syaikh [Ibnu Hibban] dalam kitab al-‘Adzamah dari riwayat Abu Hurairah dengan redaksi ’60 tahun’ dengan sanad yang lemah. Dan Ibnu al-Jauzi mencantumkannya dalam kitab al-Maudlu’at. Juga diriwayatkan oleh Abu Mansur al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dari riwayat Anas dengan redaksi ’80 tahun’, sanadnya sangat lemah. Begitu pula Abu Syaikh dari ucapan Ibnu Abbas dengan teks ‘lebih baik daripada ibadal semalam’)

Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini tidak benar. Dalam sanadnya ada dua perawi yang sangat pendusta. Pertama Ishaq bin Najih, Ahmad berkata: Dia manusia paling dusta. Yahya bin Ma’in berkata: Dia dikenal pendusta dan pemalsu hadis. Al-Fallas berkata: Dia berdusta atas nama Nabi Muhammad Saw secara terang-terangan. Kedua adalah Utsman, menurut Ibnu Hibban: Dia memalsukan hadis atas nama orang-orang terpercaya (al-Maudlu’at III/144)

Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini diperkuat oleh riwayat al-Dailami dan Abu Syaikh (Ibnu Hibban) dalam kitab al-Adzamah. (al-La’ali al-Mashnu’ah II/276)

Hadis XXX
No. 4385 Hal. 463

حَدِيْثُ " قَالَ لِي جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِيَبْكِ الْإِسْلَامُ عَلَى مَوْتِ عُمَرَ "
** أخرجه أبو بكر الآجري في كتاب الشريعة من حديث أبي بن كعب بسند ضعيف جدا وذكره ابن الجوزي في الموضوعات
‘Jibril berkata kepadaku bahwa (umat) Islam akan menangis atas kematian Umar’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ajuri dalam kitab al-Syariah dari riwayat Ubay bin Ka’ab dengan sanad yang sangat lemah. Dan Ibnu al-Jauzi mencantumkannya dalam kitab al-Maudlu’at)

Al-Haitsami:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tabrani, salah satu perawinya adalah Habib, sekretaris raja, dia adalah matruk dan sangat pendusta. (Majma’ al-Zawaid IV/101)

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon