logo blog

Rabu, 22 Juli 2015

Islam Nusantara [Bagian-1]

Islam Nusantara
(Ma'ruf Khozin)

Pertama-tama, kalau kita memahami dua kata ini apa adanya pasti akan berselisih paham. Namun, yang dikehendaki bukanlah makna literleg, tetapi ada suku kata yang dibuang (حذف المضاف), bahkan bentuk seperti ini kita temukan di dalam al-Quran, misalnya:

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا  [يوسف/82]
“Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ..." (Yusuf: 82)

Dari mana kalimat ‘Penduduk’ dalam penafsiran tersebut? Sebab kalau tidak ada kalimat ‘Penduduk’ justru semakin mempersulit makna, apa mungkin sebuah ‘negeri’ akan ditanya? Maka maksudnya adalah penduduk negeri. Demikian halnya ‘Islam Nusantara’ memiliki kata yang hakikatnya tersimpan di dalamnya, yaitu ‘Islam Di Nusantara’. Boleh jadi tentang sejarah Islam di Nusantara, metode dakwah Islam di Nusantara, perkembangan Islam di Nusantara, dan sebagainya.

Kedua, Islam seluruh dunia, sejak masa Rasulullah hingga kiamat, semua tetap sama, Islam itu sendiri. Hanya saja geografisnya berbeda, sosio-kulturnya tidak sama, masa dulu dan sekarang mengalami perubahan.

Ambil contoh Makkah dan Madinah di Jazirah Arab, Rasulullah bersabda:

لَا يَجْتَمِعُ دِينَانِ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ
“Tidak akan berkumpul 2 agama di Jazirah Arab” (HR Malik dalam al-Muwatha’ dan al-Baihaqi. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebut banyak jalur dalam al-Talkhir al-Habir)

Murid Imam Malik meriwayatkan:

الموطأ - رواية محمد بن الحسن - (ج 3 / ص 333)
 قال محمد : إن مكة والمدينة وما حولهما من جزيرة العرب وقد بلغنا عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه لا يبقى دينان في جزيرة العرب . فأخرج عمر رضي الله تعالى عنه من لم يكن مسلما من جزيرة العرب لهذا الحديث
“Muhammad bin al-Hasan berkata: “Sesungguhnya Makkah, Madinah dan sekitarnya adalah bagian dari Jazirah Arab. Telah sampai kepada kami bahwa Nabi bersabda: “Tidak akan ada 2 agama di Jazirah Arab”. Lalu Umar mengeluarkan Non Muslim dari Jazirah Arab, berdasarkan hadis ini”

Tentu saja negeri umat Islam di luar Arab memiliki perbedaan, sebab mereka bertetangga dengan non Muslim, berkerabat dengan orang kafir, bahkan ada yang berinteraksi dengan komunis sekalipun. Meski demikian mereka tetap Islam, tetap salat, puasa, zakat, haji dan kewajiban lainnya.

Kuatnya Islam yang ditanamkan oleh Rasulullah di Arab, juga berbeda dengan Islam yang datang ke negeri lain, sebagaimana sabda Nabi:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
“Sungguh syetan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab. Tetapi upaya syetan adalah memfitnah (agar berperang) diantara mereka sendiri” (HR Muslim)

Saya sendiri menyaksikan bagaimana indahnya salat di Makkah dan Madinah, setengah jam sebelum adzan Umat Islam melangkah menuju Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bahkan shaf terdepan telah penuh.

[Bersambung - Lihat Bagian 2]

2 komentar

pencerahan baru, pemahaman baru...

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon