logo blog

Minggu, 01 September 2013

Adzan Saat Pemakaman



Adzan Saat Pemakaman

Saat menghadiri haul KH Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama) ada seorang Pengurus NU yang menyampaikan sambutan. Di tengah-tengah sambutannya beliau berkata: “Sampai saat ini belum saya temukan dalil tentang adzan saat pemakaman, baik di kitab-kitab hadis maupun lainnya”. Sayangnya beliau tidak menggarisbawahi misalnya: “Silahkan dikaji dalam Bahtsul Masail”, atau kalimat rekomendasi lainnya, supaya tidak membuat keraguan di lingkungan Nahdliyin yang telah mengamalkan hal tersebut.

Istidlal Adzan di Kuburan
Dalam pandangan ulama Syafiiyah, adzan dan iqamah tidak hanya diperuntukkan sebagai penanda masuknya salat, baik berdasarkan hadis maupun mengimplementasikan makna hadis. Oleh karenanya ada sebagian ulama yang memperbolehkan adzan saat pemakaman, dan sebagian yang lain tidak menganjurkannya. Dalam hal ini ahli fikih Ibnu Hajar al-Haitami berkata:

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ ، وَالْمَهْمُومِ ، وَالْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ (تحفة المحتاج في شرح المنهاج  - ج 5 / ص 51)

“Terkadang adzan disunahkan untuk selain salat, seperti adzan di telinga anak yang lahir, orang yang kesusahan, orang yang pingsan, orang yang marah, orang yang buruk etikanya baik manusia maupun hewan, saat pasukan berperang, ketika kebakaran, dikatakan juga ketika menurunkan mayit ke kubur, dikiaskan terhadap saat pertama datang ke dunia. Namun saya membantahnya di dalam kitab Syarah al-Ubab. Juga disunahkan saat kerasukan jin, berdasarkan hadis sahih, begitu pula adzan dan iqamah saat melakukan perjalanan” (Tuhfat al-Muhtaj 5/51)

Di kitab lainnya Ibnu Hajar secara khusus menjelaskan masalah ini:

( وَسُئِلَ ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ بِمَا لَفْظُهُ مَا حُكْمُ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ عِنْدَ سَدِّ فَتْحِ اللَّحْدِ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ هُوَ بِدْعَةٌ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ سُنَّةٌ عِنْدَ نُزُولِ الْقَبْرِ قِيَاسًا عَلَى نَدْبِهِمَا فِي الْمَوْلُودِ إلْحَاقًا لِخَاتِمَةِ الْأَمْرِ بِابْتِدَائِهِ فَلَمْ يُصِبْ وَأَيُّ جَامِعٍ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ وَمُجَرَّدُ أَنَّ ذَاكَ فِي الِابْتِدَاءِ وَهَذَا فِي الِانْتِهَاءِ لَا يَقْتَضِي لُحُوقَهُ بِهِ . (الفتاوى الفقهية الكبرى  - ج 3 / ص 166)

“Ibnu Hajar ditanya: Apa hukum adzan dan iqamat saat menutup pintu liang lahat? Ibnu Hajar menjawab: Ini adalah bid’ah. Barangsiapa yang mengira bahwa adzan tersebut sunah ketika turun ke kubur, dengan dikiyaskan pada anak yang lahir, dengan persamaan akhir hidup dengan permulaan hidup, maka tidak benar. Dan dari segi apa persamaan keduanya? Kalau hanya antara permulaan dan akhir hidup tidak dapat disamakan” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra 3/166)

Tentu yang dimaksud bid’ah disini tentu bukan bid’ah yang sesat, sebab Ibnu Hajar ketika menyebut bid’ah pada umumnya menyebut dengan kalimat “al-Madzmumah”, atau “al-Munkarah” dan lainnya dalam kitab yang sama. Beliau hanya sekedar menyebut bid’ah karena di masa Rasulullah Saw memang tidak diamalkan.

Adzan Pertama Kali di Kubur
Sejauh referensi yang saya ketahui tentang awal mula melakukan adzan saat pemakaman adalah di abad ke 11 hijriyah berdasarkan ijtihad seorang ahli hadis di Syam Syria, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh al-Muhibbi:

محمد بن محمد بن يوسف بن أحمد بن محمد الملقب شمس الدين الحموي الأصل الدمشقي المولد الميداني الشافعي عالم الشام ومحدثها وصدر علمائها الحافظ المتقن : وكانت وفته بالقولنج في وقت الضحى يوم الاثنين ثالث عشر ذي الحجة سنة ثلاث وثلاثين وألف وصلى عليه قبل صلاة العصر ودفن بمقبرة باب الصغير عند قبر والده ولما أنزل في قبره عمل المؤذنون ببدعته التي ابتدعها مدة سنوات بدمشق من افادته إياهم أن الأذان عند دفن الميت سنة وهو قول ضعيف ذهب إليه بعض المتأخرين ورده ابن حجر في العباب وغيره فأذنوا على قبره (خلاصة الأثر في أعيان القرن الحادي عشر – ج 3 / ص 32)

“Muhammad bin Muhammad bin Yusuf bin Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar Syamsuddin al-Hamawi, asalnya ad-Dimasyqi, kelahiran al-Midani, asy-Syafii, seorang yang alim di Syam, ahli hadis disana, pemuka ulama, al-hafidz yang kokoh. Beliau wafat di Qoulanj saat waktu Dhuha, hari Senin 13 Dzulhijjah 1033. Disalatkan sebelum Ashar dan dimakamkan di pemakaman ‘pintu kecil’ di dekat makam orang tuanya. Ketika janazahnya diturunkan ke kubur, para muadzin melakukan bid’ah yang mereka lakukan selama beberapa tahun di Damaskus, yang diampaikan oleh beliau (Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Yusuf) kepada mereka bahwa ‘adzan ketika pemakaman adalah sunah’. Ini adalah pendapat lemah yang dipilih oleh sebagian ulama generasi akhir. Pendapat ini ditolak oleh Ibnu Hajar dalam kitab al-Ubab dan lainnya, maka mereka melakukan adzan di kuburnya” (Khulashat al-Atsar 3/32)

Khilaf Ulama Syafiiyah
Diantara kalangan madzhab Syafiiyah sendiri masalah ini merupakan masalah yang diperselisihkan, ada yang tidak menganjurkan (namun tidak melarang) dan ada pula yang menganjurkan, sebagaimana yang diamalkan oleh umat Islam di Indonesia:
  • Syaikh asy-Syarwani:
ولا يندب الآذان عند سده خلافا لبعضهم برماوي اه (حواشي الشرواني – ج 3 / ص 171)
“Tidak disunahkan adzan saat menutup liang lahat, berbeda dengan sebagian ulama. Dikutip dari Syaikh Barmawi” (Hawasyai asy-Syarwani 3/171)

  • Syaikh Sulaiman al-Jamal:
وَلَا يُنْدَبُ الْأَذَانُ عِنْدَ سَدِّهِ وِفَاقًا لِلَأْصْبَحِيِّ وَخِلَافًا لِبَعْضِهِمْ ا هـ . بِرْمَاوِيٌّ . (حاشية الجمل - ج 7 / ص 182)
“Tidak disunahkan adzan saat menutup liang lahat, sesuai dengan al-Ashbahi dan berbeda dengan sebagian ulama. Dikutip dari Syaikh Barmawi” (Hasyiah asy-Jamal 3/171)

  • Syaikh Abu Bakar Syatha:
واعلم أنه لا يسن الاذان عند دخول القبر، خلافا لمن قال بنسبته قياسا لخروجه من الدنيا على دخوله فيها. قال ابن حجر: ورددته في شرح العباب، لكن إذا وافق إنزاله القبر أذان خفف عنه في السؤال. (إعانة الطالبين - ج 1 / ص 268)
“Ketahuilah bahwa tidak disunahkan adzan ketika masuk dalam kuburan, berbeda dengan ulama yang menganjurkannya, dengan dikiyaskan keluarnya dari dunia terhadap masuknya kea lam dunia (dilahirkan). Ibnu Hajar berkata: Tapi saya menolaknya dalam Syarah al-Ubab, namun jika menurunkan mayit ke kubur bertepatan dengan adzan, maka diringankan pertanyaan malaikat kepadanya” (Ianat ath-Thalibin 1/268)

Wallahu A’lam bi al-Shawab

(Samudra Kalimantan 27 Agustus 2013)

15 komentar

sesungguhnya azan utk orang meninggal ketika di kubur itu BID'AH. KARENA TIDAK DIAJARKAN OLEH RASULULLAH SAW

Sertakan sanad hadisnya ,, banyak yg mengatakan hadisnya daif ,sangat lemah dan palsu maka tidak ada penguatnya

Sertakan sanad hadisnya ,, banyak yg mengatakan hadisnya daif ,sangat lemah dan palsu maka tidak ada penguatnya

Yang pasti, adzan saat pemakaman itu digunakan untuk mengusir setan, karena diyakini di kuburan itu banyak setan. Dan agar saat pertama kali mayit di dalam kubur tidak diganggu setan, maka perlu dikumandangkan adzan.
Dalilnya mana? Silahkan buka sendiri di dalam kitab Shahih Muslim. Di sana banyak sekali hadits yang menjelaskan bahwa salah satu fungsi adzan adalah untuk mengusir setan.

Mayit diganggu setan?, jd setan itu nggak cuman menggoda manusia hidup to?

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

mungkin pahami dulu arti dari adzan itu apa,
karena adzan itu sebenarnya seruan untuk mengajak mendirikan sholat.

menurut saya, lahirnya manusia didunia tidaklah sama dengan kematian manusia untuk diadzankan.

karena ketika bayi manusia dalam kandungan( sudah terbentuk organ kepala) dan dilahirkan didunia, saat itulah memori otak bayi mulai berfungsi untuk merekam. mungkin seruan adzan diperuntukan kepada sang bayi, sebagai sarana pengenalan seruan adzan dan harapan orang tua agar kelak ia benar-benar dapat melaksanakan sholat. bila manusia itu sendiri tidak mau sholat, kemungkinan sudah banyak faktor yg mempengaruhinya salah satunya kemalasan dan godaan.

sedangkan untuk sang mayit menurut saya
mungkin "al-Madzmumah" hal yang tidak pernah diamalkan oleh Rasulullah Saw, tetapi tidak haram hukumnya

menurut saya, tidak mungkin lagi bila kita mengadzankan mayit di kuburan, karena adzan sebenarnya seruan yang mengajak untuk mendirikan sholat. tidak mungkin kita mengajak sang mayit untuk mendirikan sholat.
sebagaimana dalam arti adzan : Hayya' Alash Shalaah
yang artinya : Marilah sholat


disisi lain, boleh dilakukan adzan bila bertepatan waktu sholat, sebagai mempermudahkan sang mayit menjawab pertanyaan malaikat, karena dalam arti adzan terdapat kata 2 kalimat syahadat yang artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.
serta sebagai pengingat manusia yang masih berada di dunia/ yang hadir dalam pemakaman untuk melaksanakan sholat sebelum masuknya ke liang lahat.
tetapi tidak ada dalil yang kuat mengenai ini

Yang dibutuhkan dalil bukan dalih

Kalo adzan hanya untuk seruan solat aja kenapa laffad adzan tidak hanya khayya'alasolah,tapi ada lafadz lainnya

Islam itu satu!!! Islam itu hancur krna kt yg tdk pernh saling menghargai!!! Sy benar sy benar cuma nenganggap diri kt benar!! Kbenaran hanya milik allah!! Liat tmur tengah!! Dsebabkn krna itu!!!

Islam itu satu!!! Islam itu hancur krna kt yg tdk pernh saling menghargai!!! Sy benar sy benar cuma nenganggap diri kt benar!! Kbenaran hanya milik allah!! Liat tmur tengah!! Dsebabkn krna itu!!!

menurut saya.. menurut saya..
situ siapa??

khilaf mana? la wong ada yg mu'tamad, kyai2 pondok di kediri & bahtsul masa'ilnya bnyk yg menolaknya, brp tahun di ploso?

monggo dipahami mawon kang

Azan untuk panggilan sholat itu lebih tepat jadi mayit mustahil melakukan sholat kalau bayi baru lahir di azan kan sesuatu yang masuk akal kelak dia akan melakukan sholat ...

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon