logo blog

Jumat, 11 Agustus 2017

Inilah Hukum Berprofesi Sebagai Dokter Hewan

Profesi Dokter Hewan Dilarang?

Ada dialog antara Ustadzah dan seorang penanya berkenaan dengan profesi Dokter Hewan:

“Seorang dokter hewan setiap saat melaksanakan operasi, misalnya mengoperasi anjing, ini ‘kan najis mugholadhoh, apakah harus setiap saat pakai tanah, atau bisa pakai sabun?”
Hukum Berprofesi Sebagai Dokter Hewan

Ustadzah menjawab:

“Harus pakai tanah tidak ada tawar menawar…”

Jawaban itu diakhiri dengan pernyataannya:

“…kalau saran saya, kita sebagai seorang muslim, jangan jadi dokter hewan.”

Sontak saja jawaban ini mengejutkan sebagian pihak khususnya yang berprofesi sebagai dokter hewan. Seorang dokter spesialis hewan menjawab betapa bahayanya jika tidak ada dokter hewan lalu ditemukan wabah penyakit Zoonosis dan rabies yang menyebar dari hewan kepada manusia.

Silahkan baca di link berikut:
Pernyataan Terbaru Mamah Dedeh Tuai Banyak Kritik. Pasalnya, Kini Ia Larang Muslim Jadi Dokter Hewan http://tz.ucweb.com/8_muLM

Hukum Sebuah Profesi

Benarkah tidak dianjurkan menjalani profesi tertentu? Tidak benar, Imam Al Ghazali sangat lugas menjelaskan hukum profesi sebagai kewajiban secara kolektif:

ﻓﻼ ﻳﺘﻌﺠﺐ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻨﺎ ﺇﻥ اﻟﻄﺐ ﻭاﻟﺤﺴﺎﺏ ﻣﻦ ﻓﺮﻭﺽ اﻟﻜﻔﺎﻳﺎﺕ ﻓﺈﻥ ﺃﺻﻮﻝ اﻟﺼﻨﺎﻋﺎﺕ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﻓﺮﻭﺽ اﻟﻜﻔﺎﻳﺎﺕ ﻛﺎﻟﻔﻼﺣﺔ ﻭاﻟﺤﻴﺎﻛﺔ ﻭاﻟﺴﻴﺎﺳﺔ ﺑﻞ اﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻭاﻟﺨﻴﺎﻃﺔ ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻮ ﺧﻼ اﻟﺒﻠﺪ ﻣﻦ اﻟﺤﺠﺎﻡ ﺗﺴﺎﺭﻉ اﻟﻬﻼﻙ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻭﺣﺮﺟﻮا ﺑﺘﻌﺮﻳﻀﻬﻢ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻟﻠﻬﻼﻙ ﻓﺈﻥ اﻟﺬﻱ ﺃﻧﺰﻝ اﻟﺪاء ﺃﻧﺰﻝ اﻟﺪﻭاء

Maka jangan heran dengan ucapan kami bahwa ilmu medis dan ilmu menghitung adalah bagian dari fardhu kifayah, sebab dasar-dasar profesi adalah bagian dari fardhu kifayah. Seperti pertanian, menenun pakaian, politik, bahkan bekam dan menjahit. Sebab jika tidak ada yang ahli dalam bekam maka penduduknya akan mengalami sakit lalu mereka akan kesulitan, sebab akan mengarah kepada kebinasaan. Karena Allah yang menurunkan penyakit juga menurunkan obatnya" (Ihya Ulumiddin 1/16)

Benarkah Harus Tanah?

Ustadzah ini tidak salah dalam menyampaikan ilmu, karena dalam teks hadis memang menyebutkan tanah (HR Muslim). Hanya saja saat ini ada banyak aktifitas umat Islam yang bersentuhan dengan najis mughalladzah ini, seperti dokter hewan, tenaga kerja yang ada di Hongkong (karena majikan minta dibuatkan masakan babi) dan sebagian. Tentu sangat menyulitkan jika setiap bersentuhan dengan najis ini harus menggunakan debu atau tanah.

Sebenarnya kita masih memiliki opsi di dalam madzhab Syafi'iyah yang mengharuskan pakai tanah, untuk beralih ke sabun atau deterjen dalam keadaan yang mendesak, meski oleh Imam Nawawi dinilai dlaif:

(ﻭاﻷﻇﻬﺮ ﺗﻴﻘﻦ اﻟﺘﺮاﺏ) ﺟﻤﻌﺎ ﺑﻴﻦ ﻧﻮﻋﻲ اﻟﻄﻬﻮﺭ، ﻭاﻟﺜﺎﻧﻲ ﻻ، ﻭﻳﻘﻮﻡ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻛﺎﻷﺷﻨﺎﻥ ﻭاﻟﺼﺎﺑﻮﻥ

Pendapat yang kuat adalah menggunakan debu secara yakin. Hal ini adalah bentuk mengumpulkan dua alat bersuci yaitu air dan debu. Sedangkan pendapat yang kedua tidak wajib debu tetapi bisa menggunakan yang lain seperti sabun (Al-Mahalli 1/84)

Kesimpulan

Dengan demikian tidak ada salahnya menjadi seorang dokter di bidang hewan, asalkan setiap akan salat tetap menjaga kesucian. Dan kita tahu yang namanya dokter sangat bersih, rapi dan tentunya menjaga dari najis. 

Menurut Imam Al Ghazali tetap dianjurkan di setiap kota ada seorang yang ahli dalam sebuah profesi tertentu, agar jika ada masalah dapat terselesaikan dan tidak menjadi hantu yang membahayakan di tengah masyarakat.

Sementara Bu Nyai tadi juga tidak salah, namun lebih indah lagi andaikata beliau memberi jawaban alternatif yang masih dibenarkan dalam syariat dan dihasilkan dari ijtihad ulama. 

Semoga bermanfaat

Ma'ruf Khozin, anggota LBM PWNU Jatim

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon