logo blog

Minggu, 04 September 2016

Khutbah Idul Qurban 2016 : Allah Akan Mengembalikan Hewan Qurban Di Akhirat

الخطبة الاولى لعيد الاضحى

Khutbah Pertama
Oleh : Makruf Khozin*

الله اكبر تسع مرات: -
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ . الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بَعَثَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَقُدْوَةً لِلْعَامِلِيْنَ وَحُجَّةً عَلَى الْعِبَادِ أَجْمَعِيْنَ ، بَعَثَهُ بِدِيْنِ الْهُدَى وَالرَّحْمَةِ وَشَرَّعَ لِاُمَّتِهِ النَّحْرَ وَالتَّضْحِيَةَ ، اِقْتِدَاءً بِأَبِي الْاَنْبِيَاءِ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ اَزْكَى السَّلَامِ وَالتَّحِيَّةِ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin, Jamaah salat Idul Adlha, semoga senantiasa dalam rahmat dan perlindungan dari Allah. Mari kita saling mengingatkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, dengan menjalankan perintah-perintahnya sesuai dengan kemampuan kita, dan menjauhi larangan-larangan Nya sekuat tenaga kita. Sebab hanya dengan takwa inilah yang akan mengantarkan kebahagiaan hidup, baik di dunia hingga di akhirat.

Khutbah Idul Qurban 2016 : Allah Akan Mengembalikan Hewan Qurban Di Akhirat


Allahu Akbar 3x. Hadirin Jamaah Idul Adlha, Yarhamukumullah.
Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan bahwa:

قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فَقَالَ : مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ؟ قَالُوْا : يَوْمَانِ كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ (رواه ابو داود واحمد والحاكم

Rasulullah tiba di Madinah dan mereka telah memiliki 2 hari untuk bersenang-senang di masa Jahiliyah. Maka Nabi bersabda: “Sungguh Allah telah mengganti bagi kalian sesuatu yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adlha dan Idul Fitri” (HR Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim dan lainnya)

Mengapa Rasulullah menilai keduanya lebih baik? Sebab dalam kedua hari raya tersebut terdapat 2 unsur keharmonisan ibadah, baik secara vertikal antara manusia dan Allah, atau secara horizontal antara sesama manusia.

Dalam Idul Fitri, nilai ibadah kepada Allah adalah berbentuk ibadah puasa sebulan penuh, sebagaimana dalam ayat:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ :البقرة/185

“... Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (al-Baqarah: 185)

Sementara nilai ibadah kepada sesama manusia tercermin dalam zakat fitrah, seperti dalam firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى :الأعلى/14، 15

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (al-A’la, 14-15)

Dalam sebagian penafsiran ulama, ‘Tazakka’ artinya mengeluarkan zakat fitrah, ‘dzikir menyebut nama Allah’ artinya adalah bertakbir di malam hari raya, dan esok paginya dilanjutkan dengan Salat Idul Fitri.

Demikian halnya dengan Idul Adlha. Nilai ibadah kepada Allah diantaranya berbentuk melaksanakan ibadah haji dan umrah di Makkah, semoga kita mendapat anugerah dua ibadah tersebut. Sementara nilai ibadah terhadap sesama manusia adalah menyembelih binatang ternak yang dijelaskan dalam firman Allah:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ : الكوثر/2

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan ber-qurbanlah.” (al-Kautsar: 2)

Allahu Akbar 3x. Hadirin Jamaah Idul Adlha yang dirahmati oleh Allah

Ibadah Qurban adalah termasuk syariah yang telah diperintahkan oleh Allah kepada umat-umat terdahulu. Al-Quran telah menegaskan:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ :الحج/34

”Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka…” (al-Hajj: 34)

Kita mencoba mengurai dua contoh bentuk Qurban antara putra Nabi Adam dan Qurban oleh Nabi Ibrahim. Meski jarak terbentang jauh, namun keduanya memiliki benang merah. Allah mengisahkan dalam kalam-Nya yang mulia:

إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآَخَرِ :المائدة/27

“..Ketika dua putera Adam (Habil dan Qabil) mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).”

Habil yang diriwayatkan sebagai peternak, ia melakukan Qurban kepada Allah dari hasil ternak terbaiknya, sebuah domba besar. Sementara Qabil diriwayatkan sebagai petani, ia melakukan Qurban kepada Allah dari hasil panennya yang buruk. Maka Allah pun hanya menerima dari Habil. Wal hasil domba yang diqurbankan oleh Habil diangkat ke surga.

Pada masa yang jauh sesudahnya, di masa Nabi Ibrahim. Beliau diperintahkan melalui wahyu mimpi untuk menyembelih putra tersayangnya, Nabi Ismail. Setelah keduanya berpasrah kepada Allah untuk melakukan perintah itu, maka Allah berfirman:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ  : الصافات/107
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (ash-Shaffat: 107)

Dari mana seekor sembelihan besar tersebut? Jawabannya adalah dari surga yang dahulu kala sebagai Qurban dari Habil, putra Nabi Adam, sebagaimana dijelaskan para ulama ahli Tafsir:

وَهُوَ الْكَبْشُ الَّذِي قَرَّبَهُ ابْنُ آدَمَ فَتُقُبِّلَ مِنْهُ (تفسير ابن كثير - ج 7 / ص 31
“Sembelihan yang disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah domba qurban Habil yang telah diterima” (Ibnu Katsir 7/31)

Dari dua peristiwa Qurban ini dapat kita ambil kesimpulan, bahwa apa yang telah di-Qurbankan untuk Allah tidaklah sia-sia, namun tetap terjaga dan dapat dikembalikan oleh Allah dengan kuasa-Nya yang tiada batas. Hal ini selaras dengan sabda dari Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama: 

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا :رواه الترمذى
“Tidak ada amal manusia yang lebih dicintai oleh Allah di hari qurban dari pada mengalirkan darah hewan. Sebab hewan itu akan datang di hari kiamat dengan tanduknya, rambutnya dan kaki-kakinya” (HR al-Tirmidzi)

Sekali lagi dari hadis ini menunjukkan bahwa hewan yang telah kita Qurban-kan akan dikembalikan oleh Allah kepada kita kelak di akhirat. Hewan yang telah disembelih dan telah dibagikan kepada fakir-miskin tetap dalam kondisi utuh saat menjadi kendaraan kita menuju surga Allah. Kita tidak meragukan masalah ini karena Allah telah membuktikan dalam Qurban putra Nabi Adam dan Qurban di masa Nabi Ibrahim.

Akan tetapi untuk dapat mencapai tujuan tersebut tidaklah bisa sekedar mengandalkan sisi kekayaan uang saja, namun harus didasari dengan takwa:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ :الحج/37
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (al-Haj: 37) 

Semoga amal ibadah Qurban kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, amin.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اِنَّ اَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ () لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ الحج/27، 28

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

* Dewan Pakar Aswaja NU Center Jatim dan anggota Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim 

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon