logo blog

Selasa, 06 Maret 2018

Menggemakan Syair "Ya Lal Wathan" Di Masjid?

Sejak dikenalkan oleh para instruktur di PKP NU syair "Ya Lal Wathan" langsung mendapat tempat di hati para pegiat organisasi Aswaja. Syair ini diijazahkan oleh Kyai Maimoen Zubair dari Kyai Wahab Hasbullah yang dikarang pada 1912.


Hampir setiap acara di lingkungan Nadliyin syair ini selalu menjadi pembuka pertemuan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya (Madura, Indonesia Rajeh)

Jika dikumandangkan di gedung, lapangan, jalan dan sebagainya maka tidak masalah. Perdebatan di lingkungan para santri adalah saat syair tersebut digelorakan di masjid (saya tidak membahas syair ini saat ada kejadian di tempat Sa'i beberapa waktu lalu). 


Kalau soal bacaan Shalawat dengan terbangan di masjid juga tidak ada masalah diantara para kyai dan santri. (http://www.hujjahnu.com/2017/04/hukum-menabuh-rebana-terbangan-di-masjid.html)

Pro dan Kontra Prihal "Ya Lal Wathan"

Seperti pada perdebatan umumnya, kedua pihak yang pro maupun kontra sudah terlalu berlebih-lebihan. Bagi yang tidak sependapat, syair itu dianggap menyalahi subtansi cinta tanah air karena hadisnya palsu. 

Bagi yang membela menilai itu bukan syair biasa, karena dirangkai oleh seorang ulama dengan riyadlah dan sebagainya.

Maka perlu kita kembalikan secara proporsional dalam pandangan ulama kita. Syair yang dikarang oleh Muassis NU tersebut memenuhi kriteria menurut ulama kita:

قال عياض في الإكمال: صفة الغناء الذي من غير خلاف، ما كان من أشعار العرب للتهييج على فعل الكرم، والمفاخرة بالشجاعة والغلبة، والمحرم ما كان مشوقا لفعل الفواحش، ومشتملا على تكسر، أو فعل شيء مما لا يحل . اهـ.
(Qadli) Iyad berkata dalam Al-Ikmal: "Bentuk nyanyian yang boleh tanpa perbedaan pendapat adalah berupa syair Arab untuk mendorong berbuat kemuliaan, menggelorakan keberanian dan kemenangan. Sementara nyanyian yang haram adalah sesuatu yang mengarahkan pada perbuatan tercela, ada unsur goyangan, atau melakukan hal-hal yang dilarang

(http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=354175)

Secara dalil kita juga menemukan riwayat berikut:

ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﺳﻤﺮﺓ، ﻗﺎﻝ: " ﺷﻬﺪﺕ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺮﺓ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻳﺘﺬاﻛﺮﻭﻥ اﻟﺸﻌﺮ، ﻭﺃﺷﻴﺎء ﻣﻦ ﺃﻣﺮ اﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ، ﻓﺮﺑﻤﺎ ﺗﺒﺴﻢ ﻣﻌﻬﻢ "
Dari Jabir bin Samurah bahwa: "Saya menyaksikan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam lebih dari 100 kali di masjid, sedangkan para Sahabat melantunkan syair dan menyebut beberapa hal tentang urusan di masa Jahiliah, terkadang beliau tersenyum bersama mereka" (HR Ahmad)

Jika ditarik satu benang merah dari uraian di atas maka melantunkan syair "Ya Lal Wathan" di masjid boleh-boleh saja. Asalkan 

  1. tidak mengganggu orang shalat, misalnya dilakukan setelah shalat Isyak atau pagi jam 8 sampai sebelum Dzuhur, 
  2. tidak menggunakan alat musik yang menurut ulama kita masuk kategori yang tidak boleh.

Kenyataan Yang Ada

Realitas yang kadang kita temui saat para pemuda organisatoris melantunkan syair "Ya Lal Wathan" di masjid rasanya kurang mantap kalau tidak disertai suara musik baik MP3 atau MP4 yang ditayangkan melalui proyektor. 

Maka saya berusaha untuk menghindari hal itu semampu saya. Dan cukup melantunkan syair saja tanpa disertai musik karena untuk kehati-hatian dalam menjaga kemuliaan Masjid.

Ma'ruf Khozin, Anggota PKP NU angkatan 8 di Rengasdengklok, Karawang Jawa Barat.

Silahkan isi komentar yang sopan, dan sesuai dengan konten, dan jangan menyisipkan link aktif maupun non aktif.
EmoticonEmoticon