logo blog

Senin, 04 Februari 2013

Mengulas Makna Syair "Tombo Ati"


Mengulas Makna Syair "Tombo Ati"
M. Ma’ruf Khozin

Syair Tombo Ati sudah sangat dikenal di masyarakat, mereka sering melantunkannya baik saat pengajian, berdzikir, atau sekedar mendengarkannya dari media masa. Siapakah yang pertama kali mengarangnya? Seorang ulama yang pertama kali 'menggagasnya' adalah ulama Shufi yang popular di masanya, yaitu Syaikh Abu Ishaq al-khawwash yang wafat pada tahun 291 H (Syaikh an-Nawawi dalam al-Adzkar 107). Pada awalnya ini adalah sebuah ungkapan kata mutiara yang penuh hikmah, namun ketika ditranformasikan ke masyarakat Indonesia ternyata berbentuk syair yang memiliki lagu tertentu, sebagaimana dalam syair Arab juga memiliki lagu tertentu dengan 16 wazan.

Penyakit Hati
Manusia diciptakan terdiri dari dua elemen, yaitu fisik seperti raga, tubuh dan lainnya. Begitu pula batin, seperti hati, jiwa, akal dan sebagainya.

Kedua elemen tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dilepaskan. Ketika tubuh atau fisik membutuhkan kekuatan untuk bertahan hidup dengan makanan, maka batin juga membutuhkan asupan 'gizi' supaya semangat dalam ibadah yaitu dengan dzikir, hidayah dan ilmu. Ketika tubuh atau fisik mengalami gangguan dan sakit, maka batin juga mengalami hal yang serupa, yaitu jiwa yang sakit.

Imam al-Ghazali di dalam kitab Ihya'-nya membedakan penyakit fisik dan batin ke dalam beberapa kategori. Pertama, penyakit tubuh atau fisik yang tahu terlebih dahulu adalah pelaku sendiri. Ia mulai merasakan panas, tidak enak makan dan akhirnya penyakit yang diderita pun ia ketahui. Sementara penyakit batin lebih dahulu diketahui orang lain, seperti sombong, pemarah, pelit dan sebagainya. Pelakunya bisa saja menganggap tidak terjadi apa-apa, tetapi bagi orang lain sudah menunjukkan perilaku emosi, arogan dan lainnya.

Kedua, penyakit tubuh atau fisik memiliki ahli pengobatan dan dokter yang banyak, ada yang umum dan spesialis, bahkan setiap tahun berhasil meluluskan ratusan sarjana kedokteran dari berbagai disiplin ilmu. Sementara untuk penyakit hati tidaklah banyak orang yang bisa mengobatinya dan hanya beberapa ulama saja yang faham dengan obat penyakit ini. Oleh karenanya tidak pernah kita dengar istilah dokter atau tabib 'spesialis sombong', 'spesialis iri hati' dan sebagainya. Inilah sebenarnya yang menjadi bidang para ulama Tasawuf, yaitu membenahi hati manusia, yang di era saat ini lebih dikenal dengan istilah semisal 'Management Qalbu'.

Ketiga, ketika tubuh terasa sakit, maka seseorang ingin segera sembuh dan bergegas berobat ke dokter. Namun ketika hatinya yang sakit justru tidak dianggap penting untuk diobati, dan ia biarkan penyakit hatinya bertahun-tahun mengendap menjadi penyakit yang menggerogoti hatinya. Orang yang mengobati penyakit hatinya sebenarnya ingin mendapatkan kesembuhan hakiki nanti di akhirat, sebagaimana dalam hadis sahih: "Tidak akan masuk ke dalam surga, seseorang yang di dalam hatinya tersisa sebutir kesombongan" (HR al-Bukhari)

Mengobati Penyakit Hati
Syaikh Ibrahim al-Khawwash ketika menyimpulkan 'Obat Hati' ada lima perkara, adalah berdasarkan dari ajaran al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Pertama: "قرأة القرأن بالتدبر" (baca al-Quran dengan menghayati maknanya)

Al-Quran sebagai media penyembuhan berdasarkan firman Allah yang artibya: "Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian" (al-Isra': 82)

Dan sabda Rasulullah Saw: "Khairu ad-dawa' al-Quranu". Artinya: "Obat yang paling baik adalah al-Quran" (HR Ibnu Majah No 3492 dari Sayidina Ali)

Membaca al-Quran ini dapat mengobati segala jenis penyakit hati.

Kedua: "خلاء البطن" (perut yang tidak dipenuhi makanan, diartikan juga dengan banyak berpuasa)

Allah Swt berfirman yang artinya: "… Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" (al-A'raf: 031)

Begitu pula sabda Rasulullah Saw

674 - أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ جَابِرٍ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:  «مَا مِنْ وِعَاءٍ مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أَكَلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ». صحيح ابن حبان - مخرجا (2/ 449)
artinya: "Tidak ada wadah yang memenuhi manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa asupan untuk menegakkan punggungnya. Jika masih kurang, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga berikutnya untuk nafasnya." (HR Ibnu Hibban No 674 dari Miqdam Ibnu Ma'dikariba)

Perut yang lapar atau yang berpuasa adalah untuk melatih kesabaran dan dapat menghilangkan penyakit sombong, pemarah, iri hati, melemahkan nafsu birahi, dan sebagainya.

Ketiga: "قيام الليل" (ibadah tengah malam)

Allah Swt berfirman yang artinya: "Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (al isra': 79)

Dan sabda Rasulullah Saw

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلإِثْمِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِى إِدْرِيسَ عَنْ بِلاَلٍ (سنن الترمذى - ج 13 / ص 72)
artinya: "Lakukanlah salat malam. Sebab salat malam adalah perilaku orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan diri kepada Allah, menjadikan ridla Allah, menghapus kejelekan, mencegah perbuatan dosa dan menolak penyakit dari tubuh." (HR Thabrani, al-Baihaqi dan al-Hakim dari Salman)

Ibadah malam atau Tahajud adalah untuk mengobati segala jenis penyakit hati.

Keempat: "التضرع عند السحر" (Khusuk berdzikir di waktu malam)

Allah Swt berfirman yang artinya: "Mereka (orang-orang yang bertaqwa) sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam (waktu sahur) mereka memohon ampun (kepada Allah)." (adz-dzariyat: 17-18)

Dan sabda Rasulullah Saw

عن ابن عمر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تكثروا الكلام بغير ذكر الله فان كثرة الكلام بغير ذكر الله قسوة القلب وإن ابعد الناس من الله القلب القاسي (رواه الترمذى)
artinya: "Janganlah banyak bicara dengan selain dzikir kepada Allah. Karena banyak bicara dengan selain dzikir kepada Allah menyebabkan kerasnya hati. Dan sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras." (HR Turmudzi)

Keutamaan dzikir sangat banyak sekali dapat mengobati segala jenis penyakit hati.

Kelima: "مجالسة الصالحين" (berteman dengan orang-orang shaleh)

Allah Swt berfirman yang artinya: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (al-kahfi: 028)

Berkaitan dengan ayat ini, ada sebuah riwayat dari Tsabit al-Bannani, bahwa "Salman berada dalam kelompok yang berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Kemudian Nabi Saw lewat, maka mereka berhenti (dari kegiatannya). Rasul bertanya: Apa yang kalian ucapkan? Kami menjawab: Kami berdzikir kepada Allah, wahai Rasulullah. Nabi bersabda: Baca dzikir tersebut! Sebab aku melihat rahmat diturunkan pada kalian, maka saya senang bergabung dengan kalian. Kemudian Nabi bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan umatku sebuah kelompok yang aku diperintahkan untuk bersabar bersama mereka" (HR Ahmad dalam kitab al-Zuhud Juga diriwayatkan oleh al-Hakim No 419. Ia berkata hadis ini sahih, dan al-Dzahabi menyetujuinya)

Imam Nawawi berkata: "Dalam hadis ini (riwayat Muslim) terdapat keutamaan dzikir, keutamaan majlis dzikir dan berkumpul bersama ahli dzikir meskipun tidak sama seperti mereka, juga keutamaan berkumpul bersama orang sholeh dan berkah mereka" (Syarah Muslim 17/15)

Memilih orang shaleh sebagai sahabat adalah untuk menularkan energy positif seperti ibadah, dan untuk menghilangkan sifat dan perilaku buruk lainnya.

1 komentar:

alhamdulillah jazakallah, tercerahkan!

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon