logo blog

Selasa, 16 Januari 2018

Tema Khutbah Masjid Al Akbar Surabaya "Memupuk Persaudaraan Sesama Muslim"

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
"... Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara..." ('Āli `Imrān: 103)

Memupuk Persaudaraan Sesama Muslim

1. Mempersaudarakan Personal


ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ: ﻟﻤﺎ ﻗﺪﻣﻨﺎ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺁﺧﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻴﻨﻲ ﻭﺑﻴﻦ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ اﻟﺮﺑﻴﻊ
Abdurrahman bin Auf berkata: ketika kami tiba di Madinah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mempersaudarakan antara saya dan Sa'd bin Rabi' (HR Bukhari)

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺟﺤﻴﻔﺔ ﻗﺎﻝ: ﺁﺧﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻴﻦ ﺳﻠﻤﺎﻥ، ﻭﺃﺑﻲ اﻟﺪﺭﺩاء

Abu Juhaifah berkata: Nabi shalallahu alaihi wasallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda' (HR Bukhari)

ﻋﻦ ﺃﻧﺲ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ «ﺁﺧﻰ ﺑﻴﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ اﻟﺠﺮاﺡ، ﻭﺑﻴﻦ ﺃﺑﻲ ﻃﻠﺤﺔ»

Dari Anas bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mempersaudarakan antara Abu Ubaidah bin Jarrah dan Abu Thalhah (HR Muslim)

Dan banyak Sahabat lainnya yang dieratkan persaudaraan mereka oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

2. Mempersaudarakan 2 Kabilah

Dahulu masyarakat Yatsrib, sebelum bernama Madinah, adalah kota yang dihuni oleh 2 Kabilah yang masih memiliki kekerabatan namun mengalami perang saudara berkepanjangan, yaitu kabilah Khazraj dan Aus. Hijrahnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kesana bukan mempertajam permusuhan namun justru menjadikan mereka bersaudara;

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﻗﺎﻟﺖ: «ﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﺑﻌﺎﺙ، ﻳﻮﻣﺎ ﻗﺪﻣﻪ اﻟﻠﻪ ﻟﺮﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﻘﺪﻡ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻗﺪ اﻓﺘﺮﻕ ﻣﻠﺆﻫﻢ، ﻭﻗﺘﻠﺖ ﺳﺮﻭاﺗﻬﻢ ﻭﺟﺮﺣﻮا، ﻓﻘﺪﻣﻪ اﻟﻠﻪ ﻟﺮﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺩﺧﻮﻟﻬﻢ ﻓﻲ اﻹﺳﻼﻡ»

Aisyah berkata: Hari Bu'ats adalah hari kedatangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam (di Madinah). Saat itu kelompok mereka terpecah, orang-orang terbaiknya terbunuh dan terluka. Allah mendatangkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam agar mereka masuk ke dalam Islam (HR Bukhari)

3. Mempersaudarakan 2 Golongan Sahabat

Keberhasilan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam merajut ukhuwah ini tidak sekedar saling merasa bersaudara, bahkan saling menerima harta warisan, seperti dalam hadis sahih:

(ﻭاﻟﺬﻳﻦ ﻋﺎﻗﺪﺕ ﺃﻳﻤﺎﻧﻜﻢ) ﻗﺎﻝ: " ﻛﺎﻥ اﻟﻤﻬﺎﺟﺮﻭﻥ ﻟﻤﺎ ﻗﺪﻣﻮا اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻳﺮﺙ اﻟﻤﻬﺎﺟﺮ اﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺩﻭﻥ ﺫﻭﻱ ﺭﺣﻤﻪ، ﻟﻷﺧﻮﺓ اﻟﺘﻲ ﺁﺧﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻴﻨﻬﻢ، ﻓﻠﻤﺎ ﻧﺰﻟﺖ: {ﻭﻟﻜﻞ ﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻮاﻟﻲ}  [ اﻟﻨﺴﺎء: 33] ﻧﺴﺨﺖ "

Ibnu Abbas berkata: Ketika Sahabat Muhajirin tiba di Madinah, maka ia menerima warisan dari Sahabat Ansor, tanpa ada kekerabatan. Hal ini karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berhasil mengikat persaudaraan antara mereka. Dan setelah turunnya QS An-Nisa 33 maka hal itu dihapus (HR Bukhari)

ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﻄﺐ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺣﺠﺔ اﻟﻮﺩاﻉ، ﻓﻘﺎﻝ: « ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻧﻲ ﻗﺪ ﺗﺮﻛﺖ ﻓﻴﻜﻢ ﻣﺎ ﺇﻥ اﻋﺘﺼﻤﺘﻢ ﺑﻪ ﻓﻠﻦ ﺗﻀﻠﻮا ﺃﺑﺪا ﻛﺘﺎﺏ اﻟﻠﻪ ﻭﺳﻨﺔ ﻧﺒﻴﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﺇﻥ ﻛﻞ ﻣﺴﻠﻢ ﺃﺥ ﻣﺴﻠﻢ، اﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺇﺧﻮﺓ» 
Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkhutbah dalam haji Wada': "Wahai manusia. Aku tinggalkan bagi kalian, selama kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan pernah sesat selamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunah Nabi shalallahu alaihi wasallam. Sungguh satu orang Muslim bersaudara dengan Muslim yang lain. Dan seluruh umat Islam bersaudara" (HR Al-Hakim, Al-Hafidz Adz-Dzahabi menilainya sahih)

Menyikapi Perbedaan Pendapat Diantara Umat Islam

Fakta yang menjadi penyebab tergerusnya persaudaraan adalah adanya perbedaan, pada umumnya dalam hal furuiyah hingga masalah akidah sesama Muslim. Namun keteladanan dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah memberi saling mengerti dan tabayun diantara para Sahabat. Misalnya yang terdapat dalam hadis berikut ini:

ﻭﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﻗﺎﻝ: «ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻳﺨﺎﻓﺖ ﺑﺼﻮﺗﻪ ﺇﺫا ﻗﺮﺃ، ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﻳﺠﻬﺮ ﺑﻘﺮاءﺗﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺎﺭ ﺇﺫا ﻗﺮﺃ ﻳﺄﺧﺬ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ اﻟﺴﻮﺭﺓ ﻭﻫﺬﻩ اﻟﺴﻮﺭﺓ ﻓﺬﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻟﻠﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - 
Ali bin Abi Thalib berkata: Abu Bakar melirihkan bacaan Qur'annya. Umar mengeraskan bacaan Qur'annya. Ammar bin Yasir jika membaca Qur'an, ia baca dari satu surat dan surat yang lain. Maka hal itu dilaporkan kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam:

ﻓﻘﺎﻝ ﻷﺑﻲ ﺑﻜﺮ: " ﻟﻢ ﺗﺨﺎﻓﺖ؟ " ﻗﺎﻝ: ﺇﻧﻲ ﻷﺳﻤﻊ ﻣﻦ ﺃﻧﺎﺟﻲ 
Nabi bertanya kepada Abu Bakar: "Mengapa bacaanmu lirih?" Abu Bakar menjawab: "Suara saya didengar oleh Allah, dzat saya bermunajat kepada-Nya"

ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻌﻤﺮ: " ﻟﻢ ﺗﺠﻬﺮ ﺑﻘﺮاءﺗﻚ؟ " ﻗﺎﻝ: ﺃﻓﺰﻉ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺃﻭﻗﻆ اﻟﻮﺳﻨﺎﻥ 
Nabi bertanya kepada Umar: "Mengapa bacaanmu keras?" Umar menjawab: "Saya menggertak syetan dan menghilangkan kantuk"

ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻌﻤﺎﺭ: " ﻟﻢ ﺗﺄﺧﺬ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ اﻟﺴﻮﺭﺓ ﻭﻫﺬﻩ اﻟﺴﻮﺭﺓ؟ " ﻗﺎﻝ: ﺃﺗﺴﻤﻌﻨﻲ ﺃﺧﻠﻂ ﺑﻪ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ؟ ﻗﺎﻝ: " ﻻ " 
Nabi bertanya kepada Ammar: "Mengapa bacaanmu mengambil dari satu surat dan surat yang lain?" Ammar balik bertanya: "Apakah engkau mendengar saya mencampur dengan selain Al-Qur'an?" Nabi menjawab: "Tidak"

ﻗﺎﻝ: ﻓﻜﻠﻪ ﻃﻴﺐ». ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ
Nabi bersabda: "Semuanya bagus!!!" (HR Ahmad, para perawinya terpercaya)

Oleh: KH. Guz. Makruf Khozin
Dewan Pakar Aswaja PWNU Jatim

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon