logo blog

Selasa, 30 April 2013

Menjawab Tuduhan Ust. Firanda


Menjawab Tuduhan Ust. Firanda

Ust. Firanda berkata:
Telah lalu tulisan saya tentang pengingkaran para ulama Syafi'iyah terhadap acara ritual tahlilan (silahkan dibaca kembali di Tahlilan adalah Bid'ah Menurut Madzhab Syafi'i. Dan hingga saat ini saya masih berharap masukan dari para ustadz-ustadz ASWAJA yang mengaku bermadzhab Syafi'iyah untuk mendatangkan nukilan dari ulama syafi'iyah yang mu'tabar dalam madzhab mereka yang membolehkan acara ritual tahlilan!!!”

Jawaban Saya:
Bid’ah dalam kitab-kitab Syafiiyah jangan anda samakan dengan bid’ah versi Wahabi. Dalam kitab Syafiiyah bahkan 4 madzhab lainnya yang menyebut bid’ah makruhah bukanlah sesuatu yang diharamkan. misalnya dalam kitab Ianat ath-Thalibin 1/313 yang mengutip pembagian bid’ah menjadi 5 dari Ibn Abdissaalam:

وقوله: ومكروهة. من أمثلتها زخرفة المساجد (إعانة الطالبين - ج 1 / ص 313)
“Diantara contoh bid’ah makruhah adalah memegahkan masjid”

Maka Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan sebagainya yang dibangun begitu bagus dan mewah adalah bid’ah yang makruh, namun justru ulama Wahabi di Arab tidak ada yang melarangnya.

Adalah sesuatu yang aneh jika suatu kelompok menyalahkan kelompok lain dengan menggunakan metode berfikirnya sendiri, yang jelas tidak sama jalan berfikirnya dengan kelompok yang dibencinya.

Ust. Firanda berkata:
Dalam tulisannya di status di facebook yang berjudul TRADISI KENDURI KEMATIAN, Ustadz Idrus Ramli tidak menyebutkan ulama madzhab fikih syafi'i yang mendukungnya dalam membolehkan kenduri Tahlilan. Akan tetapi al-ustadz berpindah ke madzhab maliki dan menyebutkan bahwa madzhab maliki bahkan Imam Malik bin Anas rahimahullah membolehkan kenduri kematian.

Jawaban Saya:
“Inilah diantara pendapat ulama Syafiiyah yang muktabar”:

Tradisi tahlilan dan memberi sedekah di hari-hari tertentu setelah ditelusuri sebenarnya tidak hanya menjadi kebiasaan umat Islam di Jawa. Jauh sebelum itu, yakni di masa Ibnu Hajar al-Haitami al-Syafi'i (1504-1567 M dan beliau memiliki banyak pengikut di wilayah Yaman) pernah ditanya mengenai hal diatas dan beliau memfatwakan bahwa perbuatan itu tidak diharamkam meskipun terbilang sesuatu yang baru. Bahkan dengan niat-niat tertentu pelakunya akan mendapatkan pahala. Berikut fatwa beliau:

(وَسُئِلَ) أَعَادَ اللهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِ ... عَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ ثَالِثِ مَوْتِهِ مِنْ تَهْيِئَةِ أَكْلٍ وَإِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَغَيْرِهِمْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ السَّابِعِ كَذَلِكَ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ تَمَامِ الشَّهْرِ مِنَ الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ عَلَى بُيُوْتِ النِّسَاءِ اللاَّتِي حَضَرْنَ الْجِنَازَةَ وَلَمْ يَقْصِدُوْا بِذَلِكَ إلاَّ مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبَلَدِ حَتَّى إنَّ مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ صَارَ مَمْقُوْتًا عِنْدَهُمْ خَسِيْسًا لاَ يَعْبَئُوْنَ بِهِ وَهَلْ إذَا قَصَدُوْا بِذَلِكَ الْعَادَةَ وَالتَّصَدُّقَ فِي غَيْرِ اْلأَخِيرَةِ أَوْ مُجَرَّدَ الْعَادَةِ مَاذَا يَكُوْنُ الْحُكْمُ جَوَازٌ وَغَيْرُهُ ... وَعَنْ الْمَبِيْتِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ إلَى مُضِيِّ شَهْرٍ مِنْ مَوْتِهِ ِلأَنَّ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ كَالْفَرْضِ مَا حُكْمُهُ ؟
(فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ جَمِيْعُ ما يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ لَكِنْ لاَ حُرْمَةَ فِيْهِ إلاَّ إنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْ رِثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفْعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَخَوْضِهِمْ فِي عِرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ يُرْجَى أَنْ يُكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ أَخْذًا مِنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي الصَّلاَةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَعَلَّلُوْهُ بِصَوْنِ عِرْضِهِ عَنْ خَوْضِ النَّاسِ فِيْهِ لَوِ انْصَرَفَ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ ... وَإِذَا كَانَ فِي الْمَبِيْتِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ تَسْلِيَةٌ لَهُمْ أَوْ جَبْرٌ لِخَوَاطِرِهِمْ لَمْ يَكُنْ بِهِ بَأْسٌ ِلأَنَّهُ مِنَ الصِّلاَتِ الْمَحْمُودَةِ الَّتِي رَغَّبَ الشَّارِعُ فِيْهَا وَالْكَلاَمُ في مَبِيْتٍ لاَ يَتَسَبَّبُ عَنْهُ مَكْرُوْهٌ وَلاَ مُحَرَّمٌ وَإِلاَّ أُعْطِيَ حُكْمَ مَا تَرَتَّبَ عَلَيْهِ إذْ لِلْوَسَائِلِ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ وَاَللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ (الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي الشافعي 2 / 7)
"(Ibnu Hajar al-Haitami) ditanya mengenai hal yang dilakukan pada hari ketiga setelah kematian dengan menghidangkan makanan orang-orang fakir dan lainnya, begitu pula pada hari ketujuh dan setelah sebulan. Mereka tidak melakukan hal ini kecuali untuk mengikuti tradisi penduduk setempat. Hingga jika ada diantara mereka ada yang tidak melakukannya, maka mereka kurang disenangi. Apakah jika mereka yang bertujuan melakukan tradisi dan sedekah, atau sekedar mengikuti tradisi, bagaimana tinjauan hukumnya, boleh atau tidak? Ibnu Hajar al-Haitami juga ditanya mengenai menginap di rumah duka hingga melewati masa satu bulan, sebab hal itu seperti kewajiban. Apa hukumnya? (Ibnu Hajar) menjawab: Semua yang terdapat dalam pertanyaan adalah bid'ah yang tercela tapi tidak haram. Kecuali bila dilakukan untuk meratapi mayit. Dan seseorang yang melakukannya bertujuan untuk menghindari ucapan orang-orang bodoh dan dapat merusak reputasinya jika meninggalkannya, maka ada harapan dia memperoleh pahala. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah Saw tentang seseorang yang hadats dalam salat untuk memegang hidung dengan tangannya.[1] Para ulama mengemukakan alasan untuk menjaga nama baiknya jika tidak melakukan cara seperti ini. Dan jika menginap di rumah duka bisa menghibur keluarganya dan bisa menentramkannya, maka tidak apa-apa bahkan ini bagian dari cara merajut hubungan yang terpuji, sebagaimana dianjurkan oleh syariat. Tema ini terkait menginap yang tidak menimulkan hal-hal makruh atau haram. Jika ini terjadi maka berlaku hukum sebaliknya, karena sebuah sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Wallahu A'lam bi Shawab." (al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, Ibnu Hajar al-Haitami, II/7)

Sementara di Nahdlatul Ulama tidaklah terpaku hanya dalam 1 madzhab, tapi 4 madzhab sebagaimana dalam Qanun Asasi.

Seorang ulama dari kalangan Hanafiyah, Syaikh al-Thahthawi (1231 H), mengutip pendapat dari Syaikh Burhan al-Halabi yang membantah hukum makruh dalam selametan 7 hari:

قَالَ فِي الْبَزَّازِيَّةِ يُكْرَهُ اِتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِي اْليَوْمِ اْلأَوَّلِ وَالثَّالِثِ وَبَعْدَ اْلأُسْبُوْعِ وَنَقْلُ الطَّعَامِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ فِي الْمَوَاسِمِ وَاتِّخَاذُ الدَّعْوَةِ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَجَمْعِ الصُّلَحَاءِ وَالْقُرَّاءِ لِلْخَتْمِ أَوْ لِقِرَاءَةِ سُوْرَةِ اْلأَنْعَامِ أَوِ اْلإِخْلاَصِ اهـ قَالَ الْبُرْهَانُ الْحَلَبِي وَلاَ يَخْلُوْ عَنْ نَظَرٍ ِلأَنَّهُ لاَ دَلِيْلَ عَلَى اْلكَرَاهَةِ (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح 1 / 409)
"Disebutkan dalam kitab al-Bazzaziyah bahwa makruh hukumnya membuat makanan di hari pertama, ketiga dan setelah satu minggu, juga memindah makanan ke kuburan dalam musim-musim tertentu, dan membuat undangan untuk membaca al-Quran, mengumpulkan orang-orang sholeh, pembaca al-Quran untuk khataman atau membaca surat al-An'am dan al-Ikhlas. Burhan al-Halabi berkata: Masalah ini tidak lepas dari komentar, sebab tidak ada dalil untuk menghukuminya makruh[2]" (Hasyiyah al-Thahthawi I/409)

Bantahan ini diperkuat oleh pernyataan Syaikh al-Qari dengan beristinbath pada hadis riwayat Abu Dawud:

قَالَ الْعَلاَّمَةُ الْقَارِي فِي الْمِرْقَاةِ بَعْدَ ذِكْرِ حَدِيْثِ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ الْمَذْكُوْرِ مَا نَصُّهُ هَذَا الْحَدِيْثُ بِظَاهِرِهِ يَرُدُّ عَلَى مَا قَرَّرَهُ أَصْحَابُ مَذْهَبِنَا مِنْ أَنَّهُ يُكْرَهُ اتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِي الْيَوْمِ اْلأَوَّلِ أَوِ الثَّالِثِ أَوْ بَعْدَ اْلأُسْبُوْعِ كَمَا فِي الْبَزَّازِيَّةِ (رفع الاشكال للشيخ اسماعيل اليمني وإبطال المغالاة في حكم الوليمة من أهل الميت بعد الوفاة 4)
"Syaikh al-Qari berkata dalam kitab al-Mirqat, setelah mengutip hadis dari 'Ashim bin Kulaib di atas, bahwa: Hadis ini secara jelas membantah keputusan ulama madzhab kita (Hanafiyah) mengenai larangan membuat makanan pada hari pertama, ketiga atau ketujuh, sebagaimana dalam kitab al-Bazzaziyah"[3]

Syaikh al-Thahthawi kemudian membandingkan antara riwayat atsar dari Jarir bin Abdillah tentang larangan membuat makanan oleh keluarga mayat dengan hadis sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah memenuhi undangan seorang istri sahabat yang wafat dan memakan hidangannya, pada akhirnya al-Thahthawi menyimpulkan:

فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى إِبَاحَةِ صُنْعِ أَهْلِ الْمَيِّتِ الطَّعَامَ وَالدَّعْوَةِ إِلَيْهِ بَلْ ذُكِرَ فِي الْبَزَّازِيَّةِ أَيْضًا مِنْ كِتَابِ اْلاِسْتِحْسَانِ وَإِنِ اتَّخَذَ طَعَامًا لِلْفُقَرَاءِ كَانَ حَسَنًا ا هـ (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح 1 / 410)
"Hadis ini (riwayat 'Ashim bin Kulaib) menunjukkan diperbolehkannya bagi keluarga yang meninggal untuk membuat makanan dan mengundang orang lain. Bahkan disebutkan dalam kitab al-Bazzaziyah juga secara metode Istihsan, yaitu bila membuatkan makanan untuk orang-orang fakir maka hukumnya bagus" (Hasyiyah al-Thahthawi I/410)

Ust. Firanda berkata:
Ali bin Zaid bin Jud'aan adalah perawi yang dho'iif (lemah) bahkan tertuduh terpengaruh faham tasyayyu' (syi'ah), silahkan merujuk ke kitab-kitab berikut (Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal 401 no 4734, Tahdziibut Tahdziib karya Ibnu Hajar 7/283-284 no 545, Al-Mughniy fi Ad-Du'afaa karya Adz-Dzahabi 2/447, dan Al-Majruuhiin karya Ibnu Hibbaan 2/103-104)”

Ust Firanda menilai Dhaif terhadap atsar Sayidina Umar yang berwasiat memberi makanan setelah beliau wafat.

Jawaban Saya:
“penilaian Ust Firanda bertentangan dengan al-Hafidz al-Haitsami. Berikut penilaian beliau:

(رواه الطبراني وقال الهيثمي وفيه علي بن زيد وحديثه حسن وبقية رجاله رجال الصحيح اهـ مجمع الزوائد ومنبع الفوائد 5 / 354 والمطالب العالية بزوائد المسانيد للحافظ ابن حجر ج 1 / ص 286 واتحاف الخيرة المهرة بزوائد المسانيد العشرة للحافظ البوصيري 2 / 153 وتاريخ بغداد للخطيب البغدادي 12 / 3574 ومناقب لابن الجوزي 233 بدون إسناد)
(Diriwayatkan oleh al-Thabrani, al-Hatsami berkata: Dalam riwayat tersebut terdapat perawi Ali bin Zaid (bin Judz'an) ia hadisnya berstatus Hasan, dan perawi lainnya adalah perawi Sahih. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-Aliyah I/286, al-Bushiri dalam Ithaf al-Khiyarah II/153, Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad XII/357 dan Ibnu al-Jauzi dalam al-Manaqib 233, tanpa mencantumkan sanad)

Ust. Firanda berkata:
Ustadz Muhammad Idrus Ramli berkata: (Tradisi kaum salaf sejak generasi sahabat yang bersedekah makanan selama tujuh hari kematian untuk meringankan beban si mati. Dalam hal ini, al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab al-Zuhd: "Dari Sufyan berkata: "Thawus berkata: "Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut."

Hadits di atas diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya' (juz 4 hal. 11), al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur (32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-'Aliyah (juz 5 hal. 330) dan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178).

Tradisi bersedekah kematian selama tujuh hari berlangsung di Kota Makkah dan Madinah sejak generasi sahabat, hingga abad kesepuluh Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Suyuthi)) Demikianlah perkataan Ustadz Muhamad Idrus Ramli. Pendalilan ini pulalah yang dipaparkan oleh Kiyai Tobari Syadzili (http://jundumuhammad.net/2011/06/07/hukum-selamatan-hari-ke-3-7-40-100-setahun-1000/)

KRITIKAN (ust Firanda): Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini.

Jawaban Saya:
Apa yang disampaikan oleh Ust  Idrus Ramli dan Kyai Thobari Syadzili telah sesuai dengan pemaparan ahli hadis al-Hafidz as-Suyuthi:

فَائِدَةٌ رَوَى أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ فِي الزُّهْدِ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ وَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ وَذَكَرَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مُصَنَّفِهِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عَمِيْرٍ أَنَّ الْمُؤْمِنَ يُفْتَنُ سَبْعًا وَالْمُنَافِقَ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَسَنَدُهُ صَحِيْحٌ أَيْضًا وَذَكَرَ ابْنُ رَجَبَ فِي اْلقُبُوْرِ عَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّ اْلأَرْوَاحَ عَلَى الْقُبُوْرِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ يَوْمِ الدَّفْنِ لاَ تُفَارِقُهُ وَلَمْ أَقِفْ عَلَى سَنَدِهِ (الديباج على مسلم بن الحجاج للحافظ جلال الدين السيوطي 2 / 490)
"Ahmad meriwayatkan dalam kitab Zuhud dan Abu Nuaim dalam al-Hilyah dari Thawus bahwa 'sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut'. Sanad riwayat ini sahih dan berstatus hadis marfu'. Ibnu Juraij menyebutkan dalam kitab al-Mushannaf dari Ubaid bin Amir bahwa 'orang mukmin mendapatkan ujian (di kubur) selama 7 hari, dan orang munafik selama 40 hari'. Sanadnya juga sahih. Ibnu Rajab menyebutkan dalam kitab al-Kubur dari Mujahid bahwa 'arwah berada dalam kubur selama 7 hari sejak dimakamkan dan tidak berpisah'. Tetapi saya tidak menemukan sanadnya" (al-Dibaj Syarah sahih Muslim II/490)



[1]  HR Abdurrazzaq No 3606 dan al-Baihaqi No 3202 Al-Hafidz al-Bushiri berkata: "Sanad hadis ini perawinya adalah orang-orang terpercaya" (Ithaf al-Khiyarah II/72)
[2]  Burhan al-Halabi memperbolehkan hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa di masa itu sudah ada tradisi mengundang ulama dan orang lain untuk membaca al-Quran yang dihadiahkan bagi para al-Marhum.
[3]  Syaikh Ismail al-Yamani, Raf'ul Isykal Hal. 4

36 komentar

pak ustadz yang terhormat...

ustadz firanda telah menyebutkan 2 macam makruh, yaitu makruh tanzih dan makruh tahrim. apakah anda sudah memahami dan menerima ini?

jika sudah, maka tolong diperhatikan, tahlilan itu masuk jenis makruh yang mana? tanzih atau tahrim?

menurut kesimpulan ustadz firanda berdasarkan penukilan beliau atsar2 ulama syafi'iyyah, tahlilan itu termasuk makruh tahrim.

kenapa bisa begitu? karena ulama syafi'iyyah ketika mengatakan tahlilan itu hukumnya makruh, mereka berdalil dengan atsar sahabat yang redaksinya menyamakan tahlilan ini dengan perbuatan yang jelas2 dilarang, yaitu niyahah (meratapi mayit).

@ibnu abi irfan : tashawur n tashdiq mas'alah dulu, jangan asal ngomong. tahlilan itu membaca laailahaillallah, trus dosanya dimana? makruhnya dimana? hati2 sedulur, kok mengharamkan yang halal. kalau 3 hari, 7 hari. njenengan lihat kaidah fikih "al'adah muhakkamah". selama adat tidak bertentangan dengan syariatya g masalah untuk diikuti. jangan suka memvonis, salah benar yang menentukan hanya Allah. lana a'maluna wa lakum a'malukum

@ habib rofiq : maaf .... anda jangan gunakan nama habib kalo ilmu yang anda miliki tidak menunjang. Akhi ibnu abi irfan sudah jelas koq menyampaikan tentang tahlilan berdasarkan atsar yang jelas. koreksi anda bahwa Hanya Allah yang menentukan salah benar telalu naif, memang Allah lah yang menentukan tetapi manusia juga sydah diberikan petunjuk, arahan yang jelas untuk membedakan salah dan benar

@rusdi achmidi : Alih-alih diterima, dakwah wahabiyah di mana-mana hanya memanen perlawanan dan permusuhan serta kebencian. Sebab dakwah yang tidak simpatik hanya akan membuat orang malah semakin jauh dan anti pati.. yg ente rendahkan , keilmuan ente blm tentu lebih baik..

Ustadz firanda memang benar2 keren.

Semoga Ustd. Idrus Romli, Buya Yahya, seluruh Kyai2 dan semua santri senantiasa diberi kesehatan umur panjang dan istiqomah berda'wah. melawan segala kemunkaran, amin.

Fitnah yang dikabarkan Rosululloh ternyata sudah ada diantara kita, baik dari mana munculnya, dg segala peristiwa yg menyertainya.

WAHABI is not assunnah / salafi.
jelas jelas WAHABI penganut madhzab Ibn Taimiyah (abad 7) dan Abd. Wahab, bukan madhzab Imam2 salafusholeh.

bukan hanya tukang fitnah, juga penipu ttg jati dirinya.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Lawan hujah dengan hujah yang baik.
Setelah itu, berkatalah 'lana a'maaluna walakum a'malukum'

Imam Syafi'i berkata kepada lawan debatnya (Abu Musa): “Wahai Abu Musa, bukankan lebih baik kita tetap berteman walau kita tidak sepakat dalam satu masalah?”

Indah sekali jika ini diterapkan oleh para aktifis Islam..!
Saya rindu ya Allah, akan ukhuwah ini.

Saya bukan NU, saya bukan Muhammadiyah, dan saya juga bukan wahabi,. Tapi saksikan bahwa saya orang Islam yang mencintai ukhuwah

iya keren, bisa mengalahkan ulama2 zaman dulu, imam mujtahid mutlak 4 mazhab dan para salaf.
semoga anda yang mengikuti diberi hidayah oleh Alloh.

lalu apakah anda mengerti tentang tahlilan itu seperti apa?
dimanakah letak niyahah-nya?

Dimanakah penjelasan dari sdra Ibnu Abi Irfan yg Anda bilang berdasarkan atsar yang jelas?
Saya baca berulang2 kok tidak menemukannya?
.
.
Jangan biasakan mengada-adakan atau mengikuti hawa nafsu (keinginan) pribadi untuk mendukung argumen yang anda yakini.
>> dan tdk ada yg salah dg pernyataan sdra Habib Rofiq, yg menentukan Benar Salah itu sejatinya hanyalah Alloh, smua itu tertuang melalui Quran dan Rosulnya (Hadits).
Maka pelajarilah Al Quran dan Al Hadits kepada ahlinya yang sanadnya runut sampai ke imam 4 mazhab, salaf, hingga ke Rosululloh.

Kalo saya sich gampang..dalam beribadah ada dalil shahih, cara dan waktunya jelas ya saya lakukan..kalo tidak ya berhenti..bagi sy yg terpenting adalah dalil yang jelas, lha wong nulis skripsi, tesis ato disertasi yang hanya sepele urusan dunia tanpa sumber jelas aja ditolak, apalagi urusan agama musti super hati2..dalil jelas oke, nggak jelas ya stop..yok semua damai dan mari terus belajar..

Saya dibesarkan di kalangan warga NU... tapi saya tidak mendapatkan kefahaman tentang agama yang haq ini sebagaimana saya alami sekarang setelah belajar sunnah kepada ustadz2 lulusan madinah.. yang katanya dibilang wahabiyyuun... saya bersaksi kalo memang wahabi itu adalah mereka yang mengikuti AlQur'an dan Sunnah lil fahmi salaful ummah.. maka saya adalah WAHABII insya Allah... saya Ridho.. walaupun warga NU mengingkarinya... maafkan bukan maksud membelot dari jama'ah NU... tapi bimbingan ustadz2 NU di tempat saya dilahirkan telah gagal dalam membina ummat terutama generasi mudanya... alhamdulillah saya selamat karena belajar kepada para ustadz Wahabi...

setuju ustadz, tahlilan adalah sebuah hal baru,
tahlilan adalah suatu yang baik dimana dibaca surah yasin yang anjurkan. serta membasahkan lidah dngan salawat dan dzikir.

saya yakin para ulama tidak me-WAJIB-kannya untuk suatu kejadian tertentu, bukan hanya untuk kematian maupun untuk malam jum'at saja.

inilah yang harus diajarkan pada umat kita

wallahu'alam bissowab

yg nglakoni monggo dilanjut, sing ora nglakoni rasah ribut
itu saja ekhem

saya orang awam tapi saya mengerti permasalahn ini menurutku tiada yang salah dari ust. firanda mari kita sama2 koreksi diri dan mengembalikan lagi semua permasalahan pada al-qur'ab,al-hadist dan ijma' para ulama

"Ahmad meriwayatkan dalam kitab Zuhud dan Abu Nuaim dalam al-Hilyah dari Thawus bahwa 'sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut'. Sanad riwayat ini sahih dan berstatus hadis marfu'. Ibnu Juraij menyebutkan dalam kitab al-Mushannaf dari Ubaid bin Amir bahwa 'orang mukmin mendapatkan ujian (di kubur) selama 7 hari, dan orang munafik selama 40 hari'.
Terus dalil tahlilan / sodaqoh lebih dari 7 hari (sampai 40, 100, 1000 hari ) apakah itu untuk orang munafik?

مرقاة المفاتيح على شرح مشكاة المصباح ج 17 ص 214 مكتبة شاملة باب فى المعجزات
المؤلف ملا على القارى

عن عاصم بن كليب بالتصغير قال المؤلف في فضل التابعين هو الجرمي الكوفي سمع أباه وغيره ومنه الثوري وشعبة وحديثه في الصلاة والحج والجهاد انتهى وكان حقه أن يقول وفي المعجزات عن أبيه لم يذكره المؤلف في أسمائه عن رجل من الأنصار قال خرجنا مع رسول الله في جنازة بكسر الجيم وفتحها فرأيت رسول الله وهو على القبر أي طرفه والجملة حال يوصي الحافر بتخفيف الصاد وتشدد حال أخرى يقول بيان أو بدل أوسع أمر مخاطب للحافر من قبل رجليه بكسر القاف وفتح الباء أي من جانبهما أوسع من قبل رأسه فلما رجع أي عن المقبرة استقبله داعي امرأته أي زوجة المتوفي فأجاب ونحن معه فجيء بالطعام فوضع يده أي فيه ثم وضع القوم أي أيديهم فأكلوا هذا الحديث بظاهره يرد على ما قرره أصحاب مذهبنا من أنه يكره اتخاذ الطعام في اليوم الأول أو الثالث أو بعد الأسبوع كما في البزازية وذكر في الخلاصة أنه لا يباح اتخاذ الضيافة عند ثلاثة أيام وقال الزيلعي ولا بأس بالجلوس للمصيبة إلى ثلاث من غير ارتكاب محظور من فرش البسط والأطعمة من أهل الميت وقال ابن الهمام يكره اتخاذ الضيافة من أهل الميت والكل عللوه بأنه شرع في السرور لا في الشرور قال وهي بدعة مستقبحة روى الإمام أحمد وابن حبان بإسناد صحيح عن جرير بن عبد الله قال كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعهم الطعام من النياحة انتهى فينبغي أن يقيد كلامهم بنوع خاص من اجتماع يوجب استحياء أهل بيت الميت فيطعمونهم كرها أو يحمل على كون بعض الورثةصغيرا أو غائبا أو لم يعرف رضاه أو لم يكن الطعام من عند أحد معين من مال نفسه لا من مال الميت قبل قسمته
ونحو ذلك
وعليه يحمل قول قاضي خان يكره اتخاذ الضيافة في أيام المصيبة لأنها أيام تأسف فلا يليق بها ما يكون للسرور وإن اتخذ طعاما للفقراء كان حسنا

وأما الوصية باتخاذ الطعام بعد موته ليطعم الناس ثلاثة أيام فباطلة على الأصح وقيل يجوز ذلك من الثلث وهو الأظهر.
فنظرنا رسول الله أي إلى رسول الله كما في نسخة يلوك لقمة في فيه أي يلقيها من فمه إلى جانب آخر ففي النهاية اللوك إدارة الشيء في الفم ثم قال أجد لحم شاة أخذت وفي نسخة اتخذت بغير إذن أهلها فأرسلت المرأة تقول يا رسول الله إني أرسلت إلى النقيع بالنون وهو موضع يباع فيه الغنم أي تفسير مدرج من بعض الرواة وفي المقدمة النقيع موضع بشرق المدينة وقال في التهذيب هو في صدر وادي العقيق على نحو عشرين ميلا من المدينة قال الخطابي أخطأ من قال بالموحدة والجملة معترضة بين الفعل وهو قولها أرسلت وبين متعلقه وهو قولها ليشتري لي شاة بصيغة المجهول فلم توجد فأرسلت إلى جار لي قد اشترى شاة أن يرسل أي بأن يرسل الجار بها أي بالشاة المشتراة لنفسه إلي بثمنها أي الذي اشتراها به فلم يوجد أي الجار فأرسلت إلى امرأته فأرسلت أي المرأة إلي بها أي بالشاة فظهر أن شراءها غير صحيح لأن إذن جارها ورضاه غير صحيح وهو يقارب بيع الفضولي المتوقف على إجازة صاحبه وعلى كل فالشبهة قوية والمباشرة غير مرضية فقال رسول الله أطعمي هذا الطعام الأسرى جمع أسير والغالب أنه فقير وقال الطيبي وهم كفار وذلك أنه لما لم يوجد صاحب الشاة ليستحلوا منه وكان الطعام في صدد الفساد ولم يكن بد من إطعام هؤلاء فأمر بإطعامهم انتهى وقد لزمها قيمة الشاة بإتلافها ووقع هذا تصدقا عنها رواه أبو داود والبيهقي في دلائل النبوة .

dah ngaku salah...sombong pulak..

terima kasih, bagus penjelasannya.

shufi-indonesia.blogspot.com

Wahabi debat karo buya yahya wani pora

Salafy nek salah tagfikir sendiri sendiri

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Terkadang seorang berilmu pun bisa membuat ksalahan yg kadang tidak mau di salah kan oleh orang lain karna ia berilmu dan merasa yg paling benar sehingga ia tdk mau mendengar pendapat orang lain meski pendapat itu benarr dan belum tentu pendapat yg ia yakini itu benar
Dan di situlah iblis mengunakan siasatnya utk menguasai hati seseorang
Maka dari itulah kita sbg manusia harus kenali diri kita bahwa kita punya nafsu
Dan 3mahluk allah yg allah ciptakan ini
Malaikat allah ciptakan dg akal tanpa nafsu
Hewan allah ciptakn dg nafsu tanpa akal sedang manusia di ciptakan dg di anugrahi kduanya jika akalnya mampu menundukan nafsubya maka ia lebih mulya dari pada malaikat
Namun bila nafsu mengalahkan akal maka manusia akan lebih hina dan buas dari pada hewan

Udah jelas ko semuanya, hei firanda lebih baik kau urus saja sana org2 yg bermaksiat mungkin lbh bermakna drpd kau ngurus2 bid'ah dan bid'ah. Diperhatikan ceramah sana sini anda kok kesanya menimbulkan kebencin. Apakah pantas seorangbustad spt ini????

gkgkkgkgk...itulah merasa paling benar...udh kyk setan aja...eheehehe ahlussunnah garis lurus

sebenarnya gitu lbh enak...la kaum wahabi sukanya menhujat menuduh dan memastikan seseorang musyrik apabila tidak sesuai dengan ajarannya...siap yang terima orang solawatan di bilang musyrik seenaknya aja menuduh orang musrik dan kafir...padahal mereka sendiri udah tahu Hnya Allah yang tahu maha benar dan maha tahu...Sok Sok an nuduh orang kafir dan musyrik...bego amat...ingat Kaum Wahabi itu tidak mengakui Walisongo...

ya itulah wahabi bro...pengen di akui dan cari sensasi...biar laris Jobnya...ingat Celana cingkrang...jidat hitam...menunjukkan klu ahli sujud...melakukan ibadah dan Riak dimana-mana...

Terimakasih Kiai Ilmunya, semoga lebih baik Kiai yang berkenan menuangkan ilmunya lewat tulisan.
Salam Ukhwah, MI Ma'arif Klesman Wonosobo Jateng

Ngomong wahabi mang tau artinya wahabi ingat apabila seorang muslim mencela muslim yg lain apabila yg di sangkakan tidak benar akan kembali kepada diri yg mencela

Ngomong wahabi mang tau artinya wahabi ingat apabila seorang muslim mencela muslim yg lain apabila yg di sangkakan tidak benar akan kembali kepada diri yg mencela

Ngomong wahabi mang tau artinya wahabi ingat apabila seorang muslim mencela muslim yg lain apabila yg di sangkakan tidak benar akan kembali kepada diri yg mencela

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon