logo blog

Minggu, 17 Februari 2013

Wali Badal


Wali Badal
Apakah sosok wali Badal benar-benar ada? Adakah dalil yang mendasarinya? Jamaah Ahad Dluha, Gubeng.

Jawaban:
al-Hafidz as-Suyuthi berkata:
لَمْ يَرِد فِي الْكُتُب السِّتَّة ذِكْر الْأَبْدَال إِلَّا فِي هَذَا الْحَدِيث عِنْد أَبِي دَاوُدَ وَقَدْ أَخْرَجَهُ الْحَاكِم فِي الْمُسْتَدْرَك وَصَحَّحَهُ ، وَوَرَدَ فِيهِمْ أَحَادِيث كَثِيرَة خَارِج السِّتَّة جَمَعْتهَا فِي مُؤَلَّف اِنْتَهَى عون المعبود - ج 9 / ص 322)
“Penjelasan tentang wali Badal tidak ada dalam kutubus sittah (6 kitab hadis; Bukhari, Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan Turmudzi, Sunan an-Nasai dan Sunan Ibnu Majah), kecuali 1 hadis riwayat Abu Dawud (No 3737) dan diriwayatkan oleh al-Hakim dan ia menilainya sahih (dan riwayat Ahmad No 27446). Namun ada banyak hadis tentang wali Badal yang diriwayatkan oleh selain 6 kitab hadis tersebut” (‘Aun al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud 9/322)
Hadis yang disampaikan oleh para ahli hadis tentang wali Badal diantaranya adalah:
لَنْ تَخْلُوَ اْلأَرْضُ مِنْ أَرْبَعِيْنَ رَجُلاً مِثْلَ خَلِيْلِ الرَّحْمَنِ فَبِهِمْ تُسْقَوْنَ وَبِهِمْ تُنْصَرُوْنَ مَا مَاتَ مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلاَّ أَبْدَلَ اللهُ مَكَانَهُ آخَرَ (ا أخرجه الطبرانى فى الأوسط رقم 4101 . قال الهيثمى والمناوي : إسناده حسن)
“Dunia tidak akan sepi dari 40 orang laki-laki yang seperti Nabi Ibrahim, kekasih Allah. Karena mereka inilah kalian diberi hujan dan diberi pertolongan. Tidak ada satupun yang mati dari mereka kecuali Allah menggantikannya dengan orang lain” (HR Thabrani No 4101, al-Hafidz al-Haitsami dan al-Munawi berkata: Sanadnya hasan. Dan masih banyak hadis lain yang disahihkan oleh para ahli hadis)
Dari hadis inilah diambil definisi tentang wali Badal, yaitu seorang wali yang digantikan manakala salah seorang dari mereka ada yang wafat, sehingga jumlah 40 wali badal tidak berkurang.
Setidaknya ada dua ulama ahli hadis telah mengarang sebuah kitab khusus yang menjelaskan dalil-dalil keberadaan para wali Badal, diantaranya adalah al-Hafidz as-Suyuthi dalam al-Khabar ad-Daal fi wujudi al-Quthbi wa al-Autaad wa an-Nujabaa’ wa al-Abdaal, dan al-Hafidz as-Sakhawi (Murid al-Hafidz Ibnu Hajar) dalam Nadzmu al-La’al fi al-Kalaami ala al-Abdaal, dan secara khusus beliau menetapkan satu Bab tentang al-Abdaal (wali Badal) dalam kitab hadisnya al-Maqaashid al-Hasanah (1/43) dengan menyebut beberapa hadis yang hasan dan dlaif. Diantaranya riwayat Abu Nuaim dalam al-Hilyah, bahwa sahabat bertanya:
يَا رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنَا عَلَى أَعْمَالِهِمْ قَالَ يَعْفُوْنَ عَمَّنْ ظَلَمَهُمْ وَيُحْسِنُوْنَ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْهِمْ وَيَتَوَاصَلُوْنَ فِيْمَا أَتَاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepada kami tentang perilaku mereka (wali Badal) ! Rasulullah menjawab: Mereka pemaaf terhadap orang yang mendzaliminya, mereka berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya, dan mereka saling menyambung dalam pemberian dari Allah kepada mereka”

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon